
"Dimana Nenek Anya?" tanya nya, tapi wanita yang dia cari sudah berada di depannya dengan tangan mempersilahkan nona mudanya untuk masuk ke mansion terlebih dahulu. "Tidak ke dalam, tapi kesana."
Nenek Anya, yah, Rose memanggilnya sebagai nenek sesuai umur yang memang sudah lanjut usia. Walau begitu, bukan berarti wanita itu nampak lemah tak berdaya. Meski sudah mengenakan kacamata kotak persegi berwarna hitam.
Keduanya berjalan bersama-sama menyusuri setapak dengan pepohonan yang rindang. Aroma buah tidak begitu tercium karena memang bukan musim berbuah. Rose menikmati terpaan hembusan angin beraroma kesegaran. Aroma laut yang menenangkan. Apalagi yang kurang dari hidupnya?
Bukan hanya kemewahan, tetapi surga dunia sangat mudah di dapatkan. Meski begitu, banyak hal yang tidak diketahuinya. Padahal dia putri seorang queen. Namun nyatanya perbedaan itu memang benar adanya.
"Nona muda, apa yang mengusik Anda?" tanya Nenek Anya tanpa sungkan, tapi nada suaranya tetap dibatas kesopanan.
Rose masih terus berjalan, menatap ke depan. Semakin lama, semakin mendekati tebing. Tempat dimana hewan kesayangan mommynya tinggal. Apapun yang yang menjadi pusat perhatian sang mommy. Sudah pasti tidak akan diabaikan oleh siapapun. Para pelayan siap melakukan pekerjaan setulus jiwa dan raga.
__ADS_1
Suara hempasan air laut menyambut kedatangannya. "Nek, boleh Rose tanya?"
Nenek Anya mengangguk mempersilahkan Nona Muda bertanya padanya. Gadis yang berpenampilan sebelas dua belas dengan Queen. Terkadang, Rose mengingatkan masa lalu yang begitu banyak kenangan. Rindu dengan cara Asfa yang memperlakukan semua orang sama hanya dengan makan bersama.
Sementara Rose, bisa dihitung jari mendatangi mansion. Bisa jadi, remaja itu tidak hafal dengan setiap nama anak buah yang menempati mansion sang kakek. Walau begitu, mereka tetap menghargai karena tidak mungkin menyamakan anak dan ibu nya dalam posisi yang sama.
"Apakah mommy sudah tahu segalanya tentang tragedi di kampus Regal Academy?" Rose bertanya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Nona muda, pertanyaan macam apa ini?" tanya balik Nenek Anya, "Kebenaran itu selalu pahit, meski mengobati. Pernahkan, Nona bertanya secara langsung akan hal sama pada Queen sendiri? Jika tidak. Tanyakanlah."
Helaan nafas panjang yang mampu menjadi jawaban atas cecaran pernyataan dari Nenek Anya. Dia memang sengaja bertanya pada sang nenek, bukan pada mommynya. Semua itu karena hati dan pikiran hanya ingin jawaban, tapi tanpa melibatkan sang mommy tercinta. Salahlah?
__ADS_1
Dibalik keheningan malam. Rose bersama Nenek Anya termenung. Tidak ada kata yang bisa mereka perdebatkan hingga teralihkan dengan datangnya suara langkah kaki dari belakang. Sontak kedua wanita itu berbalik untuk melihat siapa yang menghampiri mereka.
"Ini sudah malam. Masuk!"
Kedatangan Tuan Luxifer, membuat Rose menghela nafas lega. Setidaknya bukan sang mommy yang memergokinya datang ke mansion hanya untuk bertemu dengan nenek Anya. Jika sampai ketahuan, sudah pasti akan menjadi kesalahpahaman dan itu tidak boleh terjadi.
"Anya, bawa Rose masuk!" titah Tuan Luxifer karena tak melihat pergerakan dari kedua wanita yang berdiri dihadapannya.
Sebenarnya ingin menolak, tapi ada beberapa pertanyaan yang masih ingin ditanyakan pada Nenek Anya. Jadi dengan senang hati, langkah kakinya berjalan mengikuti langkah sang nenek yang menggandeng tangannya.
Kepergian sang cucu bersama kepala pelayan, membuat seseorang yang bersembunyi di balik salah satu pohon rindang keluar dari persembunyiannya. Andai yang menegur gadis bermata biru adalah dirinya. Sudah pasti hanya akan terjadi kecanggungan.
__ADS_1
"Sampai kapan, kamu menyembunyikan itu? Lebih baik Rose tahu darimu."