
"Aaarrgggghhh....,"
Suara teriakannya, mengaktifkan alarm ruangan itu. Sontak membuat banyak orang bergegas menghampiri, dan memeriksa keadaan pasien mereka. Di antara para dokter, terdengar seseorang melakukan panggilan dan sebuah nama yang disebutkan terasa tidak asing menyusup masuk ke dalam gendang telinganya.
"Queen," gumam pria itu, dan kembali tak sadarkan diri.
Para dokter terlihat panik, tapi berakhir dengan menghela nafas lega. Ternyata pasien mengalami peningkatan kesadaran yang semakin membaik. Melihat dari hasil pemeriksaan. Maka, pasien dinyatakan sudah sadar dari koma. Namun, karena terlalu lama dalam keadaan tak normal. Sudah pasti membutuhkan waktu untuk memulihkan keadaannya agar kembali normal.
"Sebaiknya, kita lakukan pertukaran penjagaan. Jangan sampai pasien ditinggal sendirian dan hal ini untuk mengantisipasi kejadian yang baru saja terjadi. Apa kalian paham?" tanya dokter senior memberikan arahan demi menjaga keamanan pasien, membuat para dokter saling menatap satu sama lain, lalu menganggukkan kepala menyepakati apapun yang diarahkan sang dokter senior.
Berita kembalinya kesadaran Abhi telah sampai di kediaman Villa Pelangi. Dimana ponsel Asfa saat ini berada di genggaman sang suami. Tatapan pria itu tak bisa diartikan. Meski semua sudah jelas dimana posisinya, ternyata masih ada sisa rasa takut yang tersimpan di hati dan itu seperti sayatan tak berdarah. Tanpa pria itu sadari, tatapan mata sang putri mengawasinya.
"Ekhem!" dehem Asfa mencoba menetralkan keadaan, membuat Vans kembali sadar dan Rose menyudahi tatapan matanya, lalu kembali menikmati sarapan pagi.
"Apa hari ini ada puasa bicara? Kenapa kalian berdua kompak diam seperti sekarang?" tanya Asfa berusaha untuk bersikap baik-baik saja, padahal hati nya merasa gelisah dan ntah apa sebabnya.
Rose mengambil gelas susu, lalu meminumnya dan tidak lupa mengelap bibir menggunakan tisu, "Mom, bolehkah Rose berkeliling ke perusahaan? Aku kemarin tidak sengaja melihat desain bangunan untuk proyek real estate yang akan di bangun tiga bulan lagi. Jadi, sebagai mahasiswa arsitektur, tentu itu hal yang harus dipelajari."
__ADS_1
"Kita bisa pergi bersama pagi ini, dan jangan berpikir untuk menjadi OG atau menjadi mahasiswa magang. Perusahaan itu tidak memberikan ampunan untuk kesalahan sekecil apapun. So, jika mau berkeliling. Pastikan menjadi putri ku atau ditemani orang-orang kepercayaan mommy," Asfa juga menyudahi sarapannya, lalu berdiri menatap putrinya dengan tenang, "Rose, singkirkan pikiranmu untuk bermain petak umpet. Sampai saat ini, kamu tidak melihat sistem keamanan perusahaan mommy."
"Mommy ini ratu mafia, atau paranormal? Selalu saja tahu isi pikiranku...,"
Asfa tersenyum tipis, tak ingin bersikap terlalu keras. Namun, ia harus memberikan nasehat demi kebaikan sang putri, "Aku hanya mommy mu, Rose Qiara Salsabila. Apa kamu meragukan itu?"
"Wah, putri dan cucu ku sudah berdebat saja di pagi hari. Tumben, apakah akan ada pemilihan juara debat? Jika iya, kakek siap menjadi jurinya."
Kedatangan Tuan Luxifer yang menyela, membuat Rose dan Asfa saling pandang. Kemudian kompak menggelengkan kepala, "Selalu seperti awan di langit,"
Vans hanya terdiam dan menyimak perdebatan dan juga kebersamaan keluarganya. Hal itu menarik perhatian Tuan Luxifer. Namun, pria paruh baya itu masih ingin menahan diri. Sudah pasti, sang menantu tengah mengalami dilema dan juga masalah. Setelah perbincangan sesaat yang hanya basa-basi, akhirnya Asfa menepuk bahu sang suami karena pria itu terlihat tidak tenang.
"Mommy membangun perusahaan atau penjara mewah?" tanya Rose spontan, dan sukses membuat kakeknya tersedak minuman. Untung saja, Asfa bergegas menepuk punggung papanya agar lebih baik.
"Perusahaan itu bukan hanya menyimpan file biasa, tapi juga banyak peralatan canggih yang menjadi proyek mandiri dari anggota keluarga Phoenix. Asfa, Varo, Vans, Rania, dan termasuk beberapa orang lainnya yang tidak bisa disebutkan. Selama ini, sistem keamanan selalu diperbaiki dan berubah semakin baik dari waktu ke waktu. Bukan hanya itu saja, di villa ini pun. Beberapa sistem keamanan sudah terapkan."
Rose mendengarkan penjelasan dari sang kakek, tapi Asfa memperhatikan gelagat Vans yang mencurigakan. Untuk pertama kali, tatapan matanya dihindari oleh sang suami. Apa mungkin, ia telah melakukan kesalahan yang tidak disadari? Atau ada sesuatu yang disembunyikan pria itu? Tak ingin hanya menduga-duga, ditariknya tangan Vans, kemudian menyingkir dari obrolan antara kakek dan cucu.
__ADS_1
Asfa sengaja membawa Vans ke sisi utara dimana sebuah ruangan tempat gym menjadi pilihannya. Wanita itu diam dengan tatapan serius, membuat suaminya menghela nafas panjang, "Maaf, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Rasanya sangat sesak disini, dan panas disini."
Vans yang menunjuk dada, lalu ke kepala, membuat Asfa paham apa yang kini menjadi dilema suaminya itu. Ia meraih kedua tangan sang suami, kemudian memberikan usapan lembut. Tatapan mata menunduk agar tidak menunjukkan ekspresinya saat ini, "Ka, aku tidak tahu. Di bagian mana rasa di hatimu berubah menjadi ragu terhadap hubungan kita. Jujur saja, aku tidak bisa menebak isi hati dan juga pikiran suamiku sendiri. Pada kenyataannya, kita berdua sama. Dari cara pikir dan cara bertindak."
"Kakak itu, suami ku. Sejak ijab qabul di sah kan, maka aku istrimu. Kita berdua cukup dewasa untuk memahami hubungan sakral ini, jadi ku harap. Suamiku mau berlapang dada menerima segala kekurangan ku. Jika memang, keraguan itu datang karena aku merawat mantan suami. Maka, aku serahkan tanggung jawab itu pada para dokter dan aku janji tidak akan bertanya apapun tentangnya."
Rasanya miris dan lebih sakit. Ketika dengan telinganya sendiri, ia mendengar ucapan yang menyayat hati dari bibir Asfa. Kenapa hari ini, hatinya begitu egois. Padahal, tidak sekalipun sang istri bertindak tanpa izin darinya. Lalu, dimana letak kesalahan dari kondisi hari ini? Hati berkata apa, dan pikiran menyimpulkan apa. Dua hal yang saling bertarung memperebutkan ego masing-masing. Sungguh keegoisan mulai merasuki jiwa, membuat hubungan menjadi di luar kata sehat.
"Maaf, aku masih berusaha untuk ikhlas," Vans melepaskan tangannya dari tangan Asfa, lalu merengkuh tubuh wanitanya untuk masuk ke dalam dekapan hangat yang bisa menghilangkan sedikit beban hati dan pikiran.
Apa yang menjadi perbincangan Asfa dan Vans, tanpa keduanya sadari. Ada yang mendengar secara diam-diam seraya menutup mulut agar tidak ketahuan. Apapun yang dia dengar tidak bisa dicerna. Ntah kenapa seperti itu, hanya satu hal yang menari di dalam memorinya yaitu mantan suami. Siapa mantan suami seorang Asfa? Lalu, apakah ada anak lain dari suami pertama?
...****************...
...----------------...
Hay reader's, hari ini othor kasih rekomendasi buat kalian sebuah novel yang bisa menemani hari senggang kalian, loh. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🥰
__ADS_1
...----------------...