
Seringai yang tersungging bersama tatapan tak terkendali, membuat Rose mencengkram bahu gadis yang memiliki wajah hampir mirip Nara. Ditatapnya mata beringas itu, "Aku menyelamatkanmu bukan untuk menjadikanmu sebagai nyawa taruhan. Sekali saja, Riswan sadar kamu tidak disana. Kamu tahu kelanjutannya."
Yah, gadis yang bersama Rose adalah saudara Nara dari beda kota. Gadis yang menjadi penyamaran Della, tetapi selama beberapa minggu menjadi tawanan Riswan. Semua terjadi begitu cepat. Entah apa tujuan pemuda itu, hingga menyandera Naira.
"Rose, Aku tidak takut mati. Mereka itu pendosa. Bagaimana aku mengalah hanya karena takut ...," belum juga berakhir mengatakan seluruh isi hatinya, tiba-tiba sentuhan tangan menyambar pipi kanannya. Tamparan ringan itu menyebarkan sensasi panas.
"Kegilaan itu ada batasnya." Tatapan Rose tak lagi bersahabat. Netra biru yang biasanya teduh, kali ini berubah dingin mengintimidasi. Naira tertegun, matanya melemah. "Nara ingin kamu hidup damai, tapi sikapmu ingin kematian."
"Orang harus sadar diri, seberapa kemampuannya untuk menjaga diri sendiri. Tindakan gegabah, emosi meledak. Apa yang kamu harapkan? Jadi tawanan Riswan lagi?" cecar Rose menyambung kegeraman yang meluap dari dalam hatinya.
Kalian tahu, ketika berjuang demi keadilan. Tiba-tiba ada yang mengganggu seluruh rencananya tanpa permisi. Gagal total. Yah, itulah yang terjadi. Hanya karena memberikan kesempatan untuk Naira melakukan keinginan hati gadis itu. Rose menunda putaran terakhir dari permainannya.
"Kamu boleh menamparku, lagi dan lagi. Aku akan tetap disini. Tidak peduli dengan apa pendapatmu." Kata Naira merajuk.
Apalagi yang harus dilakukannya? Keras kepala setiap orang selalu menjadi permasalahan yang utama. Ketika orang tidak memiliki keras kepala, justru memiliki ego yang tinggi. Mau bagaimanapun, tidak mungkin untuk memaksakan kehendaknya pada Naira.
__ADS_1
Sejenak memejamkan mata, menarik nafas panjang. Sekelebat ingatan tentang Nara kembali melintas, memberikan jawaban atas kegusaran hatinya. Perlahan membuka kelopak matanya, lalu mensejajarkan diri berhadapan dengan Naira.
Sorot mata yang berpendar meminta belas kasih, tetapi jalan yang akan ditempuh tidak bisa melibatkan gadis itu. Rose mengulurkan tangannya, "Maafkan aku, ayo ku antar kamu ke apartemen kembali."
"Apa kamu membiarkan aku tetap di kota ini?" Naira bertanya samar, ia tak ingin hanya diberikan harapan palsu. Sayangnya tatapan mata Rose sangat meyakinkan, apalagi anggukan kepala gadis netra biru menjadi persetujuan. "Bisa makan dulu? Aku lapar."
Naira, gadis lugu. Kenakalan yang wajar, tetapi dari balik seringai. Rose bisa merasakan sesuatu yang lain dari gadis itu. Seakan ada yang salah, tapi apa? Tidak tahu, dimana letak ketidakberesan dalam diri seorang Naira.
Keduanya meninggalkan makam untuk kembali ke apartemen. Sementara di rumah sakit utama. Semua dokter dikumpulkan dalam sidang rapat dadakan. Tatapan tajam Tuan Luxifer menusuk berpendar jatuh dari satu dokter ke dokter lainnya.
"Putri ku hanya berkedip sekali dan kalian teledor. Apa yang kalian tunggu? BUBAR. Cari ABHI sampai ketemu." Sambung Tuan Luxifer murka, baru saja mendapatkan kebebasan untuk melakukan pemeriksaan di beberapa tempat yang menjadi bisnis keluarganya.
Berita buruk itu datang mengetuk pintu ketenangan hidupnya. Di rumah sakit elite dengan keamanan ketat. Bagaimana bisa, seorang pasien amnesia menghilang begitu saja. Itu tidak masuk akal. Para dokter berlari meninggalkan lorong rumah sakit.
__ADS_1
Kepergian semua orang, membuat pria yang semakin beruban menghubungi anak buahnya. Mana mungkin mengandalkan para dokter. Dia tahu, dokter ahli dalam pengobatan dan perawatan, tapi tidak dengan pekerjaan yang biasa dilakukan orang-orang terlatih membaca situasi.
Kesibukan semua terus berusaha untuk menyelesaikan masalah masing-masing. Siapa yang memulai? Siapa yang mengakhiri. Tidak ada pembenaran, apalagi kemenangan. Alur kehidupan yang terkadang nampak rumit, nyatanya sederhana. Begitu juga sebaliknya.
Kegelisahan di hati para pendosa. Ketetapan di hati para pejuang keadilan. Layaknya mentari berganti bulan. Waktu berlalu begitu cepat. Hari yang melelahkan, namun tak mungkin untuk melakukan penyerahan.
Pukul 22.00 wib.
Jalanan yang sepi, tetapi berkabut. Sebuah motor memacu kecepatannya diatas batas normal. Motor itu membelah kabut jalanan. Melintasi wilayah hutan dengan tujuan kembali ke mansion yang telah lama tak dikunjunginya.
Sesuatu terus mengusik pikirannya. Seluruh pertanyaan yang mengetuk menjerit mengharapkan jawaban. Semakin besar rasa ingin tahunya, semakin cepat pula laju motornya hingga pintu gerbang nampak di depan sana.
Melalui kamera pengawas dengan sistem pemindai yang canggih. Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, membiarkan pengendara motor itu masuk tanpa kesulitan apapun. Bukan hanya itu saja, beberapa bodyguard berlari keluar mansion menyambut nona muda mereka.
Sementara yang lain menunggu di dalam seperti biasanya. Suara derit pintu gerbang yang tertutup terdengar samar karena mesin motor masih terus dinyalakan hingga pengendara itu turun. Barulah mesin dimatikan. Melihat para bodyguard menundukkan kepala menyambutnya, ia hanya mengangkat tangan.
__ADS_1
"Dimana Nenek Anya?" tanya nya, tapi wanita yang dia cari sudah berada di depannya dengan tangan mempersilahkan nona mudanya untuk masuk ke mansion terlebih dahulu. "Tidak ke dalam, tapi kesana."