Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 93: TERROR


__ADS_3

"Periksa semangka itu!" titahnya menunjuk semangka di depan sana, namun ketika berbalik menoleh ke bawah. Si anak kecil sudah menghilang. "What's?!"


Di dunia yang nyata. Bagaimana bisa ada anak yang datang, lalu menghilang begitu cepat? Asfa memikirkan segala kemungkinan, tetapi kedatangan Vans yang mengagetkan dirinya. Mengubah fokus perhatiannya. Apalagi anak buah yang datang membawa semangka berbentuk aneh.


"Queen. Ini semangka palsu." lapor salah satu anak buahnya seraya menunjukkan, buah semangka yang mereka bawa hanyalah miniatur tiruan yang menggunakan beberapa bahan khusus.


Vans memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba melihat sesuatu yang menyelip memancarkan kilau cahaya. Baru saja mengangkat tangannya, berniat untuk mengambil apa yang dilihatnya. Asfa langsung menggenggam tangan, menarik menjauhi buah itu.


"Bawa ke laboratorium!" titah Asfa semakin curiga ada yang tidak beres dengan situasi di Desa Himalaya.


Apapun yang tengah berusaha mengintai, mencoba untuk mendekatinya. Siapapun dia atau mereka. Sudah pasti akan segera ditemukan. Sementara di kota besar. Geng Cantika kembali berkumpul bersama setelah beberapa waktu terpisah oleh kesalahpahaman dan perbedaan pendapat.


Sarah, Della, Riswan dan Prita. Mereka berempat tengah berkumpul di sebuah coffee shop anak kekinian. Wajah yang tegang, serius memancarkan kecemasan. Walau sudah menikmati secangkir kopi. Tetap saja tidak mengurangi ketegangan dalam pikiran mereka.

__ADS_1


"Sampai kapan kita diem trus? Gue muak dengan terror yang selalu aja tidak ingat tempat dan waktu." keluh Della geram dengan tangan mengepal, membuat Prita menghela nafas panjang.


Riswan yang mencoba untuk mencari jalan keluar. Justru trus mengingat janjinya untuk Nara. Sarah sendiri masih nampak acuh dengan jalur pikiran terselubung yang akan menggemparkan seluruh musuhnya. Mereka berempat, tidak lagi menjadi satu team dalam arti saling membantu dan mendukung.


Pengkhianatan yang nyata, tetapi berbalut perdamaian. Manis, meski mematikan. Tidak ada yang bisa membaca hati dan pikiran mereka. Ditengah mencari bukti, balas dendam terus berlanjut hingga lupa. Ketika seseorang bermain api, maka harus siap terbakar.


"Boleh aku tahu, terror apa saja yang kalian dapatkan?" tanya Prita mencoba menelusuri kebenaran agar bisa memikirkan siapa pelakunya.


Sarah menggeser posisinya seraya mengambil ponsel dari tas selempangnya. Kemudian meletakkan benda pipih itu ke atas meja. "Loe, chek aja sendiri. Gue males mau cerita."


Prita menyimpan keraguan pertama tentang Sarah. Kemudian ia fokus memeriksa dimulai dari riwayat panggilan, pesan whatsapp dan beberapa media sosial. Unduhan-unduhan gambar dan Video di periksa dengan teliti. Kali ini, tidak boleh ada yang terlewat. Pemeriksaan dilakukan selama lima belas menit lebih.


"Next." kata Prita menggeser ponsel Sarah ke Riswan, ia tak mau menjadi team penganalisis seorang diri.

__ADS_1


Secara tidak langsung, mereka berempat tengah mencoba menyatukan kepingan terror yang mengusik kehidupan selama beberapa hari terakhir, bahkan pertemuan hari ini bukanlah sebuah kebetulan. Seperti ada yang sengaja mengumpulkan keempat anak itu untuk kembali bersatu.


Diantara mereka, ada seseorang yang duduk tak jauh dari meja tempat pertemuan. Senyuman tipis dengan camera pengawas yang terpasang di tas jinjingnya. Camera on itu, terarah dan merekam semuanya secara jelas.


Perdebatan yang dilakukan geng Cantika semakin sengit, bahkan Riswan menggebrak meja untuk menghentikan tuduhan-tuduhan yang saling menunjuk wajah satu sama lain. Pemuda itu berdiri, menatap ketiga gadis di depannya. "Apa ini cara menyelesaikan masalah? C!h, gue mending tidur."


"Riswan bener. Aku balik dulu." sambung Prita ikut beranjak, langkahnya tak ingin mempedulikan orang lain lagi.


Pertemuan dengan akhir perpisahan. Sengajakah? Mungkin semua yang terlihat nyata, tetapi bukan itu rencananya. Dia ingin bukti, bukan jalan buntu. Usahanya menjadi sia-sia, kecuali bergegas melakukan sesuatu. Yah, tak ingin membuang waktu, ia mengambil ponsel dari atas meja.


Jemari lentik menari diatas tut's, rangkaian huruf menyatu. Pesan singkat, tetapi penuh makna tertulis jelas. Ditekannya tombol bagikan, pesan secara otomatis terkirim untuk orang-orang pilihannya. Dimana itu ditujukan untuk keempat remaja yang mulai berjalan ke tujuan masing-masing.


Dia menghitung angka, dari tiga hingga satu. Senyumannya kembali tersungging, ketika melihat Prita dan Riswan berbalik, lalu kembali menghampiri Sarah dan Della. mereka berempat saling pandang, kemudian menunjukkan layar ponsel masing-masing. Sebuah pesan yang mereka dapatkan sama persis dengan waktu yang sama pula.

__ADS_1


[Siapa gue? Apa kalian menyukai permainan puzzleku? Setiap tarikan nafas kalian, itu milikku. Temukan gue. Jika punya nyali.]


__ADS_2