Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 22: MOMMY


__ADS_3

"Huft, aman." Ucapnya, hingga tatapannya terhenti pada siluet bayangan di depan sana.


Kibaran tirai putih pintu balkon yang terbuka menyita perhatiannya. Sontak ia menelusuri seluruh sudut kamarnya. Semua masih rapi di tempat tanpa ada yang bergeser sedikitpun. Lalu, siapa yang membuka pintu balkon. Niat hati ingin berjalan mencari tahu. Namun suara langkah kaki terdengar mendekat dari balkon.


"Mari kita bicara."


"Mommy." ucap gadis itu lirih.


Asfa berjalan memasuki kamar, lalu memilih duduk di tepi ranjang king size. Tak lupa melambaikan tangannya agar sang putri mendekat. Wajah cantik pemilik mata biru dengan penampilan elegan tak menghilangkan raut wajah cemas dan keraguan. Ia tahu saat ini putri tercintanya masih belum siap mengatakan apapun.


Langkah Rose sangat pelan dengan kedua tangan saling bertautan. Apapun yang ada di dalam pikirannya sudah bisa ditebak sang mommy. Jadi mana mungkin semua yang tersembunyi bisa diabaikan begitu saja tanpa terungkap. Terlebih sekarang ia juga diawasi oleh sang papa di kampus.


"Rose! Duduklah, dan jangan berdiri!" pinta Asfa lembut, membuat putrinya duduk dengan jarak sedikit jauh.

__ADS_1


Senyuman tipis terbit. Bahkan hampir tidak terlihat. Sikap Rose terlalu tegang, dan itu tidak baik untuk sikap seorang calon pemimpin.


"Mom....,"


"Tatap lawan bicaramu! Menundukkan kepala menandakan kamu tidak siap berkata jujur." Asfa meraih dagu putrinya agar pandangan mata keduanya bertemu, "Rose, mommy mengajarimu untuk bertanggung jawab dan jujur. Iya 'kan?"


"Sorry, Mom." balas gadis itu dengan membalas tatapan mata mommynya.


"Apa maksud, Mom?" tanya balik Rose dengan kerjapan mata polos.


Asfa melepaskan tangannya dari dagu Rose, lalu mengambil ponselnya. Tanpa kata, sebuah video diputar di atas ranjang, membuat sang putri tertegun. Bahkan tangan gadis itu bergegas menyambar ponsel sang mommy. Video yang ia tonton adalah reka adegan di saat melakukan kampanyenya di kampus beberapa waktu lalu.


"Tindakanmu sangat lurus, tapi terlalu banyak kata tanpa tindakan." Asfa bangun dari tempatnya, lalu menatap cermin rias di depannya. "Aku tidak akan memintamu seperti diriku, tapi ingatlah satu hal. PENYELAMATAN BISA MENJADI SEBUAH KEBENCIAN KETIKA KEHADIRANMU DIANGGAP VIRUS."

__ADS_1


"Mom?" protes Rose meletakkan ponselnya dengan tatapan tak suka.


"Aku ini mommy mu. Setiap jalan yang kamu putuskan memiliki tanggung jawab. Jangan salah paham, aku tidak melarang. Namun, pikirkan sekali lagi. Apakah orang-orang seperti mereka berhak mendapatkan perjuanganmu? Apakah setiap usahamu bisa mereka terima? Rose topeng setiap orang itu tidak selalu sama." Jelas Asfa tegas meskipun penuh kelembutan.


Sejenak Rose terdiam memikirkan semua perkataan mommy nya. Hingga ia memahami tidak ada yang salah dari pernyataan sang mommy. "Apakah salah memperjuangkan hak semua orang yang tertindas? Apakah salah memberikan keadilan pada Nara? Aku tahu, sejak awal penghuni kampus orang-orang yang tidak punya hati dan toleransi. Aku ingin mengajarkan mereka kasih sayang dan juga menghargai sesama manusia. Seperti mommy yang selalu mengajarkan aku nilai-nilai kehidupan bermoral."


Asfa tersenyum manis, lalu berbalik merengkuh tubuh putrinya. Pelukan hangat dengan usapan di kepala ia berikan agar Rose tenang.


"Rose, sifat dan karakter setiap manusia itu berbeda-beda. Tingkat kedewasaan dan pemahaman semua orang pun juga tidak sama. Sungguh, aku tidak mengeluh dengan keputusanmu. Akan tetapi, ubahlah caramu! Satu orang itu cukup, tapi akan lebih baik bangkitkan jiwa mereka dari rasa kemanusiaan."


"Satu uluran tanganmu, memberikan harapan baru. Bersiaplah untuk membuktikan ucapanmu, dan untuk itu pikirkan baik-baik apa yang akan kamu lakukan. Rose paham?"


Asfa melepaskan pelukannya setelah mengatakan semua yang harus ia katakan. Tatapan mata keduanya saling bertemu, netra biru yang tenang menghanyutkan milik wanita anggun, dan netra biru yang lembut tetapi polos. "Makasih, mommy selalu menasehati ku. Aku tahu caraku terlalu gegabah karena terbawa emosi. Jadi apa saran, mommy?"

__ADS_1


__ADS_2