
Namun, sayangnya. Gadis bermata biru, justru berbalik, lalu berjalan meninggalkan taman. Akan tetapi, sebelum mencapai ujung taman. Rose menghentikan langkahnya, "Loe yang butuh bantuan gue. Bukan sebaliknya. Jadi, buktikan apa loe bisa kasih bukti malam pesta itu."
Alex menyibakkan kaki kirinya hingga menendang dedaunan kering yang berjatuhan di setapak taman. Awalnya, dia berpikir dengan mengajak Rose bekerja sama. Maka kehidupannya yang selalu dihantui penjara rumah bisa sedikit menjadi ringan.
Semua itu karena, tiba-tiba saja. Sang Kakek yang menemukannya di saat melakukan balapan liar. Langsung memberikan ultimatum. Dimana dia harus memilih di antara perjodohan bisnis atau mengenalkan pacar di hari ulang tahun kakeknya yang ke lima puluh tahun.
Ntah kenapa, wajah Rose yang seketika melintas di bayangannya pada malam itu. Namun, niat hati ingin berbicara di keesokan harinya harus gagal karena si gadis yang berubah menjadi pembicaraan di kampus justru tidak menampakkan batang hidungnya.
Tetapi hari ini, setelah menyampaikan niatnya. Justru harus ditolak mentah-mentah. Memang benar, dia terlalu terburu-buru. Padahal, bukti yang dijanjikan pun hanya sebuah rekaman singkat di malam pesta. Rekaman itu bahkan tidak begitu jelas karena sudah terkena virus.
Tiba-tiba saja, ada langkah kaki yang berhenti di depan Alex, membuat pemuda itu mendongak melihat si pemilik sepatu hitam, " ....,"
"Apa kamu lupa peringatan ku? Dia bukan untuk kamu permainkan." Vans menatap tajam mahasiswa yang beraninya mencoba menjebak putrinya dengan janji manis tanpa bukti. "Sewa saja wanita dari agency biro jodoh. Jangan gunakan Rose hanya untuk kepentinganmu."
Alex terkejut dengan mata membulat. Bagaimana pak dosen baru itu, tahu tentang apa yang terjadi di dalam hidupnya. Kebingungan sang pemuda, membuat Vans menepuk bahu mahasiswanya. Namun, tatapan mata keduanya masih terus beradu.
"Aku akan berikan satu solusi. Apa kamu lihat gadis yang berdiri di lantai dua arah selatan?" Vans membimbing Alex untuk mengalihkan perhatiannya tepat dimana Prita berada, "Dia pasti bisa membantumu. Jika, kamu tidak takut mengatakan siapa identitas mu. Lakukan saja."
Prita? Gadis yang menjadi anggota geng cantika. Sepertinya pak dosen sudah berhalusinasi. Mana mungkin, pemuda lusuh sepertinya dengan percaya diri meminta gadis itu untuk menjadi pacar sewaan. Terlebih lagi, jika ingin menggunakan identitas asli sebagai tuan muda. Sudah pasti akan terjadi kehebohan.
__ADS_1
"Pak, Aku ....," ujar Alex terhenti karena Vans sudah tidak bersamanya, tatapan mata menelusuri seluruh sudut taman. Tetap saja, tidak menemukan keberadaan dosennya itu.
Alex mengusap dadanya berusaha untuk sabar. Dia sadar, jika diantara Dosen baru dan Rose pasti memiliki hubungan spesial. Sayangnya di waktu itu, dia tengah memakai earphones dan tidak mendengarkan pembicaraan yang terlihat serius.
"Apa mungkin, Rose berubah cantik karena menjadi simpanan dosen baru itu? Masa iya, sih." Alex mencoba berpikir untuk menyelaraskan isi kepala dan seluruh fakta yang tersaji, tetapi tetap buntu dan hanya terarah pada satu kesimpulan. "Baby sugar. Jika benar, Aku bisa menggunakan ini untuk meminta bantuan gadis itu menjadi pacar pura-pura dalam semalam."
Konslet. Yah, seperti itulah isi kepala Alex. Pemuda yang terlalu sibuk hidup di dunia balapan liar, hingga lupa memiliki rumah, bahkan ada orang-orang yang merindukannya pun terabaikan. Sementara Rose tak ingin berlama-lama menetap di kampus hari ini. Gadis itu, sudah mengendarai motor sport kesayangannya meninggalkan gedung mewah yang digunakan untuk menimba ilmu.
Laju motor cukup sedang menjelajahi ruas bahu jalan yang tidak begitu ramai. Di saat melewati persimpangan. Netra birunya tak sengaja melihat para anak jalanan yang tengah duduk dibawah pohon dengan membawa barang dagangan masing-masing. Orang menyebutnya pedagang asongan.
Di seberang jalan juga ada sebuah taman. Ntah kenapa, hatinya ingin sekali untuk bergabung dengan anak-anak itu. Setelah menemukan tempat parkir yang cocok. Rose mematikan mesin motornya seraya menurunkan standar menggunakan satu kaki. Kemudian melepaskan helm yang membuat rambut surainya berjatuhan.
Sepatu boots resleting se atas mata kaki terasa begitu nyaman saat digunakan untuk berjalan di segala jenis medan pijakan. Penampilan Rose, sebelas duabelas seperti preman. Semua itu karena si gadis bermata biru menutupi gaun elegan menggunakan jaket hitamnya.
''Hay, Anak-anak. Kenapa wajah kalian murung?" Rose bertanya dengan sikap santai diiringi senyuman tulus yang bisa meluluhkan hati.
Seorang anak gadis berusia tujuh tahun memangku wajah menggunakan kedua tangannya, "Kakak cantik sekali. Apa kakak iki boneka? Mirip di toko Koh Andi."
"Kamu bener, Lis. Boneka aja kalah." Sambung anak lain, membuat Rose tersipu malu menjadi bahan perbincangan.
__ADS_1
"Sudah-sudah. Aku masih manusia, sama seperti kalian. Sekarang katakan, kenapa kalian tidak bersekolah? Ini masih jam pelajaran, loh." Ujar Rose menghentikan pujian untuknya, tetapi pertanyaannya semakin mengubah ekspresi anak-anak semakin sedih.
"Apa kalian tidak bersekolah?" tanya Rose memastikan sesuatu, dan benar saja. Para anak jalanan mengangguk kepala serempak. "Apa kalian mau bersekolah?"
"Mau, mau, mau ....,"
Suara persetujuan yang dipenuhi kebahagiaan terpancar dari sorot mata anak jalanan. Rose bersyukur karena dia tidak harus merasakan panasnya terik matahari hanya untuk mencari sesuap nasi, tetapi kekayaan keluarganya akan memberikan kebahagiaan sederhana untuk banyak orang.
Benar apa yang dikatakan sang mommy. Di luar masih banyak orang-orang yang tidak mendapatkan apapun selain diminta untuk terus berjuang. Kenyataan hidup yang tidak bisa dipungkiri karena pada dasarnya. Setiap kelahiran tidak dilimpahi hidup keberkahan. Terkadang, banyak penjahat yang awalnya orang baik. Semua itu hanya karena keadaan yang memaksa.
"Kakak akan datang kembali besok, tapi sebelum itu. Bisa berikan semua dagangan kalian? Kakak yang akan beli semuanya hari ini." Kata Rose semakin menambah kegembiraan para anak jalanan yang berjumlah tujuh orang.
Siang ini, Rose berbagi minuman dan cemilan bersama anak jalanan. Kebahagiaan itu yang meringankan beban hatinya. Celotehan yang dipenuhi canda tawa memberikan energy positif. Setelah satu jam menikmati kebersamaan. Barulah, Rose memberikan uang yang digunakan untuk membayar semua makanan dan minuman.
"Kalian harus selalu semangat. Jangan menyerah, tetap terus berjuang. Kakak pulang dulu." pamit Rose melambaikan tangan, langkahnya berjalan menjauhi para anak jalanan yang masih setia melambaikan tangan.
Kepergian Rose memberikan hembusan angin segar bagi ketujuh anak jalanan itu, tapi dari kejauhan ada tatapan mata tak senang. Dimana seorang preman mengepalkan tangan menahan geram. Hanya satu yang terlintas di dalam pikirannya. Jika ada orang dermawan. Bisa jadi sumber penghasilannya lenyap begitu saja.
"Awas saja kalian. Malam ini, aku pindahin ke kota lain. Jangan sampai pundi-pundi uang ku melayang hanya karena wajah bahagia anak-anak. Wajah kalian harus selalu memelas, bukan ceria seperti itu." gumamnya seraya menghantamkan tangannya ke pohon yang menjadi tempat persembunyiannya.
__ADS_1