Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 55: PERBEDAAN ROSE DAN SANG MOMMY


__ADS_3

"Ekhem!" Rose berdehem cukup keras, membuat Vans dan Varo langsung menoleh kebelakang, lalu kedua pria itu saling pandang dengan ekspresi tak biasa.


Vans beranjak dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Sang putri, "Rose, sejak kapan kamu berdiri disitu?"


Rose menatap sang papa begitu intens, tapi hanya sesaat. Sebelum senyuman manis tersungging di bibirnya, "Baru saja, Pa. Aku bawain kopi favorit kalian, tapi kenapa Papa dan Ayah tegang seperti itu wajahnya? Apa ada masalah?"


Vans menghela nafas lega. Setidaknya, saat ini semua masih aman. Tak ingin membuat putrinya curiga, ia bergegas mengambil alih nampan. Kemudian mengusap kepala Rose. Jujur saja ada rasa sedih karena kehidupan memberikan jurang kebohongan. Dimana satu kebohongan itu, suatu saat nanti bisa menjadikan hubungan semua orang renggang.


Aku tidak akan bertanya tanpa bukti. Maaf, Pa. Apapun yang kalian rahasiakan, aku berharap itu bukan hal besar. Biarlah diamku menjadi milikku. Aku akan berusaha tetap tenang.~batin Rose masih menyunggingkan senyuman manis.


"Pa, Rose mau ke tempat kamar Uncle Justin. Nikmati kopinya," Rose melambaikan tangan, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan tempat kedua pria dewasa itu berada.


Kepergian Rose, membuat Varo berjalan menghampiri Vans. Pria itu mengusap bahu adik iparnya. Kini keduanya tak ingin lagi membicarakan hal rahasia di tempat sembarangan. Apalagi mereka memiliki putri yang cukup pandai bermain ekspresi. Pepatah yang mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah itu memang benar ada. Jika sebagai orang tua tidak mengedepankan kebahagiaan anak. Saat ini gadis bermata biru sudah duduk di balik layar bermain taktik.


Namun, Asfa melarang siapapun memberikan ultimatum pada sang putri. Nona muda dibiarkan memilih kehidupannya dengan bebas selama bisa bertanggung jawab. Semua itu dilakukan agar masa kecil, masa remaja dan masa pendewasaan diri seorang Rose jauh lebih terarah dengan pemikiran yang lebih luas. Meskipun, di tengah kebebasan masih memiliki aturan rumah.

__ADS_1


Satu hal yang menjadi perbedaan Rose dan Asfa. Dimana sang mommy menjadi ratu jalanan, tapi putrinya tidak begitu bisa menguasai jalanan. Setelah berulang kali melakukan balapan. Tetap saja, Rose tertinggal dan selalu kalah. Lawan dari setiap anggota keluarga, tidak satupun bisa dikalahkan gadis itu. Meski begitu, ada kelebihan yang hampir menyamai sang mommy.


Keahlian menjadi peretas, yah. Rose bisa diandalkan untuk melakukan pekerjaan itu. Apalagi dibawah bimbingan empat orang sekaligus. Kemajuan gadis itu begitu pesat. Sebenarnya, jika mau, dia bisa meretas data perusahaan keluarga. Akan tetapi, ia tahu satu hal pasti bagaimana karakter sang mommy. Setiap informasi yang bisa menjatuhkan. Tidak akan tersedia di file manapun karena semua rahasia hanya tersimpan di dalam memori ingatan.


Rose berhenti di depan salah satu kamar anggota keluarganya, lalu mengetuk pintu dan tanpa menunggu diizinkan masuk. Gadis itu sudah memutar knop seraya mendorongnya ke depan. Begitu ruangan kamar terbuka, terlihat seorang pria tengah duduk kursi menghadap sebuah laptop diatas meja kerja. Sontak saja, gadis itu menghela nafas. Justin sibuk bekerja, sampai tidak sempat meminum obat yang harus diminum tepat waktu.


"Hay, Cantik. Kenapa bengong aja di depan pintu? Masuklah!"


Rose mengabaikan ajakan sang paman. Ia melangkah berjalan menuju nampan berisi satu kapsul obat dan segelas air putih yang ditutup. Tanpa mengucapkan sepatah kata. Gadis itu menarik tangan kanan Justin, lalu memberikan obat disertai tatapan tajam. Sontak saja, menghadirkan kekehan kecil dari pamannya.


"Uncle, boleh Rose jual laptopnya?" tanya gadis bermata biru dengan santainya, membuat Justin melirik sejenak, tapi langsung kembali fokus ke laptop.


"Laptop ini, harganya tidak akan sebesar uang jajanmu seminggu, Rose," Justin menunjukkan beberapa desain gedung pencakar langit yang memukau, membuat Rose terperangah. "Desainer terbaik sepanjang sejarah, Queen Asfa Luxifer. Mommy mu, bisa bayangkan. Jika gedung ini sudah jadi dan berdiri ditempat strategis. Berapa keuntungan yang akan didapatkan?"


Sebagai seorang arsitek, ia tahu bangunan itu memiliki tingkat seni yang tinggi. Belum lagi setiap detail dari fungsi dan juga desain dari setiap ruangan tergambar begitu jelas. Setiap goresan pena yang begitu rapi dan seirama. Jelas, ia pun harus belajar bagaimana cara membuat gedung seperti itu. Sebenarnya ada satu pertanyaan, kapan mommynya membuat rancangan gedung dengan sistem keamanan yang canggih?

__ADS_1


Justin yang tahu, Rose tengah kagum dengan desain gedung pencakar langit Queen. Sengaja membiarkan gadis itu memainkan laptopnya. Sekedar untuk memperhatikan, mempelajari dan juga membaca rincian dari gedung itu. Ia berharap, suatu saat nanti bisa merasakan bekerja sama dengan nona termuda. Apakah hidupnya akan lebih tegas, atau justru sebaliknya.


"Uncle, bagaimana kantor mommy?" tanya Rose yang kian penasaran.


Sebuah pemikiran terlintas di dalam kepalanya. Jika desain gedung saja bisa secanggih itu, lalu bagaimana fasilitas di tempat mommy nya bekerja. Apakah sederhana atau justru jauh lebih canggih. Satu hal yang baru ia sadari. Dimana menjadi putri orang nomor satu dan keturunan keluarga Phoenix. Justru membuat hidupnya dibebaskan tanpa beban tanggung jawab pekerjaan para orang tua.


"Jika ingin tahu, datanglah bersamaku ke perusahaan mommy mu. Bagaimana?" tanya Justin dengan kerlingan mata.


"Setuju, Aku ingin bisa berkunjung sebagai mahasiswa biasa. Bisakah, Uncle?" tanya balik Rose dengan puppy eyes-nya membuat Justin menepuk keningnya sendiri.


Selalu saja seperti ini, ada udang dibalik batu. Sekali saja, Rose menyetujui sesuatu. Maka, pasti ada alasannya dan dengan cara yang ekstrim. Dulu mengubah penampilan menjadi cupu dan gadis miskin hanya untuk kuliah ditempat yang diinginkan. Sekarang, gadis satu itu, berniat berkunjung ke perusahaan mommy nya sendiri menjadi mahasiswa. Kenapa tidak sekalian menjadi pegawai biasa saja. Sungguh miris, bagi siapapun yang menawarkan hal menggiurkan. Seketika bisa berubah menjadi bencana.


"Rose, gadis cantik ku. Jangan aneh-aneh! Apa kamu mau, uncle ditembak mommy mu? Jika mau melihat bagaimana ruangan Queen. Datang bersamaku atau bersama Papamu. Jika tidak mau, bisa bersama kakekmu...,"


"Rencana yang bagus, Rose bisa pergi denganku. Aku janji, akan menjaganya dengan baik."

__ADS_1


Kedatangan seseorang yang menyela percakapan antara Justin dan Rose, membuat kedua penghuni kamar mengalihkan perhatian mereka. Dimana seorang pria berdiri ditengah pintu dengan penampilan pria pantai. Lihat saja kemeja tipis tanpa dua kancing atas yang sengaja dihilangkan. Pesonanya tak kalah dengan uncle Justin.


__ADS_2