Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 37: IZIN


__ADS_3

"Selamat pagi, apa nona pemilik cafe ini?" tanya seorang petugas yang menghampiri seorang wanita tengah duduk bersimpuh di depan kekacauan cafe.


Wanita itu menganggukkan kepala lemah. Sungguh ia tidak pernah membayangkan usaha yang dirintis dari nol. Hari ini, di depan matanya sendiri. Bangunan yang menjadi saksi perjuangan hidup seorang pendatang baru di negara Indonesia. Harus kandas dengan puing-puing kekacauan.


Pak petugas yang merasa kasihan. Akhirnya memberikan kode pada salah satu anak buahnya untuk mengambil air mineral. Setelah ia menerima sebotol air, lalu diserahkan kepada wanita yang pucat pasi dengan bibir terkunci. Tatapan mata yang kosong menatap nanar kekacauan di depan sana.


"Minum dulu! Jangan menyerah, ayo kita kesana saja," ajak pak petugas membantu pemilik cafe bangun dari tempatnya.


Keduanya berjalan menuju trotoar, lalu duduk bersebelahan membiarkan petugas lain melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sementara itu, ia sendiri masih mencoba membujuk pemilik cafe untuk mau bercerita tentang kejadian yang baru saja terjadi, tapi usahanya sia-sia. Sang pemilik cafe masih shock, hingga seseorang datang dengan langkah terburu-buru dan langsung memeluk wanita yang membisu selama lima menit terakhir.


"Syukurlah, Ka Mara baik-baik saja. Maaf, Pak. Bagaimana semua ini bisa terjadi?'' tanya Prita tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh dingin sang kakak tercinta.


Pak petugas menghela nafas panjang, " Kakaknya ade, masih belum menjelaskan apapun. Dari tadi ditanya ini dan itu, tapi cuma diem. Sebaiknya, bawa kakaknya ke rumah sakit. Di sana nanti ada terapi relaxing...,"


"Terimakasih, Pak. Jika boleh, saya izin bawa kakak pulang ke rumah. Jangan khawatir, saya pastikan Ka Mara ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Saya, mohon, pak," kata Prita berusaha menyelamatkan sang kakak agar bisa ia tenangkan dirumah.

__ADS_1


Sejenak pak petugas berpikir, hingga mengangguk setuju. Akan tetapi dengan satu syarat. Dimana Prita dan kakaknya harus di antar petugas kepolisian agar memudahkan penyelidikan lanjutan nantinya. Syarat yang sederhana disetujui begitu saja tanpa harus berpikir ulang. Kini sebuah mobil dengan sirine polisi melintasi jalan utama.


Prita masih memeluk kakaknya yang seperti patung. Keduanya duduk di kursi belakang, sedangkan petugas polisi duduk di kursi depan. Perjalanan hanya ada keheningan. Selama dua puluh lima menit. Akhirnya mobil polisi itu memasuki sebuah pekarangan rumah yang sekaligus menjadi garasi mobil. Rumah dengan desain elegan berlantai dua yang terlihat sunyi, bahkan jauh dari tetangga.


Prita membawa sang kakak keluar dari mobil dengan hati-hati. Tangannya sama sekali tak terlepas memegangi bahu Amara. Pak petugas polisi juga ikut turun untuk memastikan semua aman terkendali.


"Terima kasih atas tumpangannya, Pak. Saya izin masuk, permisi," pamit Prita tanpa berbasa-basi mempersilahkan petugas yang mengantarkannya untuk mampir.


Kepergian Prita yang merangkul pemilik cafe masuk ke dalam rumah di depan sana, membuat kedua petugas polisi kembali masuk ke dalam mobil. Lalu mobil berputar haluan meninggalkan rumah itu, setidaknya sekarang tahu alamat pasti dan penyelidikan bisa dilanjutkan hari berikutnya.


"Ka, please tenang," pinta Prita ingin mendekati Amara, sayangnya sang kakak justru langsung berlari menjauhinya.


"PERGI!" teriak Amara meninggalkan Prita yang tercengang dengan suara menggema memenuhi seluruh rumahnya.


Tangan yang menyambar banyak barang, membuat rumah benar-benar berantakan dengan pecahan beberapa benda mengkilap. Sementara itu, Amara sudah membanting pintu kamarnya dengan kencang.

__ADS_1


"Maafkan, Aku, Ka," gumam Prita mengedarkan pandangan ke seluruh barang yang tidak mungkin untuk diselamatkan.


Sebenarnya bukan tentang semua barang itu, tapi ini tentang apa yang terjadi di cafe penghasil pundi uang keluarga mereka. Jika cafe sudah tidak beroperasi lagi. Maka sumber penghasilan tidak ada lagi, dan cafe itu juga kebanggaan sang kakak.


"Aku harus menemui dalang penghancur cafe yang tega merusak impian kakak ku. Apapun akan ku lakukan demi mengembalikan senyuman Ka Amara," Prita berbalik menuju pintu utama tanpa berpamitan pada kakaknya, ia meninggalkan rumah, dan memilih menggunakan mobilnya sendiri menuju tempat yang seharusnya.


Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama tiga puluh menit. Justru terpangkas menjadi perjalanan delapan belas menit lebih cepat dari waktu normal. Mobil mini Cooper merah berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit. Ketukan jemari di stir mewakili kegalauan hatinya.


Tuk!


Tuk!


Tuk!


"Turun, gak, turun, gak...," gumam Prita teralihkan dengan pemandangan yang ada di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2