Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 43: PERDEBATAN KECIL


__ADS_3

Si cantik Prita keluar dari mobil dengan penampilan lebih tertutup. Kenapa gadis itu seorang diri? Banyak sekali mahasiswa yang memiliki tanda tanya apa yang terjadi pada semua orang. Kenapa semakin hari justru semakin ada saja yang menjadi sebuah perbincangan, hingga para mahasiswa berlarian untuk memasuki gedung perkuliahan dan tentu saja setelah tanda bell masuk berbunyi.


Suara langkah kaki terdengar mendekati kelas, membuat para mahasiswa seketika terdiam. Seorang dosen dengan wajah cantik memasuki kelas dengan menenteng beberapa buku, "Selamat pagi anak-anak. Hari ini pelajaran ditiadakan karena akan ada pemilihan senat untuk sesi pertama dan bagi para kandidat. Silahkan untuk keluar menuju ruang aula melakukan persiapan untuk melakukan demo instan. Sementara yang lainnya boleh untuk mempelajari buku pelajaran."


"Bu, apa kita boleh main game saja?" tanya salah satu mahasiswa dengan penampilan urakan.


Bu dosen menatap mahasiswa itu dengan tatapan sabar seraya menggelengkan kepala, "Kamu ini disuruh belajar malah mau main game. Kalau mau main game di rumah saja."


Para mahasiswa begitu heboh mendengar sedikit perdebatan antara satu mahasiswa dan dosen. Akan tetapi tidak dengan Rose. Gadis itu memilih diam dan apapun yang ia pikirkan hanya dirinya tahu, sedangkan Sarah dan Dela saling pandang memberikan kode mata. Prita justru tengah menulis entah apa dan kesibukannya diperhatikan oleh kedua temannya.


"Apa yang dilakukan anak itu? Bukankah seharusnya dia saat ini memohon, ya? Kok, kelihatannya dia baik-baik saja. Lagian pekerjaan para preman berhasil dan berita tentang kafe itu benar-benar ke publish menjadi trending topic, lho," bisik Sarah benar-benar tidak habis pikir kenapa temannya bisa setenang itu. Apalagi semua yang dimiliki sudah tidak ada lagi.


Sementara Dela memperhatikan perubahan Prita, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Ketenangan gadis yang duduk di bangku lain itu seperti tengah mengumpulkan keberanian sebelum memulai pertarungan.


"Del, Loe, ngapain sih?" tanya Sarah untuk mengalihkan perhatian temannya yang menatap Prita begitu intens.


"Anak-anak, apa di sini tidak ada yang mengikuti pemilihan senat? Jika tidak, ya sudah. Ibu tinggal dulu," pamit Ibu dosen lalu berjalan meninggalkan kelas.

__ADS_1


Setelah kepergian Ibu dosen. Rose bangun dari tempatnya, ia tak lupa mengambil ponsel dan meninggalkan tas selempangnya di dalam kelas. Smentara geng Cantika masih enggan untuk bangun. Kedua gadis itu ingin menghampiri Prita yang masih sibuk menulis sesuatu.


"Prita, lo, nggak kangen apa ama kita? Masa dari kemarin diemin kita trus. Ayolah, ngomong! Mau sampai kapan, lo marah kayak gini." ujar Della dengan tatapan penuh arti.


Sarah duduk di depan bangku yang Prita gunakan lalu ia mengambil kertas milik si gadis blasteran. Akan tetapi, kertas yang memiliki beberapa tulisan direbut kembali oleh si pemiliknya.


"Apa maumu?" tanya gadis itu tanpa menatap temannya.


"Lo, kenapa, sih? Kok gitu amat sama gue." tanya balik Sarah dengan tatapan tak suka.


Prita tak ingin lagi berdebat dengan hal yang tidak seharusnya. Kepergian gadis itu, membuat Sarah dan Dela benar-benar geram.


"Del, lo awasin Prita! Gue tahu, dia pasti mau lakuin sesuatu yang bisa ngebahayain kita. Jangan sampai rahasia kita kebongkar, oke." Sarah memberikan instruksi pada temannya agar melakukan perintahnya, tentu saja hanya dijawab dengan anggukan setuju.


Kedua gadis itu meninggalkan kelas. Begitu juga dengan para mahasiswa lain yang justru sibuk bermain sesuka hati. Satu jam berlalu, hingga pengumuman yang terdengar menggema di seluruh ruangan membuat para mahasiswa keluar dari kelas masing-masing mereka. Para mahasiswa berbondong-bondong mendatangi satu lokasi yaitu lapangan kampus.


"Selamat siang, anak-anak. Apa kabar hari ini? Sesuai dengan jadwal, kita akan melakukan pemilihan voting suara untuk senat baru periode pertama. Mari kita simak para calon senat untuk memberikan pidato visi misi mereka. Waktu dan tempat, kami persilahkan untuk melakukan demo kalian dengan durasi 10 menit setiap kontestan. Silahkan!" Ucap pak rektor Wisnu dengan semangat.

__ADS_1


Banyak yang mencalonkan diri dan perwakilan dari masing-masing kelas sekitar dua calon. Itu artinya setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk memilih kesayangan mereka, tapi ini vote pertama yang akan mengeliminasi beberapa calon kandidat dan menyisakan kandidat tiga besar setelah acara selesai.


Perwakilan dari satu kelas ke kelas lain mulai melakukan demo masing-masing. Banyak mahasiswa yang menguap mengantuk, ada pula yang masih sibuk berbisik, tapi ada juga yang memang benar-benar mendengarkan pidato para calon senat.


Setelah satu jam berlalu. Akhirnya tiba giliran Sarah untuk melakukan pidato pertamanya. Gadis itu berdiri dengan santai dan tatapan matanya masih saja kesana kemari. Ntah apa yang dicari karena kini banyak tatapan mata terpusat ke arahnya.


"Visi dan misi. Gue gak bisa banyak ngomong, tapi gue hanya bisa memastikan. Kampus kita yang tercinta bakalan lebih baik disaat, gue menjadi ketua senat. Segitu aja pidatonya," Sarah berjalan mundur kembali ke kursinya, ia tak peduli dengan bisikan-bisikan para mahasiswa yang menanggapi pidatonya dengan berbagai perspektif.


Disaat gadis itu sudah duduk di kursinya. Tiba-tiba saja Dela datang menghampiri dari arah belakang, "Sar, kita harus bicara sekarang. Ini emergency."


"Ok, tunggu aku di toilet." jawab Sarah tanpa menengok ke belakang.


Ntah apa yang akan dibicarakan Dela, tapi ia harus segera menemui temannya di toilet. Setelah meminta izin dengan salah satu dosen, Sarah meninggalkan lapangan kampus. Kepergian gadis itu disambut senyuman seseorang. Senyuman penuh arti yang tersungging tipis menghiasi bibirnya.


Surprise gift first by me.~batin orang itu ikut menghilang dari kerumunan para mahasiswa.


(Hadiah kejutan pertama oleh saya)

__ADS_1


__ADS_2