
"Semua berbakat, tapi aku punya ide yang lebih baik. Apakah aku harus bicara dengan Bunda dan Mommy?" tanya Rose pada dirinya sendiri sambil terus menatap layar ponselnya, hingga salah satu teman kelasnya masuk ke kelas dengan nafas ngos-ngosan berlari menghampiri meja dengan wajah pucat. "Ada apa?"
"Rose, buruan deh ke aula. Geng cantika buat ulah lagi," lapor teman sekelasnya, membuat Rose menghela nafas panjang.
Baru beberapa waktu ada ketenangan di kampus. Kenapa sudah ada keonaran lagi, tapi apa kali ini masalah yang sama. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mengikuti langkah sang teman kelas. Keduanya berjalan cepat menuju aula tempat kejadian perkara.
Para mahasiswa yang fokus melihat kekejaman Sarah, mulai teralihkan ketika Rose datang. Seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka memberikan jalan agar gadis bermata biru bisa lewat menemui biang keonaran.
Di tengah aula. Sarah tengah melakukan bully terhadap beberapa mahasiswa yang memang penampilan tak ubahnya seperti penampilan Rose dulu. Yah, orang biasa dengan pakaian lusuh dan juga kacamata tebal. Sungguh miris.
Rose berhenti dengan tatapan terpatri di depannya. Sontak membuat Sarah bertepuk tangan dengan penyambutan yang meriah. Gadis itu memberikan isyarat pada Della hingga layar besar yang biasa digunakan untuk pemberitahuan. Justru digunakan untuk mempertontonkan adegan bully masa lalu.
Video berdurasi sekitar sepuluh menit. Dimana Rose dan Nara mengalami perundungan dari geng cantika. Tidak ada rasa takut dari tatapan mata Rose, tetapi hatinya bergejolak memanas. Ingin sekali mematahkan seluruh tulang Sarah. Namun, kesadarannya masih memiliki akal sehat.
"Lihatlah, Rose." Sarah menunjuk ke arah video dengan suara tawa yang penuh kepuasan. "Bagaimana jika kita nostalgia dengan mereka. Aku rindu untuk mengenang masa-masa kebersamaan kita."
Hembusan angin yang menyusup menerbangkan kilauan rambut sang gadis bermata biru. Senyuman tipis tersungging, lalu kakinya maju satu langkah. "Nostalgia? Good idea. Kenapa harus dengan mereka? Aku masih hidup bukan?"
"Sar, cupu nawarin diri buat di bully ama loe, lagi, tuh." Cetus Della langsung konek dengan maksud ucapan Rose.
"Wuiih, demi apa?" Sarah terkekeh, tetapi langsung menghempaskan beberapa mahasiswa yang menjadi pelampiasan emosinya. Kemudian melambaikan tangan agar Rose mendekat.
__ADS_1
Bukannya menolak, atau pergi saja. Rose berjalan mengikuti keinginan Sarah. Pikiran boleh saja tenang, tapi tidak perlu menunjukkan niat hatinya. Senyuman palsu yang terus menghiasi wajahnya semakin memikat lawan. Dimana Sarah berpikir, jika dia telah menang.
Keduanya saling berhadapan dengan tatapan mata terasingkan. Rose yang setenang alam, membiarkan Sarah yang siap menerkam. Tangan gadis itu terangkat siap melayangkan sebuah tamparan, membuat semua orang terpaku dalam ketegangan.
"One touch, one punishment." Tegas Rose, seketika membuat tangan Sarah terhenti di awan.
(Satu sentuhan, satu hukuman.)
"You know, hukum alam berlaku. So, berhitung dimulai." Rose mengangkat tangan kiri, dimana jam tangan melingkar manis. "Tik-tok. Tik-tok. Tik-tok."
Bisa saja meneruskan layangan tangannya, tetapi peringatan Rose tidak main-main. Jika membuat ulah saat ini, kemungkinan besar akan menjadi pemberontakan para mahasiswa. Selama ini, dia mempertahankan kekuasaan karena rasa takut dari seluruh penghuni kampus.
Akan tetapi, ketika semua orang bisa melihat dan merasakan perlindungan dari Rose. Perlahan, namun pasti. Kekuasaan geng cantika mulai meredup seperti api unggun di pagi hari. Diamnya Sarah, membuat Rose tersenyum evil.
"Bubar! Pertunjukan telah usai." Seru Rose mengejutkan semua orang, bahkan beberapa mahasiswa lari terbirit-birit.
Padahal bukan hantu yang bicara. Tetap saja suara tegas dengan nada perintah seperti cambuk yang melesat. Jelas dan berbekas. Kini yang tersisa hanya tiga gadis, yaitu Rose, Sarah dan Dela. Ketiganya saling berhadapan dengan tatapan perlawanan serta kebencian.
__ADS_1
"Rose, awas aja loe ...," Sarah menunjuk wajah gadis di depannya, tetapi tatapan tajam menciutkan nyali di dalam hatinya. "Del, cabut!"
Apa yang terjadi? Kedua gadis yang sok kuat berbalik, melangkahkan kaki meninggalkan aula. Meski tidak bisa melanjutkan ancaman mereka. Apa yang barusan terjadi, tentu menjatuhkan reputasi geng cantika. Sementara Rose tidak peduli dan memilih untuk membiarkan kesombongan Sarah dan Della tetap di atas kepala kosong mereka.
"Sampai kapan kamu diam, tanpa bertindak? Apakah ini yang disebut pembalasan. Aku lihat, kamu justru tidak berbuat apapun. Apakah harus mendapatkan contoh?"
Suara itu terdengar seperti cibiran. Lebih tepatnya mempertanyakan keputusannya. Tak ingin mengambil kesimpulan, Rose masih diam tak bergeming hingga terdengar suara langkah kaki dengan ritme tegas. Namun, jelas itu bukan wanita, melainkan seorang pria.
Semakin terdengar lebih dekat, bahkan aroma permen karet tercium begitu pekat. Ntah itu parfum atau orang di belakangnya membawa sekarung permen karet. Rose hanya menunggu waktu yang tepat agar orang itu berhenti tepat di belakangnya tanpa jarak yang berarti.
Benar saja. Suara yang terhenti setelah melangkah duapuluh langkah ke depan. Barulah Rose berbalik untuk melihat siapa yang sayang untuk memberikan cibiran pedas tentang dunianya. Namun, ketika netranya hampir melihat. Dering ponsel justru mengalihkan perhatiannya.
\[Rose, pulang sekarang!\] ~ isi sebuah pesan dari Ayah Varo.
"Ayah ku, ini. Beneran deh, gak tahu sikon genting." Rose kembali menoleh ke arah depan, sayangnya orang yang berbicara padanya sudah menghilang tanpa jejak. "Ouh, gone? Seriously."
"Sudahlah. Aku harus pulang sebelum ayah menyeret diriku dari kampus." Gumamnya pada diri sendiri, kemudian berjalan meninggalkan aula.
Tatapan mata tajam menusuk mengintimidasi pemuda yang dengan lancang menemui putrinya. Meski tidak memiliki jiwa, pemuda itu tidak bisa melawan orang yang telah memberikan kasih sayang tanpa diminta. Siapa lagi jika bukan Asfa.
__ADS_1
"Queen."