Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 46: HASIL PEMILIHAN SENAT PERIODE I


__ADS_3

"Oke, lanjutkan! Aku harus kembali ke tempat selanjutnya dan kamu pastikan semua berjalan lancar. Ingat pekerjaan kita adalah untuk menjaga segalanya tetap baik. Orang yang baru datang itu, meninggalkan si pengawas, sedangkan si pengawas masih stay di tempat persembunyian. Meskipun, ia harus menikmati panasnya terik matahari saat ini.


Para mahasiswa mulai memasukkan voting masing-masing yang berupa kertas lipat ke kotak yang sudah tersedia. Ada sekitar lima kotak di depan podium. Dimana para kandidat senat masih merasa was-was siapa yang akan masuk ke tahap babak selanjutnya.


Para senat yang saat ini memang masih memiliki jabatan. Mulai melakukan perhitungan dan membutuhkan waktu cukup lama karena banyak mahasiswa yang ada di kampus itu. Setelah satu jam setengah berlalu. Akhirnya para senat keluar dari ruangan pemungutan suara. Dimana hasil total dari pemungutan kali ini, sudah ada di genggaman tangan ketua senat. Kemudian, kertas yang berisi hasil pemilihan diserahkan pada Rektor Wisnu.


Rektor Wisnu menerimanya dengan senang hati, tapi di saat ia ingin mencoba menukar hasil laporan. Justru ada tangan yang mencekal tangannya. "Apa yang akan Anda perbuat? Silahkan maju dan umumkan hasilnya. Jangan berbuat hal yang curang dan tidak adil. Bukankah, Anda sudah dewasa."


Sindiran pedas itu benar-benar menyentil hati Rektor Wisnu. Bagaimana dia akan membuat semuanya, seperti yang dia inginkan. Jika tindakan saja ternyata sudah diawasi oleh dosen baru, yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.


Huft, orang ini datang dari mana? Kok bisa-bisanya muncul begitu saja seperti setan. S!al, sekarang semuanya jadi berantakan dan mau, tidak mau. Aku harus mengumumkan sesuai hasil pemungutan suara.~batin Rektor Wisnu dengan kesal menahan amarahnya.


Rektor Wisnu meninggalkan tempat duduknya seraya membawa selembar amplop yang memang masih tersegel. Pria itu berjalan menuju podium, untuk memberikan hasil pengumuman pemungutan suara. Para mahasiswa setia menunggu dan suasana kembali tegang. Wajah-wajah para mahasiswa begitu antusias dan ingin segera mendengar, siapa yang menjadi perwakilan masing-masing.

__ADS_1


Namun, meskipun begitu hari ini adalah pemungutan suara pertama. Jadi masih harus ada pemilihan suara terakhir. Di mana menentukan kandidat tiga besar, yang akan menjadi Ketua Senat, wakil ketua senat dan juga sekretarisnya.


"Selamat siang, Anak-anak. Hasil pengumuman sudah ada di tangan Bapak. Siapapun yang menjadi pilihan kalian. Bapak harap, kita bisa menerima dengan lapang dada. Setelah tiga suara yang paling banyak terpilih. Maka sesi pemilihan akan memasuki tahap akhir. Di mana para kandidat senat akan melakukan beberapa hal untuk membanggakan sekolah ini."


"Setelah ini, akan diadakan beberapa kompetisi yang memang diwajibkan untuk diikuti para calon kandidat senat ketiga besar. Jika diantara ketiga kandidat tidak bisa mengikuti serangkaian acara pemilihan. Maka dengan cara terhormat, kami para dosen memutuskan untuk mengeliminasi tanpa memberikan keringanan apapun."


"Baiklah, Saya akan buka hasil pemungutan suara dan akan saya umumkan. Siapa saja yang menjadi tiga besar dalam pemilihan senat periode pertama." Rektor Wisnu membuka amplop, lalu ia melihat siapa yang ada di daftar itu, "Kandidat di urutan ketiga adalah Pangestu Mahardika dari kelas 2B sastra Inggris. Kandidat kedua adalah Rose Qiara Salsabila dari kelas 1A arsitek dan kandidat nomor pertama adalah Sarah Atmaja dari kelas 1A arsitek."


"Selamat untuk para kandidat senat yang terpilih. Saya selaku Rektor pimpinan mengucapkan terima kasih. Atas partisipasi semua mahasiswa yang memberikan dukungan untuk para calon senat dan dengan demikian. Acara hari ini berakhir. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. Satu lagi, untuk kelas hari ini ditiadakan. Kalian semua bisa kembali ke rumah masing-masing. Selamat siang anak-anak."


Para kandidat calon senat yang tidak terpilih pun, juga ikut membubarkan diri. Akan tetapi, setelah beberapa saat. Semua orang yang membubarkan diri, tetap masih menyisakan beberapa orang yang berdiri di lapangan itu dengan tatapan saling menatap satu sama lain.


Rose Qiara Salsabila masih berada di tempat itu, bersama Sarah Atmaja,Rizwan dan juga Prita. Begitu juga dengan Della yang baru saja datang setelah menyelesaikan tugasnya. Pertemuan itu, seperti momen yang terlihat cukup menegangkan. Namun, tidak begitu lama karena akhirnya, Rose memilih meninggalkan tempat itu dengan langkah yang pasti.

__ADS_1


Tiba-tiba suara teriakan Sarah menghentikan langkahnya.


"Hai, Cupu. Berhenti di situ!" teriak Sarah tak ingin menahan lagi, apa yang kini ia rasakan di dalam hati. Rasa kesal dan geram akan pemilihan yang seharusnya tak pernah ada Rose.


Rose tak menggubris apa yang diucapkan oleh Sarah. Apapun yang gadis itu katakan. Dirinya tak ingin ambil pusing karena saat ini ia masih memiliki tugas jauh lebih penting. Tugas itu untuk menyelesaikan apa yang sudah direncanakan di dalam pikiran. Tentu hanya ada tentang sang sahabat, yang harus segera mendapatkan keadilan. Cukup itu saja, tidak ada yang lain.


"Sar, udah deh. Nggak usah diperbesar soal masalah itu," Della menahan temannya untuk tidak bertindak gegabah, tapi Sarah justru menatap gadis rambut sebahu itu tajam.


"Jika, kalian tidak punya pekerjaan. Cari saja pekerjaan! Aku tidak peduli, dengan apa yang kalian pikirkan atau apa yang ingin kalian lakukan. So, jangan ganggu aku." Rose pergi meninggalkan lapangan, gadis itu tidak ingin lagi memperdebatkan hal yang tidak penting. Apalagi menambah emosi hanya karena hal sepele.


Prita hanya terdiam melihat semua yang terjadi di depan mata. Gadis itu berpikir. Jika Rose memang berbeda dan terlihat jauh lebih tegas dengan pemikiran yang jelas lebih tajam. Akan tetapi, kenapa ia harus melakukan sesuatu dan masih berhubungan dengan mantan gadis cupu?


Apapun yang terjadi. Aku siap melakukan demi kakakku. Semua akan selalu seperti itu. ~batin Prita.

__ADS_1


Sementara Riswan tak ingin berkomentar. Pria itu, justru memilih berjalan mendekat ke arah Sarah. Dimana kekasihnya terlihat sangat kesal dan penuh amarah. "Sayang, kamu kenapa?"


"Aku, nggak kenapa-napa. Bagaimana keadaan ibu kamu? Apa sudah membaik." Tanya balik Sarah, yang tak ingin menunjukkan sisi amarahnya pada sang kekasih.


__ADS_2