
"Apa loe butuh cambuk? Aku tanya dimana mama. Napa loe malah diem, hah?!" Sentak Sarah tak sabaran seraya mendorong penjaga itu.
"Non, ampuun. Nyonya....,"
Suara langkah kaki dari lantai atas terdengar cukup jelas. Sarah mendongak ke atas. "Mama di sini, Sayang."
Kedatangan Nyonya Atmaja menyelamatkan sang penjaga dari amukan nona mudanya. Langkah kaki yang diseret menarik perhatian Sarah, membuat gadis itu berlari menaiki anak tangga menghampiri mamanya.
"Mama kenapa?" tanya Sarah panik melihat luka lebam di kaki sang mama.
Nyonya Atmaja tersenyum lebar. "Hanya luka kecil, sudahlah. Kenapa putri cantik mama marah? Jangan sering marah-marah nanti....,"
"Ma! Sarah gak mau diceramahi ya. Ayo, aku obati kaki mama." ajak gadis itu.
Sang penjaga tersenyum samar. Sebenarnya ada satu sifat yang tidak bisa dianggap angin lalu. Seberapa kasarnya nona muda. Gadis itu masih memiliki sisi baik. Yah, kasih sayangnya pada nyonya Atmaja tidak bisa dipandang sebelah mata.
__ADS_1
Bagaimana cara Sarah membantu mamanya turun dari tangga. Kemudian mendudukkan di sofa, lalu mengoleskan obat untuk kakinya yang lebam. Tidak ada amarah di wajah cantik nona muda selain raut kecemasan seorang anak terhadap seorang ibu.
"Sudah. Mama ngapain aja coba? Kok bisa ampe lebam begini." celetuk Sarah seraya menutup salep.
Nyonya Atmaja menatap putrinya. "Mama cuma jatuh dari kamar mandi. Jangan khawatir ya. Apa putriku sudah makan?"
"Mama selalu baik, dan perhatian. Sarah nyariin mama buat makan bareng, oh iya papa dimana?" Sarah melihat ke sekeliling dan benar rumahnya terlihat sangat sepi. "Jangan bilang papa keluar kota lagi....,"
Nyonya Atmaja mengusap wajah Sarah. ''Putriku, papa pergi bekerja. Jangan ngambek ya, ayo kita makan. Mama masak kesukaan mu, dan panggil juga temanmu itu untuk makan bareng."
"Nyonya, mari saya bantu." ajak si pelayan mengulurkan tangannya disambut nyonya Atmaja.
"Bi, pastikan apapun yang terjadi padaku. Sarah putriku tidak tahu. Selalu ingatkan pada semua pelayan untuk menjaga ucapan di depan putriku!" ucap Nyonya Atmaja.
"Seperti yang nyonya inginkan, tapi jika berkenan. Apakah tidak sebaiknya nyonya berterus terang....,"
__ADS_1
"Bi! Jangan teruskan bicaramu. Aku tidak ingin putriku mendengar apapun. Cukup dinding rumah ini yang menjadi saksi." Sela nyonya Atmaja menatap pelayannya yang langsung menunduk.
Percakapan keduanya berakhir dengan suara celotehan Sarah dan Dela yang memasuki rumah. Sementara di tempat lain tangan mengepal dengan tatapan berkabut. Pemandangan di depannya sungguh memicu amarah di dalam dirinya.
"Permisi, Bos. Kami sudah menelusuri seluruh area tetapi tidak menemukan satu bukti pun. Semua terlihat sangat rapi seperti kecelakaan biasa, dan menurut ahlinya. Semua ini hanya disebabkan oleh korsleting listrik." lapor seorang pria dengan pakaian preman.
Pria yang masih mengenakan jas putih itu berbalik dan langsung mencengkram kaos anak buahnya. Tatapan mata tajam ia layangkan dengan kemurkaan yang tergambar jelas di wajah paruh baya nya.
"Bos?"
"Apa aku mengaji mu hanya untuk mendengarkan omong kosong? C!h! Orang awam boleh saja tertipu, tapi tidak denganku." Pria berjas putih melepaskan tangan seraya mendorong tubuh sang anak buah. "Selidiki sampai ketemu dalangnya! Aku tidak mau tahu, dan ingat sampai kamu tidak temukan pelaku sebenarnya. Kepalamu sebagai gantinya."
"Baa-iik Booss." Jawab sang anak buah gemetar dan memberikan isyarat pada kawanannya untuk kembali bekerja.
"Siapapun yang memulai permainan. Lihat saja, akan kupastikan berakhir dengan peralatan special ku." gumam pria berjas putih dengan mengibaskan jubah kebesarannya.
__ADS_1