
"Amazing day." Samsul menggeser posisinya lagi maju satu langkah ke depan, tidak ada yang menyadari. Jika pergerakan pria itu juga mengaktifkan tombol yang tidak tampak dari pandangan semua orang. "Setiap takdir hanyalah sepenggal kisah. Mari, kita lihat kisah kalian."
"Hey, aku lelah mendengar suara cempreng mu." Seru Della tidak takut, bahkan gadis berambut sebahu itu menatap sinis ke arah Samsul yang terkejut dengan nada oktaf seperti guntur yang menyambar.
Ketidakwarasan Della, membuat yang lain menghela nafas panjang. Bagaimana bisa di situasi yang begitu tegang. Justru gadis satu itu, bersikap sesuka hati. Anak-anak saja tahu dan bisa merasakan, bahwa atmosfer di sekitar mereka hanya ada ketegangan yang mencekam.
Samsul bertepuk tangan mengagumi keberanian Della, tetapi seulas senyum smirknya menjelaskan hal lain. "Gadis tak berakal. Up's, bukankah kamu selalu bersikap benar? Ah, ya. Aku ingat, bagaimana rasanya menyiram mahasiswa lain dengan air comberan? Apa kamu ingat, berapa kali melakukan hal sama selama belajar di kampus Regal Academy."
"Pasti tidak," sambung Samsul sembari berdecak dengan tangan berkacak pinggang. "Tenang. Ada aku disini, akan ku bantu mengingat. Jika di antara kalian mengalami serangan amnesia dadakan."
Geram rasanya. Bagaimana bisa Samsul bersikap sok dan membicarakan tentang putrinya, bahkan melupakan ada dia di ruangan yang sama. Niat hati ingin maju, tapi tiba-tiba. Satu langkahnya mengaktifkan alarm. Sontak saja suara yang bergema membuatnya mundur tanpa paksaan.
Apapun yang dikatakan Samsul. Nyatanya Della terdiam. Gadis itu merasa ada yang membekam mulutnya. Bagaimana cara pria di depan sana dengan entengnya mengatakan kejadian yang sudah tidak diingat, bahkan tidak pernah ia pikirkan.
"Ck. Ck." Samsul menggelengkan kepala, mengalihkan perhatiannya pada Dokter Vincent. "Papa yang baik, tapi maaf Tuan Vincent. Selama acara berlangsung, hanya aku yang berkuasa. Jadi, pikirkan sebelum bertindak."
__ADS_1
Tidak paham dengan apa maksud dari Samsul. Bukankah acara hanya tentang truth or dare. Lalu kenapa jadi berubah menjadi seperti permainan penjara dan jalanan. Aneh, seakan semua yang terjadi harus mengikuti aturan mainnya. Jika tidak, sudah pasti mendapatkan hukuman.
Tatapan mata yang beralih dari satu orang ke orang lainnya, membuat aliran darah mengalir semakin cepat dengan emosi yang meningkat. Sibuk dengan kemelut di dalam pikiran masing-masing. Namun, itu tidak berlaku bagi Rose. Si gadis bermata biru mencoba mengamati sekitarnya.
Pola dari tempat berpijak, tempat berdirinya Samsul, dan setiap sudut ruangan yang mendapatkan sinar pencahayaan begitu minim. Temperatur udara, kelembaban dan juga banyaknya tingkat hembusan angin. Setelah mencerna situasi dan kondisi. Ia bisa memastikan jika tempat itu tak ubahnya benteng pertahanan.
Secara tidak langsung. Seluruh ilmu yang diajarkan mommynya sangat berguna. Selicik apapun seseorang. Ketika lawannya mampu membaca keadaan. Tentu bisa beradaptasi dan mampu melawan. Untuk mengalahkan sistem, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tempat yang sama dengan kondisi yang berbeda. Aku tidak tahu, semua ini hanya kamuflase atau memang dalam waktu singkat diubah sedemikian rupa. Satu yang pasti. Tidak seorangpun bisa keluar dari kampus hingga permainan berakhir.~kata hati Rose menghela nafas pelan hanya untuk menenangkan dirinya.
Terlalu cepat untuk mencerna semua, hingga lampu dipadamkan tanpa aba-aba. Kemudian terdengar hitungan mundur dari pengeras suara. Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, empat. Terdiam sesaat, hingga hitungan kembali berlanjut. Tiga, dua. Welcome to the games.
Lampu kembali menyala, bergerak seperti putaran angin dari utara ke selatan. Kegelapan yang berubah menjadi terang benderang, membuat semua anggota menutup mata dan ada yang mencoba mengerjap menyesuaikan cahaya agar bisa melihat segalanya. Tanpa kata atau rasa. Akan tetapi, tidak nampak keberadaan Samsul di antara mereka. Pria itu menghilang.
Satu persatu membawa rombongan masing-masing untuk mencari jalan keluar dari kampus Regal Academy. Sebenarnya aneh, permainan macam apa yang tengah mereka mainkan? Tidak ada wasit, apalagi juri. Justru mirip tour dadakan di malam hari. Aneh, tapi mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Tentu setelah game berakhir.
__ADS_1
Sarah, Della, Prita pergi menuju jalan yang dengan lampu putih menyala terang. Sesuatu menjadi perhatian Rose. Dimana langkah ketiga gadis di depan sana terus maju ke depan. Namun, disaat bersamaan, lampu dari ujung jalan dipadamkan. Apa itu berarti, jalan satu untuk satu kesempatan menjelajahi? Bisa jadi.
Rasa penasaran yang tidak bisa dijabarkan, membuat Rose terpaku. Gadis itu hanya mengamati apa yang terjadi pada semua orang. Satu persatu pergi dari ruang pertemuan. Begitu juga dengan jalan yang langsung dipadamkan setelah ada yang memilih.
"Hey, sisa satu jalan. Ayo!" Ajak seseorang dengan penampilan bertudung melambaikan tangan pada Rose yang diam tak bergeming. "Hello! Aku bicara denganmu."
Suara itu? Sangat familiar, tapi apakah mungkin? Tidak. Ingin menolak. Sudah pasti tidak bisa. Tanpa menjawab. Langkah Rose berjalan maju menghampiri pasangannya untuk memulai perjalanan rahasia yang tidak bisa dibayangkan olehnya. Rasa di hati terus berpacu hingga suara detakan jantung semakin bertalu-talu.
.
.
.
__ADS_1