
Si gadis bermata biru hanya mengedikkan bahu. Mau bilang apa? Dia saja tidak begitu up to date akan semua peristiwa yang terjadi di Regal Academy. Namun, satu yang diyakini. Pasti ada yang tidak beres.
Tanpa Rose sadari. Pemuda yang kemarin malam bersamanya dalam keadaan sekarat adalah Pangestu Mahardika. Yah, pemuda itu menjadi korban dalam persekutuan yang tidak bisa dijelaskan oleh mommynya.
Terlalu khawatir dengan keadaan sang mommy hingga melupakan tentang pasien yang dibawa bersama mereka. Kini berita hanya simpang siur tanpa kebenaran, namun di tempat lain. Tepatnya di rumah sakit utama. Justin baru selesai memeriksa pasien atas perintah Queen.
Pria itu mendengarkan dengan serius laporan dari dokter yang menangani Pangestu. Dimana dokter mengatakan, kondisi pasien mengalami luka pendarahan otak dengan kerusakan tempurung lutut. Kemungkinan untuk berjalan hanya dua puluh lima persen kecuali melakukan operasi pergantian besi sebagai tempurung lututnya.
Dokter juga menjelaskan akan kondisi syaraf yang bisa saja terganggu ketika pasien sadar kembali. Semua itu terjadi karena benturan benda tumpul dan juga akibat dari hantaman benda yang bisa menyebabkan kerusakan permanen. Mungkin saja pasien dianiaya menggunakan palu.
Justin mengibaskan tangan, membiarkan sang dokter kembali bekerja. Lalu mengambil ponsel dari saku celana, kemudian mendial nomor queen. Tentu ia harus segera melaporkan semua yang terjadi di rumah sakit. Terutama kabar dari pasien. Semua penjelasan dokter, tidak satupun tertinggal dari laporannya.
"Queen, apakah tidak sebaiknya hentikan semua ini. Sekarang juga?" Justin mencoba memperingatkan, sebagai kakak tentunya tak ingin melihat adiknya terluka. "Demi Rose, demi seluruh keluarga. Bertindaklah secepat mungkin. Semua sudah melewati batasnya."
Suara helaan nafas terdengar begitu berat dari seberang. Pasti berat memutuskan hal yang tidak seharusnya ikut campur. Akan tetapi, jika tidak bertindak. Sudah pasti banyak penciptaan monster kecil yang bisa memporak porandakan sistem alam.
Dia memang queen, tetapi bukan dewi penolong. Banyak masalah di dunia gelapnya dan banyak urusan perusahaan yang harus ditangani. Lalu, kenpa masalah dari kampus semakin melebar ke mana-mana. Benar yang dikatakan Justin. Semua sudah melewati batas. Sudah waktunya untuk bertindak.
\[*Kumpulkan semua pemimpin dari semua divisi. Aku tunggu satu jam dari sekarang!\]~ jawab Asfa, kemudian mematikan sambungan telepon*.
Keputusan yang harus segera diputuskan. Sebelum semua menjadi tidak terkendali. Sudah waktunya untuk menyelesaikan babak dari ketidakbenaran. Hanya saja, bagaimana caranya menjelaskan pada Rose? Jika dirinya harus turun tangan dan tidak bisa menunggu waktu lagi.
Apakah harus memberitahu, jika kasus Nara bukan satu-satunya. Sebagai pemilik yayasan. Dia juga andil atas semua yang terjadi di dalam universitas Regal Academy. Yah, bagaimanapun karena ia lalai mempercayakan kampus itu pada orang-orangnya.
Rasanya tidak bisa lagi berkutik. Dunia yang penuh ketenangan, tiba-tiba saja dipenuhi masalah yang menerjang bersama angin topan. Selain bertahan dan menunggu waktu berperang. Ia harus memikirkan segala sesuatunya demi kebaikan bersama.
__ADS_1
Seluruh ketegangan perlahan surut ketika merasakan ada tangan yang melingkari perutnya. Aroma maskulin dengan tetesan rambut basah yang mengusel menelusup bersembunyi mengecup lehernya.
"Ka, hati-hati. Tempatmu memegangku ada luka yang baru." Ucap Asfa menghentikan peluk manja suaminya.
Vans melepaskan kedua tangannya, lalu membalikkan tubuh sang istri. Tanpa permisi menyingkap gaun tipis yang membalut menutupi tubuh wanitanya. Sekali sibak menampilkan perban yang melingkari perut. Warna merah darah nampak begitu jelas.
"Bagaimana bisa terluka seperti ini?" Vans bertanya dengan suara gemetar.
Luka memang sudah biasa bagi keduanya. Namun, sampai berapa lama. Mereka akan mengkhawatirkan hal sama di waktu berbeda? Terkadang dia yang pulang membawa luka, dan begitu juga sebaliknya. Seperti hidup tanpa luka akan menjadi hampa.
"Hey, I am fine, my husband." Asfa merangkulkan kedua tangannya ke leher pria di depannya, tatapan mata saling beradu mempertegas semua memang baik-baik saja. "Aku akan ceritakan semuanya, tapi bisa bantu ganti perban, dulu?"
Tanpa kata, Vans merengkuh tubuh Asfa. Menggendong wanitanya, lalu di dudukkan ke atas ranjang. Pria itu mondar-mandir mengambil peralatan medis. Kemudian melakukan perawatan sebaik mungkin, bahkan membersihkan luka dan juga memeriksa jejak dari senjata yang berani menyakiti Asfa.
Sementara yang diobati hanya menurut tanpa keluhan. Seulas senyum terus terpatri menghiasi wajah wanita itu, sedangkan Vans menikmati rasa khawatirnya. Walau setelah melakukan pemeriksaan dan membalut luka kembali. Dia sadar, Asfa sudah memberikan pengobatan yang sesuai prosedur.
Lima belas kemudian. Keduanya sudah duduk berhadapan dengan sebuah laptop diatas meja kaca. Berteman secangkir kopi dengan rintik hujan diluar sana. Sejenak diam menyeruput menikmati rasa pas kopi hitam buatan Vans.
Vans meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap intens sang istri. "Jadi, can you tell me, Periku?"
"Why not." Asfa ikut meletakkan kopinya ke atas meja, lalu menggeser posisi laptop. Beberapa saat jemarinya menari menikmati tuts keyboard dengan fokus yang tinggi. ''Kasus pelecehan Nara di Regal Academy. Ka Vans bisa baca semuanya."
Sejak awal. Ia tak pernah bertanya akan apa yang ada di dalam pemikiran seorang Asfa. Bukan karena masa bodo. Melainkan ia percaya akan keputusan gadis itu tanpa syarat. Benar dan salah. Istrinya tahu apa yang terbaik untuk kehidupan mereka.
Tidak ada keraguan. Tidak ada bantahan. Ini bukan hanya tentang jiwa kepemimpinan, tetapi juga tentang pemikiran yang rasional. Namun juga melibatkan emosi dan toleransi. Jika mau, satu perintah saja bisa menghancurkan sistem pemerintahan.
__ADS_1
Sayangnya. Asfa selalu bertindak sendiri. Dialah otak sekaligus perancang masa depan. Orang bisa mengambil jalur pengkhianatan, tetapi untuk kembali mendapatkan kepercayaan? Maka taruhannya nyawa sendiri.
Tak ada penjelasan. Vans membaca rincian dari kasus kematian Nara. Bukti, saksi dan juga semua hal yang tidak nampak di permukaan, tetapi nampak menjadi bayangan. Ternyata Nara bukan gadis biasa. Siapa yang akan percaya itu? Satu kebenaran yang bisa saja mengubah dunia dalam sekali pandang.
Termasuk Vans. Pria itu mengusap wajahnya kasar. "Bagaimana ini mungkin? Apakah wajahnya hasil operasi plastik? Periku, bukankah ini tidak masuk akal."
Menolak menerima kebenaran. Bukan berarti akan mengubah kenyataan. Siapapun bisa meragukan, tetapi bukti yang tertera bukanlah isapan jempol belaka. Asfa hanya menyunggingkan smirk evilnya.
"Dunia ini penuh kejutan, Sayang. We learn to be a leader, not to be a loser." Ucap Asfa mengambil alih laptop untuk kembali menghadapnya, di depan mata terpampang foto seorang gadis dengan penampilan sebagai mahasiswa.
Gadis itu adalah Nara. Sahabat dari putrinya. Di bawahnya ada sepenggal info terpenting mengenai gadis tersebut. Baik alamat rumah asli, nama keluarga asli dan semua yang tidak seorangpun tahu. Termasuk Rose.
"Sekarang, apa kamu masih diam? Di luar sana, putri kita mencari kebenaran, tapi disini kita tahu. Jika semua hanya kebohongan besar. Apa ....,"
Asfa mengangkat tangan kanannya menghentikan pernyataan sang suami. Ia tahu harus apa dan bagaimana mengakhiri semua yang masih bergulir hingga banyak sasaran yang harus dibereskan.
"Aku akan turun tangan langsung, tapi lakukan satu hal untukku. Apakah aku bisa menyerahkan masalah di perbatasan padamu, Ka Vans?"
.
.
.
Yuk sebarkan semangat, sembari menunggu karya ini up, mampir kesini 👇
__ADS_1