Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 67: TELL ME!


__ADS_3

"Dua hari lagi adalah ulang tahunmu yang ke delapan belas. Tanyakan apapun yang mengusik hati dan pikiranmu. Bunda percaya, mommy mu sudah siap untuk memberikan hak mu sebagai seorang putri."


Rose mendengarkan saran dari Bunda Rania, lalu keduanya kembali melanjutkan makan malam tanpa membuat percakapan lain. Sementara Justin terburu-buru mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Iya mengalami dilema karena pesan yang baru saja didapatkan. Meski tadi Varo berusaha untuk mencari tahu, apa yang akan dia lakukan.


Tetap saja, ia tidak mengatakan apapun. Selain hanya mengucapkan, jika ia pergi untuk sebuah pekerjaan yang memang tidak bisa ditunda lagi. Kali ini, dirinya terbantu karena sang tuan muda hanya tahu. Jika ia tangan kanan adiknya. Padahal pekerjaan kali ini, bukan tentang urusan untuk kelompok mafia mereka. Melainkan untuk urusan pribadi. Sesuatu yang harus dikerjakan sejak lama. Namun, dulu ia berhenti dan kini justru kembali muncul begitu saja.


"Aku tidak tahu bagaimana nasibku nanti tapi saat ini harus cepat ke sana. Jangan sampai terlambat."


Justin merasa begitu cemas. Baru kali ini, dia tidak tahu, apa yang akan dilakukan queen padanya. Jika wanita itu tahu tindakannya. Satu harapan yang ia panjatkan. Semoga Asfa tidak tahu tentang pekerjaan yang memang tidak berhasil ia lakukan. Perjalanan malam ini begitu cepat dan hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke tempat tujuan.


Pria itu langsung turun, begitu mobil terparkir tak jauh dari sebuah gubuk.Terlihat beberapa anak buahnya sudah berdiri di depan gubuk yang cukup tua, "Malam, Bos. Orangnya ada di dalam, mau kami temani?"


Justin hanya mengibaskan tangan, lalu berlari kecil menuju gubuk itu. Akan tetapi, tatapan mata langsung terkejut ketika melihat siapa yang ada di hadapannya. Ingin sekali bergegas untuk pergi dari tempat itu, tapi percuma saja. Tatapan mata itu sudah benar-benar terpatri padanya. Apalagi senyuman tipis yang memberikan kesan intimidasi.


"Duduk!" titah seorang wanita seraya menendang sebuah kursi kayu yang ada di depannya, membuat Justin, mau, tak mau harus mengikuti perintah wanita itu, "Can you tell me. What you do in here? No need to make many Reason. Just tell me clearly."


(Bisakah Anda memberitahu saya. Apa yang Anda lakukan di sini? Tidak perlu punya banyak alasan. Katakan saja dengan jelas.)


Permintaan itu membuat Justin harus meneguk saliva kasar. Kemudian berdehem untuk menetralkan perasaan yang kini ia rasakan. Masalahnya, saat ini, ia masih belum siap, tapi mau tidak mau ia harus berkata jujur. Meskipun itu akan menjadi berakibat fatal dan mungkin saja akan mendapatkan hukuman yang setimpal.

__ADS_1


"Queen, aku tidak bisa berkata jujur selama ini, tapi memang benar. Aku kemari hanya untuk menyelesaikan sebuah misi. Jika kamu ada di sini. Maka itu berarti, tidak ada yang perlu aku jelaskan karena kamu pun sudah tahu semuanya. Jika memang ada pertanyaan. Tanyakan saja karena aku akan menjawab semua dengan jujur."


Asfa tersenyum tipis. Jujur saja, dia tidak menyangka. Jika orang kepercayaannya memiliki rahasia. Sebenarnya, semua itu sudah diketahui sejak lama, tapi hari ini ia ingin tahu bagaimana sudut pandang pria itu. Bukan karena tahu. Akan tetapi, karena kesibukan Justin mengurus masa yang sudah berlalu. Kehidupan saat ini menjadi lebih rumit. Bagaimana tidak, yah, karena kehidupan saat ini pun juga membutuhkan perhatian.


Satu jentikan jari dari Queen, membuat beberapa orang datang membawa sebuah peti. Kemudian peti itu dibuka secara perlahan dan betapa terkejutnya Justin ketika melihat isi dari peti itu. Pria itu langsung terbangun untuk memastikan penglihatannya. Wajah yang tidak asing terbaring kaku. Bagaimana bisa tubuh itu masih utuh? Jika sudah mati, kenapa tidak dimakamkan.


"Dia yang kamu cari, sedangkan yang kamu lihat adalah kembarannya. Kenapa kamu berpikir melakukan kesalahan? Ketika kamu sudah memastikan semua itu benar. Sekarang, apa kamu masih ragu dengan pekerjaan mu sendiri? Apa kamu tahu, di sana aku lelah memikirkan cara agar bisa mengatakan kebenaran pada putriku dan di sini, kamu sibuk melakukan hal yang tidak perlu kamu lakukan."


"Aku tidak akan kecewa. Apalagi marah denganmu. Bagaimanapun kamu tetap keluarga. Jadi, apa kamu sudah menemukan pemilik topeng yang aku minta?" Asfa bertanya dengan suara lebih lembut untuk mengalihkan fokus Justin.


Setiap kata dari Asfa begitu jelas tanpa basa-basi. Ada getar kekecewaan, tapi tidak ditunjukkan. Meski begitu, wanita itu benar. Hati dan pikirannya tengah dipenuhi keraguan. Terlebih lagi, setelah mendengar berita di televisi dan melihat wajah salah satu musuh lama. Sontak saja tidak ada kejernihan di dalam otaknya. Justin memberikan kode jari agar para anak buah meninggalkan tempat itu.


Lima menit kemudian. Setelah hanya ada keheningan. Akhirnya Justin menutup peti yang ia tatap begitu seksama, lalu mengalihkan perhatian ke arah Asfa yang duduk dengan sikap tenang dan juga waspada. Tidak ada lagi senyuman tipis, apalagi tatapan mata tajam. Wanita itu memilih memejamkan mata dengan kedua tangan bersedekap.


Mata yang terpejam dengan pendengaran tajam. Selain suara Justin, Asfa juga tengah mendengarkan hasil pemeriksaan sang mantan suami yang ditangani oleh Vans. Wanita itu berusaha melakukan semua pekerjaan dalam sekali waktu. Yah, begitulah caranya menjadi tahu semua hal dalam waktu bersamaan. Meski begitu, terkadang ada rasa lelah dan membutuhkan waktu istirahat.


"Queen, are you okay?" tanya Justin sekali lagi, tapi kali ini seraya mengusap pundak sang adik yang terlihat enggan membuka mata.


"Hmm. Dua hari lagi ulang tahun putriku. Kosongkan semua jadwal keluarga kita, dan siapkan kapal pesiar. Kita akan melakukan perjalanan bersama. Satu lagi, jangan lupa tingkatkan keamanannya. Perjalanan kali ini, pasti penuh warna. Ayo, kita pulang."

__ADS_1


Malam ini menjadi malam kebisuan. Bukan karena tidak memiliki kata, tetapi banyak cabang pikiran yang tidak bisa dijabarkan seperti rumus matematika. Satu sisi seorang ibu tengah berusaha mencari cara untuk mengatakan kebenaran, dan sisi lain seorang putri ingin mendapatkan hak sebagai seorang anak. Di antara ibu dan putri itu, ada orang lain yang siap meluncurkan aksi balas dendamnya.


Suara ketukan meja seperti irama musik terdengar dari sebuah ruangan. Namun, ruangan itu selalu tertutup dan di atas pintu luar tertulis *Dilarang Masuk*. Ntah apa yang ada di dalam ruangan itu. Satu hal pasti adalah si pemilik ruangan sudah berdiam diri menikmati kesendirian selama setahun terakhir di kamar itu. Meski banyak pelayan yang bekerja. Tetap saja, tidak seorangpun akan melanggar aturan sang majikan.


Tuuk!


Tuuk! Tuuk! Tuuk!


Tuuk! Tuuk!


Tuuk!


Begitulah irama dari ketukan nya. Tiba-tiba, suara itu berhenti bersamaan dengan suara pintu terbuka. Waktu yang menunjukkan pukul sebelas malam, membuat si penghuni kamar berjalan pelan seperti seorang pencuri. Padahal itu rumahnya sendiri, "Start of my game."


...****************...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭

__ADS_1



......................


__ADS_2