
Vans menghela nafas panjang. Sesaat ia tenggelam dalam rasa takut hingga menyadari, bahwa rasa takutnya, tidak sebesar ketegaran hati sang istri. Bagaimana seorang ibu mengalah, melepaskan ego dan gengsi. Semua demi masa depan. Sadar ketika hari esok tidak seharusnya memiliki kasus yang sama.
Semua orang mungkin akan memilih menutup mata sembari menghalau suara yang bisa menjadi penyebab kekacauan dalam hidup. Namun, Asfa tetap berjuang menghantarkan kebenaran. Meski untuk satu mengakhiri fase kehidupan tersebut harus melihat putri tunggalnya. Rose.
Meninggalkan ruangan operator, setiap anggota telah mencapai sebuah ruangan yang hanya berdinding biru dengan sinar terang dari atap langit. Di tengah ruangan itu ada meja berukuran satu meter kali dua meter, dan anehnya. Kenapa jumlah kursi menyesuaikan jumlah anggota yang masuk ke setiap ruangan.
Mereka bilang ini permainan truth or dare, tapi tidak ada yang terjadi. Tiba-tiba, lampu seluruh ruangan padam, lalu berganti kemunculan sebuah layar virtual yang ada di depan para anggota dari dinding sisi utara. Dari layar virtual nampak jelas, keberadaan setiap anggota. Namun, apa maksud dari semua itu? Mereka saling pandang dengan wajah bingung.
"Selamat malam, Guys." Suara menggelegar kembali menemani petualangan para anggota, "Welcome back to Samsul. Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa alur dari permainan tidak jelas. Iya 'kan? Pasti iya."
"Sebelum memulai permainan. Dengarkan peraturan kali ini," Samsul membuka gulungan kertas miliknya yang merupakan syarat dan ketentuan dari truth or dare. "Peraturan hanya ada tiga. Peraturan pertama, tidak peduli apapun hasil dari pilihan partner kalian. Maka, setiap anggota wajib melaksanakan tanpa keraguan."
"Peraturan kedua, setiap anggota hanya memiliki satu permintaan untuk melemparkan misi kepada anggota lain. Hanya sekali, ingat! Peraturan ketika, akhir dari permainan tergantung langkah kalian. Clue pertama adalah enjoy and be careful with games."
Tidak ada yang aneh dengan syarat dan ketentuan, tetapi Rose bisa merasakan adanya ancaman dari jalan yang akan dilaluinya. Entah kenapa, ia merasa ini bukan permainan biasa, bahkan tidak akan memungkiri jika ada pertumpahan darah. Sesaat ia teringat akan salah satu klausul dalam surat perjanjian.
__ADS_1
"Hey, apa kita bisa mengakses internet?" tanya Rose pada rekan bisnisnya, tetapi yang ditanya hanya mengedikan bahu. Sontak saja, ia mengambil ponsel dari saku jaketnya. "No signal, how?"
Semua tidak akan mendapatkan sinyal. Ruangan yang dibangun khusus untuk mengantisipasi gangguan. Dimana semua komunikasi hanya bisa menggunakan beberapa elektronik yang sudah dimodifikasi oleh sang perancang. Bukan hal yang biasa lagi bagi seorang Rose. Namun, ia tak bisa berbuat apapun.
Tidak ada peralatan yang akan membantunya mengubah situasi berbalik untuk menjadi seorang pengamat. Semua kesimpulan yang terus datang silih berganti, membuat gadis itu tidak menyimak ucapan Samsul yang masih berkicau seperti burung beo. Tidak ada spasi, apalagi tanda berhenti.
Lima belas menit berlalu, meja yang dipikir hanya meja biasa. Tiba-tiba bergerak menjadi terpisah dengan roda yang berputar di dalamnya. Meja itu terbelah menjadi lubang yang mengeluarkan sebuah papan bidak seperti catur. Akan tetapi, bidak yang terlihat berupa patung yang memiliki wajah setiap anggota permainan.
Unik dan mengagumkan. Satu persatu anggota mulai menempati kursi masing-masing dan menatap bidak catur yang terlihat sangat nyata dan hidup. Dari ke empat arah mata angin, tepatnya di pinggir papan itu terdapat tulisan truth or dare yang menyatu dengan tanda panas.
Samsul kembali menjelaskan apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan menjadi akhirnya. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, tetapi itu bagian dari tugasnya sebagai pemandu acara. Termasuk mengatakan jika apapun yang di dapat dan siapa yang yang harus menerima tantangan. Maka orang itu akan mendapatkan apapun yang dibutuhkan.
Misal, tantangan yang didapat adalah melukis seribu candi hanya dalam hitungan sepuluh menit. Maka, alat lukis akan siap dan muncul ke dalam ruangan yang tepat tanpa ada kesalahan. Maka, tidak akan ada yang namanya kecurangan. Permainan tidak akan dilanjutkan, jika misi belum dijalankan.
Tidak ada yang ekstrim. Hanya saja mereka semua harus bersiap segala sesuatunya. Setelah berbicara panjang kali lebar. Akhirnya semua akan dimulai. Samsul memainkan sebuah musik yang hanya terdengar seperti instrumental musik piano. Nada sebuah lagu yang membuat para bidak mulai bergerak dengan sendirinya.
__ADS_1
Alunan nada dengan ritme yang pelan, lalu perlahan semakin cepat hingga terhenti begitu saja. Kemudian para bidak ikut berhenti, "Tuan terhormat, Dokter Vincent. Apakah pilihan Anda? Ingin melemparkan permainan atau menjadi misi milik Anda sendiri?"
Bidak dengan jas putih, tetapi tangan kanannya memegang belati yang tajam dengan warna darah. Terkesan seperti dokter pembunuh. Bagaimanapun wujud bidak itu. Sang dokter tidak merasa keberatan karena untuk pertama kalinya. Ia menghargai seni yang tinggi. Bidak itu benar-benar mirip dengannya.
"Aku ambil misinya." Ucap tegas Dokter Vincent, membuat semua wajah anggota menegang. "Tenang, ini hanya permainan. Tidak akan terjadi apapun."
Sangat percaya diri, bahkan terlalu sombong. Meski sikap itu, menjadi semangat untuk yang lain. Bukan berarti semua terlihat baik-baik saja. Nyatanya hanya akan menunggu waktu, hingga matanya melihat isi dari misi yang harus diselesaikan. Diambilnya bidak dan sebuah gulungan kertas keluar menyembul.
Gulungan yang sama, tetapi kali ini tidak memiliki pita sebagai pengikat. Senyum yang tersungging, perlahan memudar. Ketika tangannya membuka gulungan kertas yang ia ambil dari samping bidaknya, bahkan bidak itu sendiri langsung kembali menutup lubang tanpa misi.
"Dokter Vincent! Bisa bacakan misi Anda? Kami ingin mendengar dan memastikan, bahwa Anda tidak melakukan kecurangan." sindir Samsul menghentakkan kesadaran si dokter yang tak sanggup untuk mengucapkan kalimat yang ada di atas kertas gulungan misi.
Melihat diamnya sang dokter, Samsul memulai hitungan mundur. Sesuatu harus dilakukan agar para anggota sadar, jika permainan kali ini. Taruhannya bukan hanya emosi, tetapi juga nyawa masing-masing. Tangannya sudah bersiap menekan satu tombol kuning dengan simbol petir.
Tombol itu terhubung dengan semua kursi para anggota permainan. Semua yang menjadi peralatan pendukung untuk memenuhi syarat dari kelayakan. Termasuk alat kejut untuk memberikan efek jera. Tangannya hampir saja menekan tombol kuning dan nomor kursi sesuai yang tertulis dinawah bangku.
__ADS_1
"Truth, sebutkan dua kejahatan terbesar dalam hidupmu. Or dare, ungkapkan aib dari orang terdekatmu. Satu di antara pilihan adalah milikmu." ucap Dokter Vincent ragu, disambut tepuk tangan gembira dari Samsul.