Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 51: MEMASUKI RUMAH MALIK


__ADS_3

Gadis itu mengulurkan tangan, lalu tersenyum, "Kenalkan, saya Prita. Saya datang kemari ingin meminta izin, untuk memeriksa rumah Malik. Saya tidak bermaksud macam-macam, bahkan bapak bisa menemani saya untuk memeriksanya. Akan tetapi, saya harus memeriksa rumah itu karena ada hal yang tidak bisa saya jelaskan. Apakah diizinkan, Pak?"


Pak Darso menatap Prita dengan lekat. Pria itu meneliti penampilan dari atas ke bawah gadis di depannya, "Kamu, temannya Malik, Dek?"


"Bisa dibilang begitu, Pak, tapi. Jika saya jujur. Mungkin, Bapak tidak akan percaya. Saya sangat membutuhkan untuk memeriksa rumah Malik."


Keberanian Prita, membuat pak Darso mengangguk paham. Pria itu, menyadari sesuatu dibalik wajah gadis itu. Meskipun begitu tegas, tetap saja. Terlihat tidak ada niat buruk dari tatapan matanya, "Tunggu sebentar, Dek. Saya ambilkan kunci rumahnya dulu."


Pak Darso masuk ke dalam rumah, lalu mengambil kunci dan kembali keluar. Pria itu tak lupa menutup pintu rumahnya, "Ayo, Dek. Kita akan ke rumah Malik bersama."

__ADS_1


"Mari, Pak." Jawab Prita dan mengikuti langkah kaki pak Darso dari belakang.


Kini, keduanya kembali berjalan menyusuri jalan untuk menuju rumah Malik. Tidak ada percakapan ataupun sekedar saling basa-basi. Meskipun ada rasa was-was dihati gadis itu. Prita tetap tak bisa mundur karena ini memang sudah tugasnya. Semua demi sang kakak yang kini masih belum tahu, dimana keberadaan Amara.


Lima belas menit kemudian.


Halaman yang cukup luas dan juga terlihat begitu sangat sunyi. Seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Pak Darso membuka pintu rumah utama, lalu pria itu mempersilahkan Prita untuk masuk ke dalam, "Silakan masuk dan jangan khawatir. Bapak tidak akan mengganggumu. Jadi, kamu bisa mengecek ataupun melakukan apapun di dalam rumah ini, tapi pastikan tidak ada satu barang pun yang bergeser dari tempatnya."


"Baik, Pak. Jika memang Bapak ingin ikut, silahkan saja masuk. Saya tidak akan melarang," Jawab Prita, sebelum melangkahkan kaki memasuki rumah Malik.

__ADS_1


Rumah yang cukup engap dan berdebu tapi semua tertata rapi hanya saja tertutup begitu banyak kain putih. Sekilas mata memandang. Rumah itu berdesain ala kejawi. Terlihat dari beberapa jenis ornamen dinding yang berupa wayang dan keris tertata bertingkat sesuai ukurannya.


Langkah Prita diperhitungkan, karena tujuannya bukan ruangan utama rumah malik. Akan tetapi, sebuah ruangan yang tersembunyi dari pandangan mata. Gadis itu menghitung setiap keramik yang sudah ia lewati, seraya memperhatikan garis pola yang tergambar di keramik.


"Ini keramik kesebelas, aku harus mencapai keramik keduapuluh dengan lambang ular naga...,"


Meninggalkan usaha Prita untuk menjadi seorang mata-mata. Di tempat lain, segerombolan preman tengah berpesta. Pesta dengan berbagai jenis cemilan dan juga minuman, hingga kegiatan itu tidak mengingat waktu masih siang dengan panas terik matahari di luar sana. Pintu besi yang berderit, membuat gerombolan itu mengalihkan perhatian mereka. Semua tatapan mata, tertuju pada seseorang yang baru saja masuk dengan penampilan bertudung.


"Bos, Loe disini? Tumben, ada apa ini?" tanya salah satu preman bangun dari posisi nyamannya, lalu menyambar sebotol soda dingin dan dilemparkan ke arah orang yang baru saja masuk.

__ADS_1


__ADS_2