
Pria yang mengirim pesan mengangguk, lalu meninggalkan depan rumah tua. Kesunyian malam menjadi tak tertahankan. Pertemuan yang terjadi setelah sekian lama. Namun, ada rasa takut yang mencengkram hati sang bartender. Apakah semua miliknya akan direbut kembali?
Wajah keduanya sama. Tidak ada bedanya, jika dibandingkan kecuali seseorang mengamati secara teliti. Dimana kaki kiri pria yang berdiri didepan pintu rumah, tidak bisa berdiri dengan benar. Melainkan hanya menyandarkan seluruh tumpuan berat badan pada kaki kanan saja.
"Kamu masih hidup? Aku pikir ....," ucap Sang Bartender berhenti, ia tak lupa dengan apa yang menimpa keduanya.
Kenangan akan malam yang membuat kehidupan berubah drastis. Satu pekerjaan dengan bayaran fantastik. Siapa yang tidak tergiur? Mendapatkan kesenangan dan bonusnya adalah uang yang bisa untuk modal usaha. Seperti durian jatuh dari langit.
Si kembar A. Axel dan Azka, keduanya adalah pembunuh bayaran yang biasa mendapatkan pekerjaan secara ilegal. Setiap bulannya hanya menerima satu pekerjaan saja. Tidak lebih karena bisa mengakibatkan resiko yang jauh lebih besar.
__ADS_1
Axel pria yang berdiri di depan pintu rumah, sedangkan Azka adalah sang bartender. Keduanya kembar dengan perbedaan waktu satu menit. Kehidupan yang keras, membuat kedua pria itu memilih pekerjaan yang ekstrim. Lalu, apa kaitannya dengan seluruh cerita?
Axel berjalan menuruni tangga yang hanya memiliki lima anak tangga. Langkah kakinya tertatih-tatih, "Azka, apa kamu lupa perjanjian diantara kita? Walau salah satu di antara kita meninggal. Kita tidak berhak menggunakan uang dari saudara sendiri."
"Aku ingat, tapi mau diapakan uangmu? Bukankah usaha selalu membutuhkan tambahan modal. Jangan naif, Xel. Dunia ini selalu memerlukan hal yang bisa dianggap sebagai kekuasaan." jawab Azka tak mengelak, apalagi merasa bersalah.
Bingung dengan apa yang sudah terjadi. Azka tahu, sifat Axel seperti apa. Ketika saudaranya terdiam, pasti tengah berpikir segalanya. Sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan. Apapun itu, ia harus bertindak terlebih dahulu.
__ADS_1
"Begini saja, kita kelola club bersama-sama. Aku tidak ingin berdebat hal yang sudah berlalu. Bagaimana?" Azka menawarkan penawaran terbaiknya, membuat Axel menatap menyelidik ke arahnya.
"Axel, aku ini saudara kembarmu. Bukan musuh. Kenapa menatapku seperti itu? Jangan bilang, kamu curiga denganku." Sambung Azka terus memprovokasi Axel agar tidak berpikir semakin jauh.
Axel mulai terpengaruh rayuan saudara kembarnya. Pria itu mengangguk setuju tanpa syarat. Melihat persetujuan dari sang saudara. Azka menyeringai. Sebuah rencana matang sudah ia siapkan untuk menambah kejayaannya, namun tidak keduanya sadari. Di malam yang sama, ada orang lain di antara mereka.
Seorang pria yang duduk manis berselimut rindangnya dedaunan. Kacamata hitam yang juga merupakan camera on sudah merekam segalanya. Satu bukti kembali terkumpul. Senyuman puas menghiasi wajahnya. Kini dunia akan menjadi lebih damai.
Malam itu berlalu begitu cepat bersama pelukan kedua bersaudara. Sinar rembulan berganti sang surya yang menerangi. Hari ini, periode kedua pemilihan senat akan berlangsung. Para mahasiswa mulai berdatangan, bahkan saking semangatnya. Mereka datang lebih awal.
Hembusan angin yang menerpa menyebarkan suara samar yang sibuk memperbincangkan calon pilihan masing-masing mahasiswa. Ada yang sumringah dengan masa orde baru, tapi ada yang tenggelam dalam rasa takut. Wajah para mahasiswa begitu tegang karena hari ini. Para finalis akan mendapatkan ujian terbuka.
Dari kejauhan terdengar suara deru motor sport. Tatapan mata semua orang terpana. Kilauan motor hitam yang mengagumkan. Apalagi ketika sang pengendara turun, lalu membuka helmnya. Rambut yang jatuh bersambut angin yang menerpa. Wajah cantik dengan netra biru berbulu mata lentik. Rose Qiara Salsabilla.
"Wow, ngalahin bidadari surga. Kenapa gak dari dulu, sih. Pasti langsung gue tembak," seloroh salah satu pemuda yang duduk di bangku panjang bersama teman-temannya.
__ADS_1
Mahasiswa lain langsung menoyor kening pemuda itu, "Elo pikir, dia mau ama Lo? Siapa lo, siapa dia. Mikir donk, cantik gitu masa mau ama yang buluk."
"Kalian ini, bisa diem gak." sentak mahasiswa lain yang malas mendengarkan keabsurtan teman-temannya itu, sedangkan yang mereka perdebatkan malah sibuk memainkan ponsel dengan menikmati bersandar di motornya sendiri.