
"Aku harus bertindak. Baik Rose setuju ataupun tidak, akan ku pastikan dua puluh empat jam kedepan. Semua yang terjadi di dalam Regal Academy terungkap jelas," kata Asfa bermonolog pada dirinya sendiri.
Keputusan final telah dibuat Asfa. Padahal sebelumnya ia masih ingin memberikan putrinya kesempatan untuk berjuang tanpa bantuan apapun darinya. Tetapi melihat kondisi kesehatan sang putri menurun. Maka tidak bisa dibiarkan lagi permasalahan bergulir seperti bola pingpong. Ibu mana yang tega melihat kesusahan seorang anak yang selama sembilan bulan dalam kandungan?
Sejenak tatapan matanya teralihkan, menatap dengan mata terpejam yang terbaring di atas brankar. Siapa lagi jika bukan Rose putrinya yang sengaja diberikan serum obat merah delima demi mengembalikan stamina. Hari ini perawatan di lakukan tanpa harus melakukan latihan fisik apapun. Serum yang menjadi obat kekebalan tubuh akan memperbaiki kesehatan secara berkala.
"Setiap kali menatapmu, rasanya dunia ini penuh warna. Mommy berharap, apapun yang terjadi nanti. Kepercayaan di antara ibu dan anak tidak tergoyahkan. Maafkan mommy, nak," gumam Asfa memikirkan segala kemungkinan di masa yang akan datang.
Benda pipih yang tergeletak di atas meja ia raih, lalu sesaat berselancar mengetik sesuatu yang langsung terkirim pada seseorang. Pesan singkat dengan perintah darurat. Kini ia bisa sejenak beristirahat. Pikiran dan hatinya terlalu lelah dan memerlukan ketenangan. Sementara ditempat lain. Dua pria dengan mobil jeep tengah menikmati laju kendaraan sembari saling salip menyalip.
Tujuan keduanya adalah danau di tengah hutan. Perjalanan dengan kecepatan yang di atas rata-rata, membuat kedua mobil jeep itu secepat kilat mencapai rerumputan hijau dengan luas yang cukup bisa dijadikan sebagai tempat perkemahan. Pepohonan rindang terlihat berdiri kokoh berjejer dengan dedaunan yang berwarna segar.
__ADS_1
Mobil jeep hitam mencapai tepi danau, disusul dengan mobil jeep putih. Acungan jempol pria pertama, di sambut senyuman puas pria kedua. Keduanya melompat dari mobil, tak lupa mengambil perlengkapan piknik yang sudah disiapkan. Sebuah tikar digelar, dan beberapa cemilan serta minuman bersoda disajikan.
"Bro, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Varo dengan mengulurkan soda yang baru saja ia buka.
Vans menerima soda itu, lalu meneguk beberapa kali agar rasa hausnya terpenuhi. Tatapan mata tertuju pada kilauan air danau yang terkena pantulan sinar matahari. Sungguh pemandangan yang memberikan kedamaiannya. Tempat yang bagus untuk menikmati waktu bersama keluarga besar.
"Vans!" panggil Varo membuyarkan lamunan sang adik ipar.
Selembar foto yang terlipat dikeluarkan dari saku Vans. Foto itu ia serahkan pada Varo untuk di lihat. Di saat sang kakak ipar membuka fotonya. Jelas pria itu terkejut dengan apa yang ada di genggaman tangannya.
"Foto Abhi, tapi kurasa Rose masih belum melihat foto itu karena semalam terlanjur demam," jelas Vans kembali menghela nafas.
__ADS_1
Sepertinya hanya helaan nafas yang bisa melepaskan beban hati pria itu, bagaimanapun ia juga manusia biasa. Terkadang merasakan namanya takut kehilangan. Terlebih cintanya pada Rose memang murni cinta seorang ayah. Varo yang melihat kegalauan luar biasa sang adik ipar ikut menghela nafas.
Tepukan di pundak ia lakukan agar pria yang selalu menjadi pelindung dan sandaran hidup adiknya itu tetap tegar menghadapi semua yang akan terjadi. Termasuk, jika kembalinya Abhi akan membuat Rose berbagi kasih dua ayah sekaligus.
"Apapun yang terjadi nanti. Aku akan selalu menjadi kakakmu, bukan karena kamu sudah menikah dengan Asfa. Tetapi karena kamu alasan keluarga kami bersatu kembali," kata Varo meyakinkan Vans.
"Makasih, Ka Varo. Aku tahu keluarga kita hebat karena selalu saling mendukung satu sama lain. Babak kehidupan pertama sudah kita lalui penuh perjuangan. Semoga kita tetap bersatu untuk menjaga satu sama lain," balas Vans dengan menyemangati dirinya sendiri bersama sang kakak ipar.
Obrolan sesama pria yang berakhir dengan pemberian semangat baru. Yah begitulah cara keluarga Phoenix menyelesaikan beban hati dan pikiran. Saling bertukar pikiran, perasaan dan pendapat. Hanya satu yang selalu suka memendam segalanya seorang sendiri yaitu Asfa. Meninggalkan percakapan kedua pria itu, kehebohan terjadi di tempat lain.
Orang-orang berlarian ke sana kemari. Setelah ada bunyi ledakan yang cukup kencang hingga membuat telinga berdengung. Situasi semakin kacau, ketika beberapa korban menjerit kesakitan. Mobil polisi yang baru saja tiba mulai mengeksekusi area tempat kejadian perkara, sedangkan ambulans membawa beberapa pasien yang terlihat luka parah.
__ADS_1
"Selamat pagi, apa nona pemilik cafe ini?" tanya seorang petugas yang menghampiri seorang wanita tengah duduk bersimpuh di depan kekacauan cafe.