
Pukul enam belas tanggal lima belas Februari. Universitas Regal Academy. Kampus yang biasanya sepi ketika malam datang menyapa. Kali ini, terlihat seluruh lampu menyala terang, bahkan saking terangnya hingga terlihat tak biasa. Tidak satupun tempat gelap.
Satu persatu anggota acara truth or dare mulai berdatangan. Pintu gerbang yang sudah terbuka lebar dengan beberapa penjaga yang berdiri di sisi kanan kiri melakukan pemeriksaan data melalui tanda pengenal masing-masing anggota. Permainan terepik yang akan menjadi penyatuan kebenaran dan mengungkap kepalsuan.
Anggota pertama yang datang paling awal. Rektor Wisnu dengan topeng spiderman warna merah menyala. Pria klimis yang memakai pakaian kebanggaannya seperti biasa, rapi dengan harum parfum yang menyengat.
Anggota kedua yang datang adalah Sarah and the genk. Ketiga gadis itu, mendapatkan paket tambahan yaitu gaun yang sama seperti saat acara malam pesta terakhir. Hanya satu perbedaannya yaitu aksesoris kalung liontin yang membuat mereka tercengang. Dimana liontin yang diberikan asli emas murni.
Anggota ketiga yang datang Riswan dan seorang pemuda tak dikenal yang mengenakan topeng joker hitam dan putih. Kedua pemuda itu masuk ke dalam kampus dengan waktu yang sama.
Anggota keempat yang datang Dokter Vincent. Entah saking semangat atau bagaimana. Pria satu itu, berpakaian dokter dengan jas putih yang selama ini menjadi pelindung atas seluruh tindakan kriminalnya.
Anggota kelima yang datang yaitu Tuan Atmaja. Pria yang setengah memiliki kesadaran dengan bau mulut yang terus mengeluarkan aroma alkohol. Bagaimana tidak? Pria satu ini, baru saja menikmati ranjang bergoyang bersama wanita bayaran di sebuah club langganan.
__ADS_1
Anggota keenam yang datang sepuluh menit sebelum acara di mulai adalah seorang gadis dengan penampilan tomboy. Gadis itu datang menggunakan taksi, bukan seperti yang lain. Dimana memilih menggunakan kendaraan pribadi. Setelah memasuki gerbang, mendapatkan izin. Langkahnya tegas menuju gedung yang diam dengan gagahnya.
Satu persatu telah berkumpul di tempat seharusnya. Para anggota akan mendapatkan satu kesempatan untuk saling menyapa. Dimana mereka harus menunggu pemimpin dari acara tersebut di aula utama. Ternyata gedung sudah disulap sedemikian rupa, hingga membuat pangling.
Tak ayal berpikir, jika mereka masuk ke gedung lain. Padahal ini gedung sama. Meski telah menjadi berbeda. Mereka hanya tidak tahu, universitas Regal Academy bukan sembarang bangunan. Desain dari dua rincian berbeda yang dibuat begitu teliti. Kini, mereka akan tahu. Jika apapun yang terjadi di gedung itu, selalu dalam pengawasan.
Termasuk kasus bully yang didapat para mahasiswa. Mungkin orang awam, termasuk mahasiswa berpikir semua buta, tuli dan bisu. Namun, dibalik layar ada penggerak yang langsung bertindak menyelesaikan masalah. Perhitungan tidak pernah berakhir.
Bisik-bisik yang terus menemani malam. Seketika terdiam, ketika seluruh lampu mati tanpa pemberitahuan. Kemudian teralihkan akan suara langkah kaki tegas dengan aura yang mencekam. Suara itu terdengar semakin mendekat hingga sorot lampu jatuh menimpa tubuh seorang wanita bertopeng yang tak lain adalah Queen.
"Welcome to my rules, my game." Asfa menjentikkan jemari, lalu sorot lampu berpindah menyorot ke sisi lain hingga mengalihkan perhatian semua orang ke arah meja panjang dengan bola kristal yang terus berputar. "Good luck."
"Well, selamat malam semuanya." Sambung seorang pria dengan wajah khas Indonesia yang berdiri dengan jarak dua meter dari meja panjang, "Perkenalkan, nama ku Samsul. Pemandu acara malam ini, selamat datang dalam permainan truth or dare."
__ADS_1
Satu langkah maju ke depan dengan pandangan yang beralih menatap satu persatu anggota acara malam ini. Meski tidak ada wajah yang terbuka jelas sepertinya malam ini. Tetap saja, aura yang terpancar dari semua anggota cukup menegangkan. Bungkam, tetapi menyimpan banyak misteri.
"Kalian lihat bola kristal di atas meja?" Samsul menunjuk bola yang terus berputar tiada hentinya di penyangga. "Yap, tekan tombol merah. Lalu ulurkan tangan kalian di bawah pipa. Dapatkan takdir milik kalian. Satu nasehat dariku. Jangan mencoba untuk menukar apa yang kalian dapatkan atau itu akan. Duuaaar!"
Samsul menjelaskan begitu menjiwai, bahkan ekspresi pria itu sangat impresif. Mengagumkan. Alih-alih menyimak, beberapa anggota merasa bosan. Mereka beranggapan tidak penting mendengarkan bualan pria asing di depan sana. Sungguh pemikiran yang malang.
"Tuan terhormat. Sang pengawas dalam diam. Silahkan maju, Rektor Wisnu." Ucap Samsul mempersilahkan dengan senyuman manis yang tersungging penuh semangat membara.
Ini hanya awal, bukan akhir. Satu persatu maju sesuai urutan waktu masuk ke dalam kampus. Babak baru dimulai, detik yang mereka anggap akan berlalu menyambut sinar mentari penuh harapan. Siapa yang akan menjamin itu? Kenyataan yang berselimut permainan baru dimulai.
Setiap gulungan kertas dengan pita warna yang tergenggam ditangan mereka. Itulah takdir yang akan mereka jalani. Mereka yang bersalah akan menghitung waktu mundur untuk akhir dari keadilan, tapi mereka yang berjuang di jalan kebenaran. Tersisa secercah harapan dalam sisa angan.
__ADS_1