Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 26: DIA


__ADS_3

"Ka! Biarkan saja, duduklah. Bagaimana pekerjaannya?" tanya wanita yang tersenyum tipis duduk di sofa single dengan memangku laptop.


"Semua pekerjaan baik, tapi aku punya berita baru. Ntah ini berita baik atau buruk untuk kita semua." Ucap pria yang baru datang, lalu duduk di sebelah sang istri.


"Hubby, kenapa wajahmu begitu tegang? Sebenarnya ada apa?" tanya sang istri seraya memberikan secangkir kopi dari atas meja.


"Dia mulai sadar." Ucap Sang Suami, membuat semua orang yang berada di tempat itu terdiam dan menatapnya serius, "Tadi dokter mengabarkan jarinya mulai bergerak memberikan respon setelah sekian tahun."


Laptop ditutup, lalu diletakkan ke atas meja. Tatapan matanya sangat tenang, tetapi menyimpan banyak luka. Meskipun usapan lengan sedikit mengurangi rasa sesak di dada. Tetap saja tidak mengubah gemuruh rindu, dan penyesalan di hati wanita anggun yang terdiam dengan tatapan mata redup.


"Calm down, Periku." Pria di sebelah wanita anggun berusaha memberikan kekuatan dengan caranya selama ini, "Mau ku antar kesana?"


"I think, not now. Rose, still needs me. (Aku pikir, tidak sekarang. Rose, masih membutuhkan diriku.)" Jawab Asfa menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menetralkan perasaan di hatinya.


Semua yang ada di ruangan itu tak ingin mengeluh. Apalagi memaksakan Asfa mengambil keputusan terburu-buru. Dia yang selama bertahun-tahun terbaring koma. Tiba-tiba saja mulai merespon setelah menjalani semua perawatan di mansion yang tersembunyi dari dunia.

__ADS_1


"Aku ingin istirahat. Permisi." Ucap Asfa memilih meninggalkan ruang keluarga.


Vans yang melihat itu, tetap diam di tempat. Ia tahu saat ini perinya memerlukan waktu sendiri untuk tenang, dan meredakan emosi yang pasti menyiksa batin.


"Apa di antara kita, tidak satupun bisa membujuk queen? Aku tidak tega melihat duka di setiap saat ketika berita tentang dia datang menghampiri." Varo memijat pangkal hidung karena rasa pusing melanda kepalanya.


Tuan Luxifer bangun dari tempatnya duduk, tetapi sebelum melangkah suara menantunya menghentikan langkah kaki seorang ayah.


"Pa, biarkan Asfa sendiri. Saat ini hanya satu orang yang bisa memberikan kebahagiaan dan menerbitkan senyuman manisnya." cegah Vans.


Tatapan mata Tuan Luxifer, Vans, Varo dan Rania hanya terpusat pada Rose dan prince chubby yang kini sudah berdiri di hadapan mereka. Sementara yang ditatap masih sibuk menyuapi ice cream coklat ke bibir mungil yang selalu saja mengoceh tanpa henti.


"Onty, diliatin semua olang." ucap Prince chubby berhasil mengalihkan perhatian Rose.


"Kakek, Papa, Ayah, Bunda. Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" tanya Rose menatap anggota keluarganya satu persatu.

__ADS_1


"Prince, kemari! Ayo, makan ice cream bareng bunda." ajak Rania dengan lambaian tangan, tapi balita itu menggelengkan kepala.


"Rose, mommy tengah sedih karena sesuatu. Boleh, papa minta tolong untuk hibur mommy mu?" Vans memintanya dengan tenang tanpa memperlihatkan rasa khawatir berlebihan.


Rose menatap setiap anggota keluarga dengan tatapan intimidasi. Tetapi tak ada wajah cemas berlebihan dari keluarganya. Itu berarti masalah masih belum serius, dan setelah mengamati, ternyata mommy tidak lagi berkumpul bersama keluarga. Ntah kenapa ada rasa takut, hingga tatapan mata teralihkan ke lantai atas dimana kamar sang mommy berada. Namun, tarikan tangan mungil mengalihkan perhatiannya.


"Onty, mommy mana?" tanya Prince chubby.


Rose tersenyum dengan ide cemerlang yang baru saja terlintas di kepalanya. "Prince chubby mau coklat dari kamar mommy?"


Seperti magic, kata coklat mampu mengubah ekspresi imut prince chubby semakin menggemaskan dengan tatapan mendamba. Siapa yang tidak ngiler mendengar coklat. Apalagi coklat yang tersimpan di lemari pendingin kamar mommy adalah coklat terbaik dari berbagai belahan dunia. Coklat yang biasa dijadikan sebagai hadiah di setiap keberhasilan kecil kedua anggota termuda keluarga Phoenix.


"Rose, apa yang kamu pikirkan?" tanya Rania.


Rose mengedipkan mata kanannya dengan senyum tipis. Hal itu mengingatkan semua orang akan satu kebiasaan Asfa yang selalu misterius. Namun, memiliki sisi nakal disaat memiliki sebuah rencana dadakan.

__ADS_1


"I will do something."


__ADS_2