
[Your time is only 24 hours. Give back to me this card memory with your job's. Good Luck. Alex Han Yuan.]
(Waktumu hanya 24 jam. Kembalikan padaku kartu memori ini dengan pekerjaanmu. Semoga beruntung. Alex Han Yuan]
"Hah! Apa ini ada kaitannya dengan kasus di kampus? Jika iya, pasti gadis itu ikut bertanggung jawab. Rupanya mau main-main denganku, ya."
Apapun yang Alex pikirkan. Mungkin saja itu benar, tapi bisa saja salah. Sementara dua motor sport hitam yang berpisah, akhirnya bertemu kembali. Ketika melewati sebuah taman yang letaknya tak jauh dari kampus Regal Academy.
Kedua pengendara itu, sepakat untuk melakukan pekerjaan terakhir di taman tersebut. Dimana malam yang semakin larut, justru mempermudah pekerjaannya. Setelah motor terparkir secara bersebelahan. Helm fullface itu dibuka hingga menampakkan netra biru setenang lautan.
"Mom, apa langkah ini sudah tepat? Aku rasa, Alex bisa menebak. Jika yang melakukan permainan adalah diriku." ucap Rose sedikit ragu, namun Asfa memilih diam seraya melepaskan helmnya.
Wanita anggun itu justru duduk bersandar seraya memainkan ponselnya, "Rose, relax. Ketegangan tidak baik untuk kesehatan. Mommy tahu, siapa itu Alex. Jadi calm down, putriku. All fine."
__ADS_1
Wow. Sederhana sekali. Selalu seperti itu, ketika melakukan pekerjaan bersama sang mommy tercinta. Apalah arti ketegangan? Jika kenyataannya, tidak serumit bahan pembuat peledak. Apalagi serumit meracik racun terbaru yang bisa merenggut nyawa manusia dalam hitungan detik tanpa rasa sakit.
Meskipun, dia putri dari queen sendiri. Nyatanya, sikap tenang yang sedingin kulkas tidak bisa menetap seperti rembulan di malam hari. Seringkali, sisi lembut hatinya meronta memberikan belas kasih. Sementara sang mommy, tidak bisa dibelokkan. Jika bukan atas keinginannya sendiri.
"Mom, boleh Rose tanya sesuatu?" Rose mendongakkan kepalanya menatap ke angkasa tanpa melepaskan helmnya.
Asfa memasukkan ponselnya ke saku jaket, lalu memusatkan diri menatap putrinya yang terdengar dilema. "Tanyalah. Mommy disini untuk memberikan jawaban."
"Apakah mommy akan kembali pada Papa Abhi, atau akan tetap bersama Papa Vans. Rose tidak tahu harus bertanya seperti apa." kata Rose yang memang mengungkapkan isi hatinya dengan cara acak, membuat Asfa menghampiri sang putri.
Keduanya saling menatap tanpa berkedip. Terdengar jelas helaan nafas yang panjang dari putrinya. Pasti berat kenyataan yang nyatanya masih terus memberi puluhan pertanyaan. Ini memang tidak semudah mengedipkan mata, tetapi tidak sesulit seperti mengepalkan tangan.
"Rose, hubungan itu bukan tentang seberapa lama. Aku dan Abhi pernah menjadi sepasang suami istri, tapi hubungan itu menjadi bumerang untuk kedua keluarga. Sementara hubungan Mommy dan Papa Vans. Ibarat bulan dan bintang di atas sana." Asfa mendongak ke atas, dimana langit malam menyajikan pemandangan yang indah.
__ADS_1
"Cinta bukan tentang memiliki, tetapi tentang mengikhlaskan. Sejak awal, Ka Vans mencintaiku dengan segala pengorbanannya dan pengabaian ku. Jujur saja, dulu kami hanya sebatas sahabat hingga tragedi itu memisahkan hubungan sakral."
Asfa kembali menatap netra biru yang selalu menjadi cermin baginya, "Kamu adalah alasan mommy menjadi seorang ibu dan istri. Cinta ini bukan tentang apa yang harus aku miliki, tapi tentang penerimaan. Papamu Vans, dia pria hebat. Bukan hanya membalut luka dihati mommy. Dia mampu menjadi segalanya demi menyeimbangkan diri pada wanita yang tak berhati."
Rose langsung merengkuh tubuh mommy nya. Satu pertanyaan, selalu menjadi rasa haru. Kata cinta untuk hubungan kedua orang tuanya memang tidak cukup. Dia sendiri menjadi saksi. Dimana suami istri bisa bertukar peran di setiap situasi.
"Mommy, aku tidak akan pernah meragukan hubungan kalian. Rose sangat beruntung memiliki kalian sebagai orang tuaku. Sungguh, seperti apapun diriku saat ini. Semua itu berkat kalian." Bisik Rose membuat Asfa tersenyum membalas pelukan putrinya.
Pelukan hangat yang menjadi bukti kedekatan antara ibu dan anak. Di saat keduanya sibuk berpelukan. Sebuah mobil memasuki parkiran taman. Dimana mobil itu berhenti tak jauh dari keduanya. Setelah menemukan tempat parkir yang tepat. Beberapa orang keluar dari mobil.
Empat orang pria dengan seorang gadis yang matanya tertutup dengan tangan terikat. Kelima orang itu, berjalan menghampiri Rose dan Asfa.
"Malam, Queen. Kami membawa gadis itu, apa mau dibuka penutup matanya?" Pria pertama yang bertanggung jawab memberikan laporan seraya memposisikan si gadis agar berdiri dengan benar.
__ADS_1
Asfa melepaskan pelukannya, lalu menaruh telunjuk jari didepan bibir agar Rose tidak bersuara. "Tinggalkan dia disini! Kalian bisa kembali ke mobil."