
Tuk!
Tuk!
Tuk!
"Turun, gak, turun, gak...," gumam Prita teralihkan dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
Seorang pria berpakaian formal tengah memberikan ceramah pada seorang pemuda yang menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Sebuah tamparan yang baru saja memberikan cap lima jari menjadi bukti amarah pria paruh baya yang berdiri di depan mobil Prita.
"Itu kan Riswan, ngapain dia di kantor Om Atmaja?" tanya Prita pada dirinya sendiri.
Ntah apa yang dibicarakan kedua pria beda usia di depan sana, tapi yang pasti ada hal mencurigakan. Kini niat hatinya berubah haluan dengan beberapa pertanyaan yang mengganjal pikiran. Setelah diam selama sepuluh menit di dalam mobil. Akhirnya Prita memilih mengikuti kepergian Ridwan yang mengendarai motor sport merahnya melintasi jalanan raya.
__ADS_1
Seperti penguntit saja. Ia menyetir mobil benar-benar sangat perhitungan setiap kali ingin menyalip mobil lain, bahkan memilih memberikan jarak yang cukup tidak mencurigakan. Perjalanan dari jalan utama, lalu beralih ke jalanan sedang membuat mobil mini Cooper itu bebas tanpa hambatan menyusuri medan apapun.
Motor sport merah itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Sekilas rumah yang Riswan datangi terlihat tak terawat, tapi pertanyaannya. Rumah siapa itu? Terlihat Riswan turun, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana. Sebuah amplop coklat yang cukup tebal. Dimana amplop itu dimasukkan ke dalam bawah pintu rumah.
"Sebenarnya apa yang Riswan lakukan? Amplop itu isinya apa? Kenapa tidak mengetuk pintu dan langsung memberikan ke pemilik rumah saja," Prita bermonolog seorang diri dengan rasa penasaran, hanya saja ntah kenapa juga Riswan tidak segera pergi meninggalkan rumah itu.
Rasa tidak sabar, membuat Prita mengalihkan perhatiannya sejenak untuk mengambil ponsel dari saku. Di saat itu, sebuah tangan keluar dari lubang dinding dengan mengulurkan kertas putih lecek yang langsung diterima Riswan. Tanpa membuka, pemuda itu bergegas kembali ke motor. Kemudian menyalakan mesin, dan kembali berkendara setelah menyelesaikan pekerjaan.
Sementara itu, Prita bingung mau kembali menguntit Riswan, lagi, atau justru memeriksa rumah di depan sana. Jika ingin melanjutkan perjalanan. Sepertinya percuma, motor sport itu sudah menghilang di balik belokan di ujung gang.
"Aku periksa saja," gumamnya melepaskan sabuk pengaman, lalu turun dari mobil setelah pintu dibuka.
Prita berjalan lima belas langkah dari tempat mobilnya terparkir, hingga ia berhenti tepat di depan rumah dengan posisi yang sama seperti riswan berdiri tadi. Pintu kayu dengan engsel pintu berkarat. Rerumputan liar di halaman, lumut subur tumbuh di beberapa bagian dinding. Serta beberapa lubang dinding sebesar kaleng susu. Rumah itu seharusnya di ambruk kan saja.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
Tiga ketukan sengaja dilakukan gadis itu untuk mengetahui apa di dalam sana ada orang. Akan tetapi tidak ada jawaban, sekali lagi Prita mengetuk dan kali ini lebih keras. Namun, masih saja tidak ada jawaban.
"Aku pasti sudah tidak waras. Rumah reyot seperti ini, siapa yang mau tinggal? Sudahlah, aku pulang saja," kata Prita dan berbalik membelakangi pintu.
Gadis itu berjalan meninggalkan rumah reyot dengan bersenandung lagu kesukaannya. Suasana hati yang kurang membaik menjadikan Prita tak ambil pusing soal semua yang baru saja ia alami. Mobil mini Cooper beranjak meninggalkan tempatnya, dan di saat itulah. Sebuah tangan dengan gelang hitam kembali muncul dari balik dinding.
"Keluarkan, Aku."
__ADS_1