Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 116: Gulungan, Perdebatan


__ADS_3

Dari postur tubuh terlihat tak asing, tapi cara jalan pasangannya kenapa seperti kaki kanan diseret? Siapapun dia. Entah kenapa, seperti begitu dekat dengan hatinya. Namun, situasi tak mengizinkan untuk percaya pada siapapun. Termasuk dia yang kini berjalan di sebelahnya.


Lorong panjang dengan lampu temaram. Sembari terus berjalan. Rose mencoba mengingat apa saja yang sudah terjadi. Sejak ia masuk kedalam permainan. Dimulai dari masuk melewati gerbang, lalu pemeriksaan menggunakan keaslian barcode gelang yang seperti jam tangan anti air dan anti goresan.


Kemudian, berkumpul satu ruangan. Gelap, kedatangan Samsul. Berlanjut sedikit drama pembukaan dan penyambutan. Akhirnya perpisahan diantara semua orang yang datang mengakhiri ketegangan. Semua sudah di rencanakan, tapi satu pertanyaan yang mengusiknya. Siapa sang perencana yang mengubah kampus menjadi tempat permainan?


Tidak mungkin orang awam. Sebagai seorang mahasiswa yang terjun dengan jurusan arsitektur. Ia bisa melihat perubahan yang ada dibeberapa titik sudut ruangan. Padahal seluruh mahasiswa tidak pernah mendapatkan hari libur, kecuali di hari valentine. Apakah mungkin dalam waktu satu hari. Sebuah bangunan bisa dialih fungsikan?


Dilema yang di rasakan Rose dengan segala pertimbangannya, membuat gadis itu tidak fokus dengan langkah kakinya. Satu tarikan tangan reflek mengejutkan, tetapi ia bersyukur karena terhindar dari bahaya. Dimana ada pecahan kaca yang menghalangi jalan mereka. Kenapa bisa begitu?


"Thank's," Dilepaskannya tangan sang pasangan, lalu merunduk memeriksa apa yang menghalangi. Itu memang pecahan kaca, tapi aroma yang menguar kenapa tercium seperti aroma anyir. "Apa mereka ingin menakut-nakuti? Kenapa membuat permainan seperti ini."


"Itu tidak penting. Lihat, di tengah-tengah ada gulungan kertas. Pasti ada petunjuk, aku yang ambil atau kamu?" Pasangannya bertanya, membuat Rose mengalihkan pandangannya ke arah yang dimaksud.


Benar ada sebuah gilungan kertas dengan bercak darah yang sepertinya masih segar. Ia tidak gegabah mengambil tanpa perhitungan. Untung saja sudah siap sedia mengantisipasi segala kemungkinan. Dikeluarkannya sarung tangan. Lalu memakainya dengan benar. Barulah mengambil gulungan.


"Bukankah, gulungan ini sama seperti yang diberikan si Samsul?" gumam Rose seraya menarik pita hingga melepaskan gulungan kertas dari cengkraman. "Setetes kesegaran dalam kegelapan. Berteman dalam kesunyian. Teka teki tanpa perjuangan. Siapa dia?"


Tidak tahu apa yang akan mereka temui. Namun, teka-teki itu sudah jelas memang mengharuskan mereka berdua untuk terus berjalan. Tidak peduli apa yang akan terjadi. Keduanya harus menemukan titik solusi agar memecahkan teka-teki tersebut. Hanya saja, siapa yang memahami teka-teki seperti itu?


Rose dan pasangannya berusaha untuk memahami, tapi tetap ada kebingungan karena ia bukan ahli dalam teka-teki. Tidak ada lagi kata. Keduanya saling pandang, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Bukankah orang selalu mengatakan. Jika kegelapan akan selalu sirna ketika ada cahaya yang menyinari?

__ADS_1


"Apakah mungkin, kita harus menemukan sebuah pintu atau apapun yang setidaknya memiliki cahaya lebih terang daripada lorong ini?" celetuk pasangan Rose, setelah langkah kaki keduanya menjauh dari pemberhentian pertama.


Rose ikut memikirkan kemungkinan itu. Teka-teki kembali diingat, tetapi tidak seperti itu. Ada beberapa kata yang menjadi kuncinya. "Mungkin ini tidak berguna, tapi Mommy selalu bilang. Rose, sekeras apapun kebenaran di tutupi. Tetap saja akan timbul menampakkan diri ke permukaan."


"Apa maksdunya adalah permainan truth or dare hanya untuk mengungkapkan siapa saja yang menjadi pendosa di kampus ini? Bukankah ini tujuan dari acara malam ini." celetuk pasangan Rose begitu bersemangat, sayangnya satu pernyataan mengalihkan kesimpulan si gadis bermata biru.


Terkadang lebih baik menyimpan kenyataan. Bukan karena takut akan penilaian, tetapi biarlah berjalan sebagaimana mestinya. Perasaan yang mengatakan A dan pikiran mengatakan G. Apapun yang membelenggu menghantam logika. Akan lebih baik untuk dipendam sementara waktu.


Posisi Rose dan pasangannya terus berjalan menyusuri lorong. Beberapa saat keduanya tak berhenti hingga di depan sana, nampak sebuah pintu yang terlihat begitu pucat. Seperti sudah lama tidak digunakan. Apa yang harus mereka lakukan? Apa hanya perlu mengikuti aturan main dalam permainan?


Tidak jauh berbeda dengan Rose. Anggota lain juga ikut terjebak dengan permainan yang sama, tetapi teka-teki yang berbeda. Setiap lorong selalu ada mata elang yang menjadi pengawas. Di antara kesunyian, tidak seorangpun menyadari. Dinding yang menghimpit mereka merupakan telinga yang bisa merekam semua percakapan selama perjalanan.


"Queen, apa ini benar? Kamu melibatkan Rose. Aku ....,"


Asfa mengangkat tangannya, membuat Vans terdiam. Lalu mengibaskan tangan agar semua orang yang bekerja untuk malam ini pergi meninggalkan ruangan. Setelah menunggu selama dua menit. Pintu tertutup rapat. Sontak ia beranjak dari tempat duduknya.


"Rose, bukan hanya putriku." Asfa merengkuh tangan suaminya, tatapan mata menenggelamkan membius pria yang terus menatapnya tajam. "Ka, kisah ini, bukan dimulai dari Nara Alona, tetapi dari mereka yang menjadi korban. Sementara Rose ikut terlibat. Kamu tahu segalanya. Apakah dibenarkan, jika kita melepaskan satu dari rantai peristiwa?"


Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Apakah haruskah melibatkan putri tercintanya? Iya tak akan sanggup, jika terjadi sesuatu pada Rose. Gadis itu baru saja mendapatkan begitu banyak masalah dalam hidupnya. Lalu bagaimana cara meluluhkan hati Asfa? Ingin menentang, tetapi apa alasannya.


Meski jelas dan benar apa yang Asfa katakan. Ia hanya tak ingin apa yang telah dilindunginya selama ini. Tiba-tiba terluka, walau itu hanya demi kebaikan bersama. Ini bukan tentang ego, namun cinta seorang ayah. Ia terdiam melihat tatapan mata yang begitu dingin. Tatapan yang menyadarkan, bahwa Asfa tidak main-main.

__ADS_1


"Baiklah, seperti yang kamu inginkan, tapi pastikan satu hal. Rose akan tetap baik-baik saja." Vans membalas tatapan perinya dengan perasaan tidak menentu, "Jangan biarkan putriku terluka walau hanya seujung kuku. Dia hidup dan nafasku."


"Aku tidak bisa berjanji. Apalagi mencoba untuk menghentikan semua ini. Ka Vans tahu, semua ini bukan hanya tentang aku, kamu, kita, atau keluarga. Akan tetapi, ini tentang semua orang." balas Asfa tak mau memberikan harapan pada suaminya.


Ia sendiri tak mungkin tega untuk melukai putrinya. Meski setiap kebenaran akan selalu ada hal baru yang mungkin menyakitkan.


Bukankah orang selalu berpikir, ketika melihat sebuah refleksi dari bayangan. Orang-orang akan berpikir itulah kenyataannya, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Bayangan tidak akan pernah bisa dihempaskan. Apalagi dihancurkan. Hanya di saat bayangan itu memiliki wujud, barulah bisa menghancurkan wujud tersebut.


"Asfa, Rose adalah putri kita satu-satunya. Kamu boleh membuat dunia baik-baik saja karena itu memang tanggung jawabmu. Apa kamu ingat satu hal? Jangan pernah melibatkan emosi, ketika itu harus menyangkut keluarga kita sendiri. Bukankah itu yang selalu kamu katakan?" Ucap Vans tak bisa menahan diri, membuat Asfa menggelengkan kepala.


"Tidak ada yang seperti itu, Kak. Di dunia ini hanya ada dua hal kebenaran dan keputusasaan. Orang bisa menyembunyikan kebenaran, tetapi di mata mereka akan terlihat keputus asaan itu sendiri. Apakah kakak pikir, aku melakukan ini hanya untuk satu kebenaran? Tidak." Asfa melepaskan tangannya dari lengan sang suami, lalu berbalik menatap layar virtual yang menampilkan salah satu lorong.


Ditunjuknya wajah salah satu anggota permainan yang memakai topeng cinderella. "Semua yang kulakukan akan memiliki akhir dari segalanya. Ini end. Akan tetapi, bukan berarti keputus asaan itu akan hilang dalam satu malam. Inilah yang tidak kita pahami dan harus kita pahami. Keadilan untuk semua orang."


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2