Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 49: PENJELASAN SI BAPAK PEMILIK RUMAH


__ADS_3

"Aku rasa, ini tidak salah jalan dan juga salah alamat. Jadi, aku harus tanya seseorang untuk memastikan bahwa yang kucari memang berada di daerah ini."


Suasana jalanan pedesaan itu teramat sepi, bahkan satu orang pun, tidak ada yang lewat. Ntah kenapa seperti itu, tapi ia memilih untuk keluar dari dalam mobil. Kemudian berjalan menyusuri persawahan yang dikelilingi beberapa rumah dan setiap rumah memiliki jarak beberapa meter dari rumah lainnya.


"RT tiga, RW lima, desa Kembang Rejo. Sebaiknya, aku coba ketuk salah satu pintu rumah warga dan bertanya di mana rumah orang yang kucari," Gumam orang itu bermonolog pada dirinya sendiri.


Tok!


Tok!


Tok!


"Permisi, apa ada orang?"


Orang itu sedikit mengeraskan suaranya agar pemilik rumah yang ia datangi mendengar suaranya. Namun, setelah beberapa saat menunggu, tetap saja tidak ada orang yang datang untuk membukakan pintu. Sekali lagi, ia mengetuk pintu dan kali ini lebih keras lagi.


TOK!


TOK!

__ADS_1


TOK!


"Permisi apa ada orang?"


Seseorang dari dalam yang mendengar suara ketukan pintu, sedikit terburu-buru turun dari ranjang. Pria yang memakai sarung bergegas membukakan pintu, lalu menatap siapa yang datang berkunjung ke rumahnya. Terlihat raut wajah si bapak terkejut dan juga bingung. Kenapa ada gadis cantik di depan rumahnya.


"Maaf, mencari siapa ya?" tanya si bapak pemilik rumah seraya menatap tamunya dengan tersipu malu.


"Maaf, jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat keluarga bapak. Saya ingin bertanya alamat ini. Apa bapak tahu, rumahnya yang sebelah mana?" Gadis itu berbicara sopan menjelaskan tujuan nya, tapi dengan penampilan santai tapi rambut panjangnya tergerai bebas membuat si bapak tidak fokus.


Ponsel yang ada di tangannya. Ditujukan ke bapak pemilik rumah, agar si bapak bisa memberitahukan alamat yang ingin ia tuju ada di sebelah mana, "Oh, alamatnya si anak itu, anak yang sukanya main di pohon jambu."


"Kalau anak ini, sih. Memang tinggalnya di RT dan RW sini juga, tapi masalahnya sejak satu bulan yang lalu. Anak itu sudah tidak kelihatan lagi dan menurut kabar terakhir kali. Anak itu, terlihat di sebuah warung kopi, Dek," Jelas si bapak, membuat Gadis itu mengernyitkan alisnya.


"Sejak sebulan, lalu apa anak itu menghilang dari desa ini, Pak?" Gadis itu bertanya sekali lagi, ia tak ingin kehilangan satu informasi pun.


Si bapak memilih untuk duduk di kursi yang ada di depan rumah, "Ayo, kemari dulu, Dek. Kita ngobrol sambil duduk. Nggak enak kalau dilihat orang lain, kalau ngobrolnya sambil berdiri."


Gadis itu menurut, lalu ia juga ikut duduk di depan kursi Si Bapak pemilik rumah yang kini akan menjadi sumber informasinya. Keduanya duduk berhadapan dengan tatapan saling menyapa, tapi tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


"Pak, kok ada tamu, nggak diajak masuk kerumah...," Wanita paruh baya itu menatap tamunya dengan bibir melongo, dan mata berbinar, "Neng gelis pisan...,"


"Wes, tho, Bu. Bapak lagi ngobrol serius. Mbok digaweke wedang adik e!" Si bapak pemilik rumah menghentikan sang istri agar tidak panjang kali lebar dengan tatapan terpukau karena melihat gadis cantik yang berkunjung kerumahnya.


"Nggih, Pak. Sabar. Ibu ke dalam buatin minuman, sok dilanjut ngobrolnya sama si Neng Geulis. Nanti, jangan lupa, ya, Neng kasih tips sama ibu biar bisa glowing kayak si eneng," Si Ibu bercanda, lalu meninggalkan depan rumah untuk kembali masuk.


"Maaf, ya, Neng. Istri bapak, memang gitu orangnya. Sekarang, neng mau tanya apa? Biar bapak yang jawab," Si bapak merasa sungkan karena tingkah sang istri, tapi justru gadis di depannya tersenyum seraya menggelengkan kepala kecil.


"Saya ingin tahu. Di mana anak ini, termasuk rumahnya. Akan tetapi, karena bapak bilang anak ini tidak lagi ada di desa ini. Boleh saya tahu. Apakah ada kejadian hingga menyebabkan anak ini pergi dari desa ini" tanya gadis itu sopan tanpa berniat untuk menyinggung.


Si bapak pemilik rumah termenung sejenak. Terlihat jelas dari gurat wajah. Pria itu tengah berpikir keras untuk mengingat masa lalu. Sementara itu, si gadis memilih untuk tetap sabar menunggu penjelasan agar ia mendapatkan informasi yang lebih jelas dan lengkap.


"Sebelum anak itu hilang. Tepatnya sebulan yang lalu. Ada satu kejadian yang cukup menghebohkan masyarakat. Kalau Neng tanya dengan warga sekitar sini tentang anak itu. Pasti semua orang jawabannya sama. Anak itu terlihat aneh dan kebiasaannya mencari jambu sudah tidak dilakukan."


"Sebulan yang lalu, ada sebuah mobil terparkir di ujung desa. Mobil itu terlihat sangat gelap dan banyak warga yang berpikir, mungkin si pemilik mobil tengah beristirahat. Semalaman para warga tidak ada yang curiga, tapi pagi harinya ternyata mobil itu masih tetap berada di tempat yang sama. Kami, para warga mencoba untuk mengecek, tapi sungguh mengejutkan karena di saat kami memeriksa mobil itu. Tidak tidak ada seorangpun di dalamnya, alias kosong."


"Meskipun begitu, seorang warga melihat bercak darah. Sayangnya karena mobil kosong, para warga tidak menaruh curiga. Kami hanya sepakat berpikir, mungkin si pemilik mobil memilih meninggalkan mobilnya karena urusan yang mungkin tidak bisa ditunda lagi. Setelah kejadian itu, anak itu justru terlihat begitu tegang khawatir dan cemas."


"Pada malam hari. Tepatnya sebelum anak itu menghilang. Para warga mendengar sebuah keributan dari warung kopi dan ternyata yang menjadi sasaran adalah anak itu. Anak yang orang-orang bilang sebagai seorang pembunuh."

__ADS_1


"Seorang pembunuh?" tanya si gadis memastikan pendengarannya tak salah, Si bapak menggangguku mengiyakan bahwa yang dikatakan itu memang benar adanya.


__ADS_2