
"Happy birthday malaikat mommy. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dan melindungi putri cantik mommy. Doa terbaik untuk Rose," Asfa berbisik di telinga kanan putrinya, lalu memberikan kecupan hangat di puncak kepala gadis itu.
Bisikan itu menghadirkan senyuman di wajah sang putri. Hal sederhana yang selalu bermakna begitu dalam, inilah yang menjadi kekuatan untuk keduanya. Waktu seperti air yang mengalir. Liburan telah dimulai, kapal itu menuju sebuah pulau pribadi. Dimana perayaan ulang tahun Rose akan dilangsungkan di pulau itu. Yah, sesuatu telah direncanakan oleh Asfa demi mengakhiri rahasia yang selama ini tersimpan.
Perjalanan selama beberapa jam, membuat keluarga itu menikmati suasana lautan dengan kebersamaan. Lambat laun kapal mulai mengurangi kecepatan dan saat itu, waktu menginjak menuju matahari terbenam. Yah, satu jam lagi waktunya menikmati sunset. Melihat itu, Justin mengajak semua orang untuk duduk di tempat khusus. Dimana semua akan menikmati cemilan sore sembari menunggu sinar mentari tenggelam.
"Rose, apa kamu ingin sesuatu di hari ulang tahun kali ini?" tanya Vans yang duduk dibelakang Asfa, membiarkan kepala sang istri bersandar di dadanya, sedangkan yang ditanya tengah duduk memangku Prince Chubby.
"Rose hanya mau, keluarga kita bisa selalu seperti ini. Berkumpul bersama, tapi bukan hanya di saat salah satu anggota keluarga ulang tahun dan akan melakukan perayaan. Ayolah, keluarga kita tidak kekurangan uang. Jadi, untuk liburan sebulan sekali. Pasti tidak akan menjadi pengeluaran yang signifikan. Iya 'kan, Kek."
__ADS_1
Tuan Luxifer melepaskan wine di tangannya, lalu mengusap kepala sang cucu, "Cucuku yang manis. Liburan bukan masalah yang besar, tapi mintalah Mommy dan Papa serta semua uncle mu untuk cuti kerja selama setahun. Kakek jamin, uang akan tetap mengalir, tapi begitu kembali. Puluhan masalah harus diselesaikan oleh mereka."
"Huft, kakek berpihak pada orang sibuk. Prince, ayo kita bujuk para orang tua...,"
Prince Chubby menatap Rose tidak paham, tapi dari isyarat tangan sang kakek. Dia harus menolak apapun yang dikatakan oleh bibi cantiknya, "Ice cleam, onty mau?"
Gemes. Pengen banget nyubit pipi gembul sang keponakan, tapi ia terlalu sayang. Jawaban tak masuk topik pembicaraan, membuat seluruh anggota keluarga tertawa bersama. Mau, tak mau, Rose ikut tersenyum kecut. Yah, kalah lagi. Apalah daya menjadi putri orang penting. Soal fasilitas pasti nomor satu, tapi quality time harus bersabar menunggu.
Disaat sibuk melamun tentang beberapa hal. Terasa ada tangan yang mengusap kepalanya, sontak saja gadis itu mendongak menatap pemilik tangan yang lembut. Meski tangan itu selalu melakukan banyak latihan fisik yang berat, "Mom, Rose sayang mommy."
__ADS_1
"Nak, maaf. Mommy masih banyak kekurangan untuk menjadi ibumu. Jika ini hanya tentang keluarga kita. Apapun alasan kalian bahagia. Pasti ku lakukan," Asfa menatap manik mata biru yang seperti bercermin di kaca karena warna mata keduanya sama, "Tunggulah beberapa saat lagi. Mommy akan usahakan untuk mengurangi jadwal pekerjaan dan bisa menetap di rumah. Rose, bersabarlah."
"Bukan itu maksudnya. Jangan pernah meminta maaf pada anak sendiri. Mommy itu pahlawanku. Seperti apapun Rose saat ini, semua berkat mommy. Sungguh, ibu adalah yang terhebat. Jika raga ini memiliki nyawa. Hanya mommy yang memberikan keajaiban. Jangan lagi, meminta maaf karena aku putrimu."
Seiring cahaya mentari yang tenggelam. Kegelapan mulai menyapa, disaat itu pula semua lampu kapal menyala. Tiba-tiba, suara kembang api terdengar mengalihkan perhatian semua orang. Kembang api warna warni yang menghiasi serta memeriahkan terlihat begitu indah di atas langit, bahkan Prince Chubby sampai melonjak kegirangan dengan suara teriakan khas anak kecil.
Sementara Rose tertegun. Gadis itu tidak menyangka. Keluarganya memberikan kejutan yang tidak pernah dia bayangkan. Kebahagiaan itu semakin bertambah. Ketika kedua orang tuanya memberikan pelukan dan kecupan hangat di kedua pipinya, "Love you, Mommy, Daddy. Amazing day."
"Everything for you princess Rose." jawab Vans mengeratkan pelukan, semua mata terharu dengan kasih sayang seluruh keluarga, tapi Asfa menikmati rasa yang mungkin akan sulit didapatkan lagi.
__ADS_1
Mommy harap setelah malam ini. Kamu semakin dewasa, karena apapun yang akan terjadi nanti. Hati yang selama ini ku jaga. Aku sendiri yang akan menghantamkan badai emosi.~batin Asfa seraya melirik ke arah Justin dan memberikan kode jari agar rencana dijalankan.