
Bagaimana bisa memilih. Baik truth or dare. Keduanya tidak bisa di pilih, tapi apapun yang terjadi harus memilih karena peraturan sudah jelas. Apakah kesempatan sekali untuk melempar misi harus dilakukan sekarang juga? Bingung berselimut gundah gulana. Sejenak berpikir apa yang harus dipilihnya.
"Aku memilih truth." Jawab Dokter Vincent dengan helaan nafas berat, tak ada pilihan lain dan tidak ingin menyia-nyiakan hal yang mungkin akan terjadi dalam sekali seumur hidup. "Kejahatan pertama yang dilakukan olehku, ketika membiarkan pasien pertama mati dengan alat kejut jantung, tetapi mengatakan pada keluarga pasien bahwa ayah mereka mati karena ketergantungan obat."
Siapapun yang mendengar pasti terkejut. Seorang dokter memiliki tugas untuk menyelamatkan, tapi justru menjadi malaikat maut. Tidak akan ada yang menyangka. Meski kenyataan itu tertutup dibalik tabir kepalsuan. Tetap saja, nama Dokter Vincent tetap terkenal dari kalangan para dokter yang merajalela.
Namun, apa itu artinya? Kepercayaan masyarakat yang menjadi pasien, tidak ada artinya? Meski begitu, bukan berarti ini menjadi identitas para dokter. Hanya segelintir dan tidak menyeluruh. Pada dasarnya, profesi apapun yang orang miliki. Mereka terikat dengan sistem yang ada. Jika terjadi pelanggaran. Tentu di luar batas kesadaran umum.
Biasanya permainan di balik layar, tidak ada yang akan menyadari. Maka dari itu, di kalangan masyarakat biasa. Akan menjadi keterkejutan, ketika satu topik yang menggemparkan terkuat ke khalayak umum. Seperti pengakuan dari dokter Vincent. Tanpa pria itu sadari, jika kejujurannya menjadi bukti nyata.
__ADS_1
"Kejahatanku yang kedua adalah memisahkan putriku dari ibunya sendiri." Tatapan mata nanar dengan suara serak bergetar, kini tidak ada lagi yang harus di rahasiakan.
Sebanyak apapun dosa yang ia pikul. Nyatanya penyebab kerasnya hati hanya ada dua. Kehidupan yang sulit bagaikan berjalan di atas bara api dan menjadi seorang dokter hanya untuk memenuhi hasrat kekuasaan. Bagi dia uang bukan segalanya, tapi tanpa uang. Putri tercinta bisa pergi dari kehidupan yang begitu tak berarti.
Dari semua anggota acara truth or dare. Hanya Della yang paling terluka. Tak pernah menyangka, jika papanya penyebab sang ibu meninggal. Kini sebuah pertanyaan datang menghampiri mengetuk pikirannya. Apakah benar, ibunya sudah tiada atau malah hidup di luar sana.
Jangankan untuk mengutarakan pertanyaan itu. Bibirnya bahkan kelu untuk digerakkan hingga usapan tangan terasa menghangatkan. Sekilas lirikan mata menangkap bayangan Prita yang menatap ke arahnya dengan prihatin. Apa dia pantas dikasihani?
Mengikuti aturan main. Maka akan selamat sampai tujuan. Satu terlewati dengan baik, ketegangan berubah menjadi rasa was-was. Siapa yang tidak takut dan gelisah. Jika topeng mereka siap dilepaskan oleh satu permainan saja. Dokter Vincent menekan tombol hitam. Dimana tombol itu menonaktifkan kerja dari sengatan listrik yang bisa mengejutkan.
__ADS_1
"Next, apa ada yang mau menjadi peserta berikutnya?" Samsul bertanya tanpa sungkan, dilihatnya setiap layar virtual yang menampakkan seluruh wajah anggota. Meski beberapa dari mereka mengenakan topeng, tetap saja identitas dengan mudah diketahui karena dari tempatnya terlihat tulisan nama virtual dari setiap pemain.
Tiba-tiba, Prita mengangkat tangan kanannya. Entah kenapa, tapi gadis itu seperti tak sabaran. Apa mungkin mengajukan diri hanya untuk mengulur waktu? Semua hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekali lagi papan catur bergerak mengikuti ritme nada instrumen piano.
Bidak berhenti bersama suara musik yang menghilang meninggalkan kesenyapan malam. Lalu bergeser, hingga gulungan kertas dari bawah bidak muncul. Kemudian diambil dan tanpa menunggu aba-aba dibuka. Kali ini, tidak ada reaksi yang bisa nampak karena wajah gadis itu tertutup topeng.
Namun, tanpa kata. Gulungan kertas yang terbuka di arahkan ke atas, membuat Samsul melihat isi misi dari gadis itu. "Truth, sebutkan satu nama yang menjadi alasan keterpurukan dalam hidupmu. Or dare, tampar sang perusuh saat ini juga."
Terdengar aneh. Apakah setiap misi sudah diatur sedemikian rupa? Kenapa terkesan menyudutkan, bahkan sangat tepat sasaran. Pemikiran yang sama sekan disepakati oleh semua orang. Tidak ada yang berbahaya, tapi kebenaran yang terungkap sudah cukup menjadi pisau tajam.
__ADS_1
Truth or dare. Keduanya sama menuju satu tujuan. Tidak ada yang akan berubah. Jika menyebut nama. Pasti hanya akan ada umpatan, tapi jika bertindak. Tentu akan berbeda hasilnya. Satu kesempatan, apa harus disia-siakan? Tidak. Ini waktunya bertindak.
"Aku pilih dare." Putus Prita tanpa rasa gentar, membuat Samsul bersiul terpesona.