
Tuan Luxifer mengangkat tangan kanan Asfa ke atas kepalanya, "Katakan dengan jujur, APAKAH PUTRI KU MASIH MENCINTAI PRIA ITU?!"
Keraguan seorang ayah akhirnya hadir ditengah rasa takut dan khawatir akan masa depan sang putri. Asfa menarik nafas dalam, untuk pertama kalinya. Ia tidak bisa mengatakan pembelaan maupun penjelasan. Di saat situasi semakin memburuk. Vans datang tanpa mengetuk pintu masuk ke dalam kamarnya. Ketegangan di antara anak dan ayah, membuat pria itu bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sang istri terlihat tidak berdaya dan ayah mertua nampak geram menahan kekecewaan dari sorot mata pria itu.
"Bisa katakan, ini ada apa?" tanya Vans berjalan menghampiri istri dan ayah mertuanya.
Asfa menarik tangannya dari atas kepala Tuan Lucifer. Langkah kakinya mundur, ia tak sanggup menjelaskan atau memberitahukan apapun. Sungguh rasa di hati, seluruh pikiran dan juga jiwa raga menjadi satu. Satu sisi, ia menjadi seorang istri yang gagal dan di sisi lain kewajiban sebagai seorang putri pun ikut kandas di dalam kenyataan yang tersembunyi.
"Periku! Ada apa? Kenapa kamu terlihat pucat?"
__ADS_1
Vans bergegas mengambilkan air putih. Pria itu benar-benar mengamati perubahan sang istri, membuat Tuan Luxifer merasa bersalah. Tidak ada niat untuk memberikan beban pikiran pada sang putri, tapi sebagai seorang ayah ada harapan yang hanya bisa diwujudkan ketika Asfa mau menjadi seorang ibu lagi. Ia berharap, putrinya mau hamil lagi untuk memperkuat hubungan pernikahan bersama sang menantu.
Vans membiarkan Asfa untuk duduk di tepi ranjang, tak lupa memberikan sandaran bantal agar perinya bisa beristirahat. Setelah memastikan keadaan sang istri sudah aman dan nyaman. Barulah, ia mengalihkan fokus ke papa mertua. Dimana pria paruh baya itu, tetap terdiam tanpa kata menatap Asfa dengan tatapan kecewa.
"Pa, kita duduk dulu."
"Vans, kenapa kamu tidak pernah mengeluh? Apa kamu, tidak ingin memiliki anak bersama istrimu?"
"Pa, tidak seorangpun yang menolak diberikan anak setelah menjalani hubungan pernikahan selama bertahun-tahun. Aku pernah berharap memberikan adik untuk Rose dan melengkapi keluarga kita. Jika mau jujur, yah, aku merindukan tangisan bayi dari keturunan ku. Mungkin yang mendengar ini, akan berkata aku egois."
__ADS_1
"Keraguan, kekecewaan dan juga harapan Papa. Tidak ada yang salah, tapi takdir berkata lain. Asfa tidak akan membuka janji yang ku minta. Jangan terkejut, Pa. Apapun yang istri ku lakukan, dia tidak bermain petak umpet. Semua jelas dan nyata, seharusnya kami mengatakan ini sejak awal. Mungkin hari ini tidak akan terjadi."
Vans terdiam, ia menjeda ucapannya sesaat sebelum memberitahukan sebuah kenyataan yang bisa melukai hati seorang ayah. Tatapan mata Tuan Luxifer masih menanti dengan rasa cemas. Pria paruh baya itu, menunggu apa yang akan ia dengar dari sang menantu dan kenapa Asfa tidak berdaya seperti saat ini.
"Asfa tidak bisa hamil lagi, meskipun dunia kedokteran sangat canggih dan banyak obat yang bisa diracik. Takdir tidak bisa diubah. Sejak hari itu, insiden yang membuat kita semua kalang kabut. Kami mengetahui hal yang cukup mengejutkan. Rahim istriku harus diangkat. Aku tidak bisa, membuat kalian semua bersedih. Maka, aku memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran ini."
Tubuh Tuan Luxifer terhuyung, Vans langsung menangkap tubuh papa mertuanya. Asfa pun langsung melompat dari tempat tidur, dan menghampiri sang papa. Sudah pasti, pria yang mendidiknya sejak lahir mengalami guncangan hebat. Kebenaran pahit yang tersembunyi selama beberapa tahun. Hari ini terungkap karena harapan sederhana seorang ayah.
"Kenapa kamu tumbuh begitu dewasa? Papa lupa, hatimu yang lembut tetapi berselimut perisai besi. Sekali saja, katakan dan aku siap menjadi pendengar setia. Kenapa, justru kamu biarkan kesalahpahaman ku terus berlanjut...,"
__ADS_1
Asfa tak ingin mengatakan apapun. Kali ini, ia hanya bisa memberikan pelukan seorang anak. Membiarkan sang papa kembali tenang dan juga kuat menghadapi kenyataan. Meskipun matahari bersinar di malam hari. Takdir tidak mengizinkannya untuk memiliki anak lagi. Pada saat ini, pasutri itu hanya bisa saling memberikan dukungan dan tetap percaya satu sama lain.