Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 102: Queen terlibat, Kertas Tantangan


__ADS_3

Kepergian Dominic bukan tanpa alasan. Pria itu memang harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara semua orang yang ada di ruang aula hanya bisa menunggu. Bernafas saja, tanpa bisa berkutik. Rasanya sangat canggung, bahkan melihat ekspresi wajah Rektor Wisnu. Mereka gemas ingin mengambil foto pria satu itu.


Pria yang biasanya mengatur sesuka hati dari balik layar. Kini harus tunduk di hadapan pemilik yayasan. Tidak seorangpun berpikir. Kenapa tiba-tiba, pemilihan senat jadi melibatkan orang-orang yang selama ini tidak pernah menampakkan wujud mereka.


Penantian sesaat hingga pak penjaga datang membawa fotokopi dari ujian tertulis yang disiapkan Queen sendiri. Sesuai dengan isyarat tangan salah satu juri. Pak penjaga menyerahkan kertas di tangannya kepada Rektor Wisnu. Lalu, sang Rektor memberikan masing-masing satu lembar kertas soal dan kertas kosong ketiga finalis.


"Baiklah. Ketiga finalis mendapatkan waktu tiga puluh menit untuk mengerjakan soal yang telah ditetapkan. Hitungan dimulai dari sekarang." Jelas Rektor Wisnu bersambut suara peluit dari dosen olahraga yang memahami aba-aba tangannya.


Semua orang mengalihkan perhatian mereka pada ketiga finalis yang mulai fokus membaca soal. Pangestu Mahardika anak jurusan Sastra Inggris. Keringat yang mengalir membasahi keningnya, menjelaskan seberapa banyak beban tegang yang tengah dinikmati seorang diri.


Sedangkan Sarah, bersikap lebih aneh lagi. Setelah membaca soal, justru sibuk melirik kanan lalu kiri. Entah apa yang dicari gadis satu itu. Apakah jawaban akan datang dengan sendirinya? Hanya pikiran dan niatnya saja yang tahu. Namun, ketika melihat Rose menuliskan sesuatu di kertas. Ia berusaha untuk melirik.


Apa sih, jawaban Si Cupu? Aduh, pake ada penghalang segala.~batin Sarah tak jadi mencontek karena lembar soal menghalangi pandangannya.


Suasana semakin memanas bersama waktu yang berlalu. Suara detakan jarum jam terdengar lebih keras daripada suara helaan nafas. Bukan hanya para mahasiswa yang merasa tegang, tetapi semua dosen ikut menikmati pemilihan senat rasa kulkas. Semua itu hanya karena ketenangan pemilik yayasan yang duduk santai di kursi juri.


Tiga puluh menit berlalu. Peluit kembali dibunyikan. Kali ini, bukan Rektor Wisnu yang mengambil hasil ujian, melainkan Dominic. Pria itu kembali di waktu yang tepat. Kemudian menyerahkan pada Queen. Tiga lembar kertas jawaban beserta tiga lembar soal yang Ia berikan.


Queen memeriksa setiap jawaban dengan teliti. Senyuman tipis tersungging di balik topengnya. Jawaban dua mahasiswa sangat mengecewakan, tetapi jawaban putrinya cukup mengejutkan. Ternyata, dugaannya benar. Kini, ia harus mempermudah dan memperbaiki sistem dari Universitas Regal Academy.


Queen menjentikkan jemarinya, membuat Dominic mendekat memahami apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Sebentar saja, biarlah semua mata buta dalam ilusi. Sebelum ia memberikan cambuk kesadaran.


Tabung kaca bulat yang memiliki tiga tantangan dari ketiga mahasiswa menjadi tujuan Dominic. Pria itu mengambil benda penentu tantangan, lalu menggoyangkan beberapa kali hingga bercampur dengan serbuk bola gabus yang penuh. Tidak ada kecurangan.


"Let's start." Titah Queen beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kaki berjalan menghampiri ketiga finalis. Langkahnya diikuti Dominic yang membawa bola tantangan. "Duke. Him firstly."

__ADS_1


"Ambillah! Baca yang keras isi tantangan untukmu. Tidak peduli, jika itu tantangan darimu sendiri." Jelas Dominic seraya mengulurkan tabung kaca bulat ke depan Pangestu Mahardika, membuat pemuda itu gemetar ketakutan, tetapi tetap mencelupkan tangannya.


Satu gulung kertas berhasil ia genggam. Tatapan serius Dominic terus menatapnya, bahkan tanpa berkedip. Pria itu sangat mengusik ketenangan nya, meski tidak bisa melihat wajah yang bersembunyi di balik topeng. Tanpa sadar, pemuda itu melamun.


Queen menjentikkan jemarinya, menghentakkan lamunan yang entah kemana arah tujuannya. "Tell fast!"


"Tantangan dari Sarah Atmaja. Jika terpilih menjadi ketua senat. Apa saja yang akan kamu lakukan? Bisakah mengusir semua kaum tidak berkelas dari kampus yang mewah dan bergengsi kita. Jika iya, bagaimana caranya?"


Semua yang mendengar tercekat, tak sanggup menelan saliva. Bagaimana bisa, gadis satu itu memiliki tantangan yang dengan lantangnya menentang para mahasiswa jurusan beasiswa dan dari keluarga kelas menengah kebawah? Apa gadis itu sudah kehilangan akal sehat.


"Next." ucap Queen tak ingin berkata apapun. Ia tak perlu panjang kali lebar mengatakan emosi dan pendapatnya.


Dominic berjalan menghampiri Sarah yang duduk di tengah, lalu mengulurkan tabung kaca bulat ke gadis itu. Tatapan si gadis ingin sekali bisa mencoloknya. Kenapa terlalu genit? Bisa-bisa darahnya ikut mendidih karena terlalu lama di dekat si gadis tak berotak.


Kertas tantangan dibuka, tetapi tanpa sopan langsung menggebrak meja. Semua terkejut dengan tindakan spontan dari Sarah. Apalagi tangan gadis itu, sudah menunjuk murka ke arah Rose yang masih duduk santai tanpa beban pikiran.


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Sontak saja Sarah tersadar. Jika saat ini, di depannya ada pemilik yayasan. Benar-benar teledor. Bukan hanya itu, semua orang menatapnya dengan tatapan tercengang tak percaya akan tindakan kurang sopan santunnya. Akhlak yang zero.


Dominic mengambil kertas yang terjatuh ke lantai karena Rose ikut berdiri. Meski tidak melawan, gadis itu hanya sekedar menatap sekilas, kemudian duduk kembali. Seakan tidak terpengaruh dengan semua yang terjadi. Kertas dibuka, lalu membacakan tanpa jeda.


"Apalah arti mahkota? Ketika lupa akan tanggung jawab. Contohkan tiga bukti kepemimpinan dengan menyelamatkan korban bully, saat ini juga. Tertanda Rose."


"Next!" Titah Queen sekali lagi, membuat Dominic mengangguk.


Pria itu menyerahkan tabung kaca bulat ke arah Rose. Gadis itu dengan tenang mengambil kertas tantangan terakhir. Lalu membuka gulungan, bukannya membaca. Justru beranjak dari tempatnya. Entah apa yang akan dilakukan, tetapi semua orang menunggu cemas dan was-was.

__ADS_1


Beberapa saat, Rose sibuk melakukan sesuatu dengan mondar-mandir mengumpulkan beberapa bahan yang ia perlukan. Meja, kursi, kertas, sebuah pot berisi tanaman hijau dan lain-lain. Sementara Queen menyandarkan tubuhnya ke meja, diam melihat segalanya.


"Queen, semua sudah siap." lapor seseorang dari seberang yang terdengar dari earphones telinganya.


.


.


.


Sore reader, yuk bagi semangat kalian ke karya teman othoor. 🤭 hanya disini... 👇👇👇


...🍃🍃🍃👇👇👇🍃🍃🍃...


.


.


.


"Aku pergi, Xander. Kuharap kamu akan baik-baik saja." ~ Tania Maharani


"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Aku sangat membencimu! ~ Alexander Vincent Pramono


Rumah tangga harmonis yang diharapkan langgeng hingga maut memisahkan rupanya hanya angan belaka. Tania harus pergi meninggalkan suami tercinta dalam keadaan hamil.

__ADS_1


Lantas, bagaimana kehidupan Tania setelah resmi berpisah dari Xander? Akankah Arsenio menerima Xander sebagai ayahnya setelah mengetahui pria itu akan menikah lagi?



__ADS_2