Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 121: Amarah, Emosi


__ADS_3

"Nyonya ....,"


Tangan terangkat dengan aura dingin yang mencekam, membuat gadis bertopeng menundukkan pandangan mata, mengunci bibirnya rapat. Jelas sekali, wanita anggun di depannya tengah menahan emosi. Meski telah mendapatkan satu tamparan. Tetap saja, rasa panas tidak sesakit tekanan yang membelenggu jiwanya.


"Aku memberikan pengobatan terbaik untukmu, tapi bukan untuk menjadikanmu seorang pembunuh. Pikiranmu sama seperti mereka. Hanya ada balas dendam. Tujuan permainan ini untuk membuat semua orang jera, bukan trauma. Kebenaran dengan kejujuran itu berbeda."


"Queen, calm down." Vans menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan agar bisa meredam emosi yang pasti bergejolak di dalam dada.


Bukan karena tidak tahu apa yang terjadi, tapi gadis yang ada di ruangan itu, tak lain adalah Nara. Sebenarnya, permainan hanya untuk membuat para pelaku mengaku atas semua kejahatan yang pernah dilakukan. Akan tetapi, begitu mendapatkan kesempatan. Nara justru membuat ulah.


Gadis itu, hampir saja menebas kepala Sarah. Pergerakan yang dapat dibaca secara cepat, membuat Asfa bergerak cepat. Ia ikut masuk ke dalam ruangan khusus tersebut, melumpuhkan Nara seraya menyetrum tubuh ketiga anak lain agar tidak sadarkan diri. Setidaknya, hanya pingsan, bukannya tiada terpisah tanpa kepala.


Tubuh ambruk tak bertenaga. Tidak ada lagi kesempatan untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Padahal musuh ada di depan mata, tetapi tidak seujung kukupun bisa disentuhnya. Sungguh menyadarkan dirinya, bahwa dia adalah gadis yang tidak berguna. Sementara itu, Samsul masih melanjutkan permainan.

__ADS_1


Berhubung pemain terakhir menghilang. Pria itu mengambil random dengan menyanyikan lagu balonku ada lima. Seperti tugas yang tertulis secara jelas dari surat perjanjian. Dimana ia memiliki tanggung jawab untuk terus menjalankan permainan dengan waktu yang sudah ditetapkan.


Pemain yang semakin berkurang, tak membuat pria itu kehilangan akal. Akhirnya pilihan anggota jatuh pada Tuan Atmadja. Pria yang terlihat tegang, tetapi masih mencoba untuk bersikap tenang. Suara instrumen musik kembali terdengar, membuat bidak menari serta berpindah posisi.


"Silahkan, ambil misi Anda, Tuan Atmadja." Samsul mempersilahkan begitu semua bidak berhenti, hingga gulungan kertas muncul dari dalam lubang.


Jelas terlihat tangan yang bergetar dari Tuan Atmadja. Sorot mata yang begitu gelisah. Jangankan memikirkan kondisi Sarah yang masih tak sadarkan diri. Pria paruh baya itu mandi keringat dingin hingga kain penutup tubuhnya nampak basah. Perlahan gulungan kertas dibuka dengan suara detak jantung yang terdengar begitu hingga keluar telinga.


Matanya sudah mengabsen kata, demi kata, tetapi bibirnya tak bisa digerakkan. Kelu dengan rasa yang bercampur aduk. Apakah tidak salah dengan misi yang didapatkan? Tidak. Baik hati, apalagi pikiran langsung menolak mentah-mentah misi yang tergenggam di tangannya. Untuk menyelamatkan diri, maka harus melakukan sesuatu.


Tak ada yang melarang untuk melemparkan misi karena setiap anggota memiliki satu kesempatan untuk menghindari misi. Samsul membimbing Tuan Atmadja untuk mengambil satu bola, lalu melihat siapa nama yang beruntung akan menggantikan dirinya dalam misi yang entah berisi apa. Namun, ketika takdir berkehendak lain. Usaha apapun dari seorang manusia. Tetap saja, tidak bisa menghindari namanya takdir kehidupan yang sudah digariskan Tuhan. Bola itu, berisi namanya sendiri.


Usai sudah dari harapan melarikan diri. Tidak ada yang bisa menyelamatkan, apalagi menutupi rasa takutnya. Sekarang bagaimana ia akan melakukan misi? Jika seluruh aliran ditubuhnya memberontak tak ingin mendapatkan hukuman yang mungkin, seperti yang selama ini terbayangkan olehnya. Sekali saja, kejujuran terungkap dari bibirnya. Tamat sudah seluruh kekuasaan dan permainan dari bayang kegelapan. Sesaat melirik ke arah virtual. Sarah, sang putri masih tak sadarkan diri. Apakah itu artinya kode?

__ADS_1


Samsul bertepuk tangan memecah keheningan, membuat Tuan Atmadja menghela nafas kasar, ''Truth, tunjukkan sisi lain atas nama cinta. Dare, akui satu kebohongan terbesar dalam hidupmu. Aku pilih dare, entah ini untuk pengakuan dosa atau kejahatan. Akan tetapi, setidaknya jiwaku akan terampuni dengan su keputusan yang bisa meringankan hati dan juga pikiranku.''


Semua merasa tegang, alih-alih merasa takut. Mereka tidak sabar untuk menunggu kata selanjutnya dari mulut seorang pebisnis yang selama ini terkenal menjadi pebisnis tangan kasar. Tidak mengenal kata kalah, walau berurusan dengan banyak tangan kanan yang selalu membereskan kekacauan dalam bisnisnya. Namun, tidak dengan pria itu sendiri.


Dimana Tuan Atmadja merasa inilah waktunya untuk berdamai pada diri sendiri. Kehidupannya selama ini hanya dipenuhi tipu muslihat, darah pemberontakan, kesenangan wanita di atas ranjang dan bisnis kotor yang tidak banyak diketahui orang di luar sana. Termasuk kehidupan rumah tangga yang menjadi alasan utama dari rasa bersalah sebagai seorang manusia bergelimang dosa.


Tangannya berusaha ditahan agar tidak gemetar, namun tak ada yang bisa dilakukan. Rasa takut itu ibarat badai dalam keheningan malam. Tidak ada yang bisa menyelamatkan, selain menyadari akan kesalahan yang terpendam. Sekali lagi, ia menoleh ke arah Sarah. Ada rasa lega karena sang putri masih tidak sadarkan diri. Kini ia berani untuk mengutarakan isi hati dan melakukan tantangan yang menjadi miliknya.


"Keluargaku adalah rumah dan terlihat begitu harmonis dari sudut pandang orang luar. Kenyataannya, semua itu hanya palsu. Istriku, wanita tak berguna yang mandul dan tidak bisa memberikan keturunan. Aku mempertahankan pernikahan dengan kesepakatan. Dia merawat putri tunggal ku dari wanita lain yang berprofesi sebagai wanita malam."


"Bukan hanya itu saja. Wanita itu meninggal karena aku yang menyiksanya. Amarah malam itu begitu memuncak hingga ditengah sisa kesadaran ku. Nyawanya melayang dengan bermandikan darah. Aku tidak berniat untuk membawanya ke rumah sakit karena Sarah sudah cukup umur untuk merawat dirinya sendiri. Hanya saja, tanpa minuman. Akal sehatku terus terbayangi wajah dari wanita pembawa petaka itu."


Misinya hanya mengakui satu dosa atau kejahatan, tetapi Tuan Atmadja justru menjelaskan panjang kali lebar. Pria itu bisa lega setelah mencurahkan seluruh beban hati dan pikirannya. Akan tetapi, berbeda dengan Sarah. Wajah gadis itu begitu merah seperti kepiting rebus. Bukan malu, tapi merasa dikhianati tanpa ada sisa kepercayaan lagi.

__ADS_1


Sejak awal, berpikir ibunya meninggal karena tidak sengaja jatuh. Sekarang jelas sudah, apa yang terjadi tidak seperti yang dibayangkan. Bagaimana bisa, kebenaran tentang hidupnya begitu pelik, bahkan menyeramkan. Putri seorang wanita malam? Benarkah. Jika iya, bukankah berarti dia anak haram.


Seketika, ia merasa tak tahu harus berbuat apa lagi. Semua seperti senyap tanpa ada harapan lagi. Lupa akan segala rasa karena yang tersisa hanyalah kehampaan di dalam dada. Ingin berteriak, tetapi bibir terasa kelu. Ingin menangis, air mata tak lagi menyapa. Sesak dengan rasa yang tak bisa diutarakan. Benci, jijik, kenapa kebenaran hidupnya begitu miris?


__ADS_2