Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 75: AYO, KITA BALAPAN


__ADS_3

Ini bukan sebuah janji, tapi ambisi. Dunia yang dipenuhi ketenangan mulai memanas dengan banyaknya niat penghancuran dari jiwa-jiwa yang merasa terabaikan. Malam berlalu tanpa menghentikan waktu. Tanpa sadar, kesibukan semua orang menjadi rutinitas yang berputar seperti roda waktu otomatis.


Sudah satu hari berlalu dari acara ulang tahun Rose. Namun, keluarga itu masih dipenuhi kesunyian yang tersisa hanya suara celotehan Prince Chubby. Dimana anak itu selalu menjadi teman sang aunty yang teramat pendiam. Tidak peduli seberapa banyak memohon untuk mendapatkan ice cream kesukaannya. Rose tetap tak bergeming menatap kosong ke angkasa.


Sementara di belakang nampak seluruh anggota sibuk mengamati dengan harapan anak kecil itu bisa meluluhkan hati Rose. Sayangnya, sudah hampir setengah, bahkan Prince Chubby siap menangis. Nyatanya, gadis bermata biru tidak memberikan respon apapun. Sontak saja, Asfa meninggalkan tempatnya berdiri, lalu berjalan menghampiri sang putri.


Tenang, tapi terlihat begitu dingin. Vans tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Dia cukup percaya, jika Asfa bisa memperbaiki keadaan. Lihat saja, tangan queen menyambar dua kunci motor dari kotak penyimpanan semua kunci kendaraan. Lalu, melemparkan ke pangkuan Rose.


"Bangun! Ayo, kita balapan." Ajak Asfa yang seketika mengalihkan perhatian Rose, gadis bermata biru menatap kembali ke kunci motornya. Ntah apa yang sudah terjadi, tapi balapan bukanlah ide yang buruk.


"Aunty .... "


"Prince, minta ice cream Bunda, ya. Aunty akan kembali, tapi nanti." Rose beranjak dari tempatnya seraya melepaskan tangan mungil yang menarik kaosnya.


Wajah sendu anak itu sungguh menggemaskan, tetapi tidak bisa mengubah perasaan yang kacau di dalam hatinya. Sebenarnya tidak tega. Akan tetapi saat ini, dia harus melepaskan diri dari rasa tak kuasa. Dimana rasa takut dan masih tidak sanggup menerima kenyataan bahwa ayah kandungnya bukan Papa Vans.


Ternyata berdamai dengan diri sendiri jauh lebih sulit. Daripada berdamai dengan orang lain. Pertarungan di antara hati dan pikiran yang tidak terlihat tapi jelas menyiksa. Seperti beban kiloan tergantung di kedua pundaknya. Begitulah rasa yang menyelimuti kehidupan Rose.

__ADS_1


Keluarga hanya menatap punggung kedua wanita itu dengan tatapan harap-harap cemas. Bagaimanapun, saat ini keduanya tengah dilanda badai hati. Mungkin tidak seharusnya melakukan balapan. Ketika dipikirkan sekali lagi, mungkin saja itu solusi terbaik karena mengingat darah yang mengalir tetaplah sama.


Suara deru motor dari halaman villa, membuat para pelayan berlarian melihat dari balik kaca di dalam villa. Pak satpam bahkan langsung membukakan pintu, ketika melihat Queen dan Nona Muda berjalan menuju garasi beberapa detik yang lalu. Lihatlah bagaimana kedua wanita beda usia mulai menaiki motor dengan gaya yang sama.


"Ready?" Asfa menoleh ke sebelah kiri, dimana putrinya berada, tapi sang putri hanya mengacungkan jempol, "Rute biasa dengan target satu jam, akhir ditempat biasa. Let's go!"


Rose menginjak gas tanpa memperhitungkan waktu, membuat motor yang dikendarai melesat meninggalkan halaman Villa dalam hitungan detik. Asfa yang melihat itu masih menunggu seraya melihat waktu dari jam ditangan kanannya. Jeda yang dia berikan akan cukup seperti perkiraannya.


Lima menit dari yang dia berikan. Pasti sudah membawa Rose ke jalan yang cukup jauh, di saat itulah Asfa memulai perjalanan dengan memacu gas secara perlahan. Kali ini, balapan akan berbeda. Bukan untuk kemenangan, tapi untuk memberikan pelajaran hidup yang berharga. Wanita itu sudah menyiapkan sesuatu yang bisa menjadi pemicu kesadaran sang putri.


Melihat titik lokasi Rose cepat sekali berubah. Maka bisa dipastikan, jika gadis itu mengendarai motor tanpa memikirkan keselamatan diri. Asfa mengambil jalur yang tercepat hingga dalam dua puluh menit mencapai pintu terowongan dengan ujung tempat akhir dari balapan yang tengah dia lakukan. Sementara Rose masih membutuhkan waktu, sedikitnya lima belas menit.


Sembari menunggu, Asfa memilih menyiapkan beberapa cemilan dan minuman yang bisa menyegarkan tenggorokan bahkan juga ada sampanye. Pendopo kayu dengan pemandangan alam menjadi destinasi yang bisa memberikan ketenangan, sedangkan di sebelahnya ada sebuah pohon yang memiliki rumah diatasnya. Ini adalah salah satu tempat pemberhentian ketika melakukan balapan rute lingkaran wilayah.


Benar saja, sebelum lima belas menit berakhir. Terdengar suara deru motor yang datang dari arah biasanya, membuat Asfa tersenyum tipis seraya mengambil segelas sampanye untuk menyambut putrinya. Reaksi Rose bisa terlihat dari caranya mengerem motor secara mendadak, membuat motor itu berputar-putar beberapa kali.


Ciiit!

__ADS_1


"Turunlah! Ayo kita duduk dan berbincang beberapa hal tentang hari ini," ajak Asfa seraya melambaikan tangan.


Rose mematikan mesin motor, lalu menurunkan standar, kemudian turun dari motornya tanpa mencabut kuncinya. Gadis itu melepaskan helm, dengan sekali goyangan kepala rambutnya tergerai jatuh ke bahu. Ditambah hembusan angin yang ikut memainkan terbang mengikuti haluan angin.


"Mommy, bagaimana bisa sudah disini? Bukankah mommy tidak menyusulku, setelah aku melajukan motor." Ujar Rose heran, gadis itu meletakkan helm di sebelah helm sang mommy, kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan seraya menerima segelas sampanye.


Asfa hanya terkekeh karena dunia ini terlalu sempit untuk putrinya. Kemajuan dan fasilitas yang sudah dikembangkan di wilayah tempat mereka tinggal. Rose bahkan tidak tahu, jika wilayah itu memiliki banyak hal tersembunyi.


"Putriku sudah dewasa. Selama ini hanya belajar ilmu pengetahuan dan juga bela diri. Mommy akui, kamu menjadi hacker yang handal, tapi Rose. Apa kamu tahu, dimana kamu tinggal?"


Satu pernyataan dengan pertanyaan. Sudah pasti ini teka-teki, tapi kenapa harus bersikap misterius? Memangnya dia tinggal dimana? Kan sudah jelas di villa pelangi. Jadi, apa yang tidak diketahui? Mungkinkah sesuatu yang sangat berharga atau jangan-jangan ….


Suara jentikan tangan yang terdengar, membuat lamunan Rose yang sesaat buyar, "Kenapa, Mom?"


"Apa yang kamu pikirkan, Rose?" tanya balik Asfa dengan tatapan mata serius menelisik isi hati putrinya.


Rose menghela nafas, tatapan mata yang menunduk seraya memainkan kedua tangan, "Aku …. "

__ADS_1


__ADS_2