Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 97: Kejujuran, apa artinya?


__ADS_3

"Sampai kapan, kamu menyembunyikan itu? Lebih baik Rose tahu darimu."


Benar apa yang dikatakan oleh Papanya, tetapi apa itu akan mengubah keadaan? Tidak. Kenyataannya adalah Rose, putrinya ingin melakukan pertempuran tanpa bantuan dari kekuasaan keluarga. Memang sangat baik. Namun, ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa disepelekan.


Seperti musuh yang terselubung. Satu pertanyaan, bisa mendapatkan jawaban dan seluruh bukti. Tidak perlu bersusah payah dengan kesana kemari seperti orang tidak waras. Sayangnya, kebenaran yang tampak seperti sesuap nasi itu. Bisa menjadi pemicu kehilangan kepercayaan yang selama ini ada dalam diri seseorang.


Asfa menatap dalamnya lautan. Aroma air laut yang menyegarkan, memberikan kebahagiaan. Sudah lama, ia tak berdiri ditebing itu. Terlalu lama menikmati kesibukan dunia. Tiba-tiba, terdengar suara memekakkan telinga. Bukannya takut, wanita itu justru tersenyum mengalihkan perhatian ke bawah sana.


Kepala yang menyembul di permukaan air laut. Tatapan hewan buas yang menakjubkan. Indah, walau mematikan. Kesayangannya, Moly. Melihat ikatan antara putri dan hewan itu, Papa Luxifer tersenyum. Inilah putri yang dia besarkan. Tangguh, misterius, tetapi penuh cinta.


"Apa kamu ingat, apa hukuman untuk seorang pengkhianat?" tanya Papa Luxifer, membuat putrinya hanya melirik sekilas dengan smirk.

__ADS_1


"Orang-orang tahu, siapa Papa. Mereka memang menghargai kepemimpinanku, tapi setelah kamu yang memimpin. Dunia seakan berubah, ketika orang menghabisi musuh dengan mata dibalas mata. Kamu justru memberikan satu kesempatan untuk pertaubatan." Papa Luxifer menghela nafas panjang, ia pun bisa merasakan aura intimidasi putrinya semakin kuat.


"Nak, apa sulit untuk mengatakan pada Rose tentang seluruh tragedi di kampusnya? Bukankah ini sama saja, seperti kamu yang tidak mengatakan pada Abhi. Siapa pembunuh bunda pria itu." Papa Luxifer menggeser posisi, tangannya menggengam tangan Asfa, "Papa tidak mau ada kesalahpahaman diantara putri dan cucu."


Ketegangan sang papa mengubah emosinya. Ingin sekali bicara tanpa harus memikirkan masa pertumbuhan Rose, tetapi ia tahu bagaimana pola pikir putrinya itu. Rose sudah terbiasa mengikuti alur kebebasan tanpa tanggung jawab yang serius. Gadis termuda dari keluarga Luxifer yang memiliki kehidupan 99 persen dunia normal.


Genggaman tangan yang selalu memberi harapan dan dukungan. Asfa mengangkat tangannya, lalu mengecup tangan kekar yang memiliki keriput halus. Kecupan sayang, "Pa, coba pikirkan ini dari sudut pandang seorang ibu. Aku tahu, putriku akan memberontak jika seluruh kebenaran keluar dari bibirku."


"Nak, maafin, Papa." balas Papa Luxifer merengkuh tubuh putrinya, ia tak menyadari jika perbedaan itu memang benar adanya.


Dunia boleh sama, tapi ketika dua anak mendapatkan perlakuan yang berbeda. Sudah pasti akan membentuk pola pikir dan emosi hati yang berbeda pula. Jike terbiasa untuk meng-handle segala sesuatu sendiri, maka dunia mandiri seringan kapas. Namun, ketika dunia sudah mengajarkan hal lain. Maka setiap orang akan mengikuti lingkungan yang menjadi tempat tumbuh kembangnya.

__ADS_1


Apalagi, jika menyangkut hati. Maka dari itu, orang tua di larang untuk bertengkar di depan anaknya karena itu bisa menyebabkan frustasi dini. Sehingga menyebabkan anak mengalami gangguan mental. Termasuk menjaga ucapan, agar tidak ditiru oleh anak mereka.


Asfa melepaskan pelukan, lalu membimbing sang papa untuk duduk bersamanya menghabiskan malam bersama ditemani bintang. Biarlah sejenak menjadi manusia normal yang tidak sibuk dengan masalah dunia. Sementara di sebuah club. Nampak tengah terjadi pertemuan penting.


Isyarat tangan seorang bartender yang mengajak klien-klien satu team untuk memasuki ruangan khusus yang biasa disebut ruangan VVIP. Si bartender berjalan di depan menjadi pemandu para klien yang ingin bertemu pemilik club tersebut. Lorong panjang dengan lampu temaram, tak membuat pusing kepala.


Beberapa waktu hanya berjalan, terus berjalan hingga melewati lorong ketiga. Barulah nampak beberapa pengawal preman yang menjaga lorong rahasia. Dimana di depan sana, ada pintu besi dengan lampu putih terang benderang. Sang bartender berhenti, lalu membisikkan sesuatu pada penjaga pertama.


"Kalian bisa menunggu. Aku harus kembali ke depan." ujar sang bartender, kemudian meminta jalan agar bisa meninggalkan lorong rahasia itu.


Semua orang yang mengikuti bartender memberi akses jalan. Tatapan mata yang tidak peduli, sombong dan angkuh. Mereka berpikir tidak ada gunanya untuk menghargai seorang bartender. Semua kilas wajah itu terekam melewati kamera yang tersembunyi.

__ADS_1


Kalian pikir siapa? Disini aku rajanya, dan kalian hanya pionku. Nikmati saja nafas terakhir kalian, dan tertawalah sepuas hati dengan wajah hewan kalian. ~ucap hati sang bartender mengulas senyuman evilnya.


__ADS_2