
"Seorang pembunuh?" tanya si gadis memastikan pendengarannya tak salah, Si bapak mengangguk untuk mengiyakan, bahwa yang dikatakan itu memang benar adanya.
"Yah, Dia seorang pembunuh,tapi itu hanya teriakan para orang-orang yang sengaja membuat keonaran di desa ini. Bapak sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jujur saja, pada saat itu para warga sibuk melerai dan membiarkan perkelahian di kedai kopi itu berakhir."
"Cuma ada yang aneh, sih. Anak itu tak lagi terlihat, sejak malam itu. Banyak yang bertanya-tanya dan ada juga yang merasa kehilangan karena melihat kebiasaan setiap kali melihat pohon jambu yang menjadi tempat favorit Malik. Yah, cuma seperti itu, sih, dek. Apa masih ada yang ingin ditanyakan, oleh Adik? Jika iya, bapak siap menjawab," jelas si bapak pemilik rumah dengan sopan dan di saat bersamaan istrinya kembali ke depan rumah dengan membawa nampan berisi gelas air minum teh yang masih mengepul.
"Kalian sudah selesai ngobrolnya? Emang apa yang diobrolin, sih, Pak. Ibu kepo ini," ucap si ibu setelah meletakkan nampan di depan si tamu dan suaminya sendiri.
"Ini, loh, Bu. Si Enengnya tanya soal Malik, tetangga yang rumahnya tiga rumah dari rumah kita," jawab si bapak seraya mengambil gelas yang disentuhnya masih sangat panas, sontak saja tak jadi mengambil, lalu mengibaskan tangan.
"Bapak ini, teh nya kan masih panas. Mbok yang hati-hati, gitu loh," Sindir si ibu dengan gelengan kepala, lalu mengalihkan tatapan matanya menatap si Eneng kembali.
"Neng, mau tahu soal si Malik? Ibu-ibu sini juga masih heboh soal anak itu, tapi seingat ibu, sih, ya. Sekitar tiga minggu yang lalu, waktu ibu lagi berkunjung ke rumah saudara yang di kota. Ibu kayak lihat si Malik, loh, Pak. Ya mungkin saja, bisa jadi bukan anak itu. Nggak tahu juga, sih, ya. Soalnya waktu itu, ibu juga jauh banget liatnya dari tempat keramaian pasar."
"Waktu itu, sekitar jam satu-an siang, tapi berhubung ibu lagi belanja bareng saudara, ya akhirnya sibuk lagi milih-milih sayuran gitu," Jelas si ibu pemilik rumah panjang tanpa dikali lebar.
"Boleh, Saya tahu rumah Malik di sebelah mana, Pak? Setidaknya, saya ingin melihat, bagaimana rumahnya." Gadis itu bertanya dengan sopan karena ia tak ingin merepotkan lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Mari, bapak antar ke rumah itu, tapi sepertinya sebentar lagi akan hujan. Apa Neng masih mau kesana sekarang juga" tanya balik si bapak.
Gadis itu mengangguk, "Iya, Pak. Saya juga harus kembali ke rumah. Apalagi, saya memang sengaja pulang dari kuliah langsung mencari alamat Malik karena ini memang sangat penting." Balas Gadis.
"Neng ini, pacarnya Malik, ya?" Tanya si Ibu penasaran, tapi gelengan kepala gadis itu, membuatnya melongo.
"Bu, Bapak antar si Eneng dulu ke rumahnya Malik. Nanti balik lagi, tapi diminum dulu, Neng, minumannya," Bapak berpamitan pada istrinya dan membiarkan gadis itu untuk setidaknya mencicipi minuman yang dibuat oleh sang istri.
"Terima kasih, Bu, atas semuanya. Kalau begitu, saya permisi. Mari, Pak." ajak sang gadis setelah meletakkan gelas yang kini tinggal setengah air teh.
"Ini, rumahnya, Pak?" tanya si gadis dengan tatapan menelusuri seluruh halaman rumah yang memang benar-benar terlihat sangat sunyi sepi.
"Iya, Neng, ini rumah si Malik. Dia memang cuman anak tunggal dan orang tuanya mengalami kecelakaan sekitar dua tahun yang lalu.Jadi, ya maklum aja. Rumahnya tak terurus, apalagi setelah Malik pergi. Maka tidak ada lagi yang datang kemari atau sekedar untuk membersihkan rumah ini." Jelas si bapak tanpa basa-basi pada si gadis, membuat Gadis itu mengangguk paham.
"Apa boleh, Saya masuk ke dalam, Pak?" Gadis itu sedikit ragu karena ia sadar permintaannya sangat berlebihan dan disebut tidak punya sopan.
"Eneng ini, mau lihat isi rumah punya Malik. Jika iya, sebaiknya datang ke rumah pengurusnya saja. Rumah si pengurus memang sedikit jauh dari sini, tapi bisa dijangkau. Apa Neng menggunakan kendaraan untuk datang ke desa ini. Jika iya, perjalanan lebih cepat." si bapak berusaha memberikan pengarahan yang benar.
__ADS_1
"Saya menggunakan mobil, Pak, tapi ada di radius lima meter dari rumah bapak. Jadi cukup jauh, jika saya harus kembali. Bisa tunjukkan saja, rumah sang pengurus disebelah mana? Saya akan datang berkunjung sendiri," ujar Gadis itu tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi.
"Eneng, lihat belokan yang di tikungan itu?Nah, di sisi itu, trus bisa belok kiri dan rumah nomor dua. Disitulah rumah si pengurus namanya Mbah Darso. Kalau memang, Neng ragu. Biar bapak antar saja," Tawar si bapak dengan baik hati.
Gadis itu menggelengkan kepala. Ia tak ingin merepotkan si bapak lebih banyak lagi, "Terima kasih, Pak. Saya sudah cukup, bisa datang ke sana sendiri dan mencoba untuk berdiskusi agar diizinkan untuk melihat rumah Malik. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Salam buat Ibu, terima kasih sudah mau direpotkan oleh saya."
Bapak itu mengangguk dan membiarkan gadis yang berkunjung ke rumahnya untuk berjalan berbeda arah. Sementara ia memilih untuk kembali pulang, meskipun ada rasa tidak enak karena meninggalkan Gadis itu di desanya seorang diri. Meski begitu, tetap saja dirinya tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Mungkin saja, tujuan gadis itu sangat penting dan tidak boleh diketahui oleh orang lain juga.
Beberapa saat, Gadis itu hanya berjalan dan terus berjalan menyusuri jalanan, hingga beberapa rumah terlewati dan juga terlihat belokan panjang ia mengambil belokan kiri, lalu menghitung rumah pertama dan melihat rumah kedua. Rumah sederhana dengan atap yang masih jerami. Jika dilihat, rumah itu seperti gubuk, bahkan hampir bisa dikatakan rumah reyot. Jika terkena angin, mungkin bisa terbang semuanya.
Langkahnya memasuki halaman yang cukup kontras karena hanya satu kali dua meter. "Permisi, apa ada orang?"
Entah saking kecilnya rumah itu atau bagaimana? Si pemilik rumah, tiba-tiba saja sudah ada di depan tamunya dan membuat Gadis itu sedikit terkejut. Untung saja dengan cepat menetralkan ekspresi wajahnya, "Apa Bapak, yang bernama pak Darso, pengurus dari rumah anak bernama Malik?"
Pak Darso mengangguk, "Maaf, adik ini siapa? Kenapa tahu saya pengurus rumah den Malik."
Gadis itu mengulurkan tangan, lalu tersenyum, "Kenalkan, saya Prita. Saya datang kemari ingin meminta izin, untuk memeriksa rumah Malik. Saya tidak bermaksud macam-macam, bahkan bapak bisa menemani saya untuk memeriksanya. Akan tetapi, saya harus memeriksa rumah itu karena ada hal yang tidak bisa saya jelaskan. Apakah diizinkan, Pak?"
__ADS_1