
"Kita akan bicarakan itu di heli. Jangan sampai Rose manyun karena kita terlambat," Vans merengkuh pinggang Asfa, lalu keduanya berjalan meninggalkan ruangan kerja.
Heli yang dinaiki Asfa dan Vans akhirnya mengudara. Di saat penerbangan sudah stabil di atas awan. Barulah pria itu memberikan sebuah notebook yang sudah disiapkan dan tersimpan di Heli tersebut, "Periksalah dan pastikan, apakah tindakanku sudah tepat. Gadis itu, sengaja aku jadikan mata-mata karena dia bukan anak yang begitu jahat."
Asfa memeriksa identitas dan juga semua latar belakang dari seorang gadis yang disiapkan suaminya. Sebenarnya, ia tahu tentang gadis itu, tapi sesaat memilih untuk diam dan melihat sejauh mana tindakan seorang ayah untuk melindungi sang putri. Tidak diragukan lagi. Jika Vans akan melakukan apapun demi melindungi Rose.
"Apa ada yang lain, Kak. Aku tahu benar, kakak tidak mungkin hanya ingin menunjukkan hal seperti ini, saja," ujar Asfa, lalu menutup notebook yang ada di tangannya.
"Kamu benar. Hanya saja, lebih baik kita bicarakan itu nanti. Setelah Rose tahu siapa ayah kandungnya. Aku berharap, keluarga kita akan selalu bahagia, Periku," Vans memejamkan mata, hati yang terasa sesak mencoba ia tepis karena tak ingin mempermasalahkan sesuatu yang belum terjadi.
Keduanya mengakhiri perbincangan. Seakan sepakat, jika tidak ada lagi yang perlu diperbincangkan. Akan tetapi berbeda lagi dengan beberapa orang yang tengah menunggu kedatangan kedua orang itu. Di mana Rose berulang kali menoleh ke arah landasan Heli, lalu menatap ke arah langit. Namun, kedua orang yang ditunggu belum juga datang. Waktu sudah terlambat dari jadwal keberangkatan mereka untuk liburan.
"Oke, semuanya. Kita akan masuk ke kapal dan perjalanan akan dimulai. Jadi ayo, kita nikmati liburan special. Welcome to your destiny," sambut Justin, pria itu melakukan seperti permintaan Queen. Dimana perjalanan akan di mulai tepat pukul sepuluh pagi.
Pengumuman itu langsung membuat rose menghentakkan kaki. Niat hati ingin menunggu hingga orang tuanya datang, tapi warning untuk mengikuti perintah Justin sudah diumumkan sejak dari villa. Memang benar, pria itu ditugaskan untuk menjadi pemandu liburan kali ini. Suara kapal mulai terdengar. Kehebohan Prince Chubby, membuat keluarga sedikit terhibur. Meski ada rasa gelisah karena orang yang merencanakan semua itu. Justru masih tak kunjung menunjukkan batang hidung.
Sepuluh menit setelah kapal meninggalkan dermaga. Tiba-tiba dari atas langit terlihat sebuah helikopter terbang. Keluarga tahu siapa yang ada di dalam heli itu. Tak perlu menunggu lama, beberapa bodyguard yang berdiri di atas kapal menyiapkan tangga otomatis. Dimana itu akan digunakan untuk turun dari dalam heli. Seperti apapun situasi hembusan angin. Tetap saja, Asfa dan Vans tenang hingga mencapai atap kapal.
__ADS_1
"Selamat datang, Queen, Tuan Muda."
"Katakan berapa level keamanan kali ini?" tanya Asfa seraya melepaskan ikat pinggang dan membuat gaun yang ia pakai bergegas bebas mengikuti hembusan angin.
"Level bintang, sesuai perintah Duke Justin. Setiap bodyguard memiliki senjata khusus dan alat komunikasi terbaru. Di pulau yang menjadi tujuan liburan. Keamanan semakin besar dengan persatuan beberapa pemimpin kelompok," jawab salah satu bodyguard.
Vans melihat ke sekelilingnya. Hanya ada air laut, dan daratan terdengar semakin tidak nampak. Ia tahu, Asfa sangat menyukai lautan. Akan tetapi, kenyataannya baru kali ini melakukan perjalanan bersama keluarga. Selama ini hanya ada tentang pekerjaan dan juga tanggung jawab mafia. Meski seringkali menawarkan untuk liburan lama. Tetap saja di jawab *Tunggulah waktu yang tepat*.
"Sayang, are you okay? What happen?" tanya Asfa melirik ke arah Vans yang terdiam di tempat dan tidak bergerak meski hanya satu senti.
Pria itu hanya menggelengkan kepala, lalu berjalan mendekati Asfa, kemudian merengkuh pinggang sang istri. Keduanya berjalan turun ke bawah agar bisa bergabung dengan keluarga. Sementara heli kembali mengudara meninggalkan atap kapal. Liburan dimulai. Keluarga Phoenix berkumpul dengan cinta kasih untuk saling memberikan kebahagiaan sederhana.
Wajah tegang, tapi pasrah jelas itu yang tergambar dari seorang Justin. Helaan nafas panjangnya mengakhiri perlawanan yang memang tidak akan sanggup untuk mengalahkan seorang queen, "Jadi, apa keputusan mu? Kembali ke dunia itu? Tidak ingatkah masa lalu sangat melukaimu. Aku berharap, kamu tidak keras kepala."
"Apa ada cara lain?" tanya Asfa, lalu berbalik menatap ke luar jendela. Dimana keluarganya berada, "Semua hanya demi Rose. Aku tidak ingin hidup dalam kebohongan lebih lama, lagi."
"Ok, seperti yang kamu inginkan. Semua akan ku siapkan, tapi apa kamu tahu akibatnya? Ini malam spesial untuk Rose dan kebenaran sebesar itu. Apa gadis itu sanggup menerima," ujar Justin berusaha mengingatkan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.
__ADS_1
Tidak ada jawaban. Asfa memilih diam, membuat Justin pergi meninggalkan ruangan itu. Kini yang menjadi dilema adalah sisa waktu yang terlihat seperti gumpalan awan kebahagiaan. Bukan tanpa alasan. Kenapa ia ingin memberitahu kebenaran tentang Abhi pada Rose. Semua itu karena aksi sang putri yang diam-diam mencoba mencari tahu masa lalunya.
Yah, diamnya hanya untuk memberikan kebebasan bagi Rose untuk bertindak mengikuti kata hati. Jiwa muda yang pernah ia rasakan. Saat ini menjadi milik putrinya. Maka, sebagai seorang ibu. Dia bertindak sebagaimana mestinya. Seperti dulu, disaat Papa Luxifer memberikan kebebasan tanpa keraguan. Berat, tapi harus dilakukan.
Took!
Took!
Took!
"Mommy, kenapa sendirian disini?" tanya Rose berjalan menghampiri Asfa yang masih saja menatap ke luar jendela, "Mom! Kenapa diam? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Stop there!" titah Asfa, membuat langkah putrinya terhenti.
Rose mengernyit bingung. Suara mommynya begitu tegas dengan nada intimidasi. Sungguh, tiba-tiba perasaan was-was muncul diiringi degupan jantung yang semakin cepat. Apa mungkin, mommynya tahu, jika ia meretas perusahaan cabang. Jika benar, tamat sudah kehidupan bebas yang selama ini diberikan. Namun, semua perasaan khawatir itu seketika berubah menjadi kerjapan mata.
Wajah cantik dengan senyuman manis berbalik menyambutnya seraya merentangkan kedua tangan, "Come here, my princess. Come!"
__ADS_1
Semua rasa menjadi lumer dengan sikap manis sang mommy. Rose berlari menghampiri Asfa, lalu membenamkan diri ke dalam pelukan hangat yang selalu menjadi kekuatannya. Usapan yang terasa di atas kepala semakin menambah rasa rindunya terobati. Selama ini, ada jarak yang terlihat begitu tipis. Meski keluarga selalu memberikan cinta. Tetap saja, cinta seorang ibu yang sangat dirindukan.
"Happy birthday malaikat mommy. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dan melindungi putri cantik mommy. Doa terbaik untuk Rose," Asfa berbisik di telinga kanan putrinya, lalu memberikan kecupan hangat di puncak kepala gadis itu.