Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 94: BUS menuju MAKAM


__ADS_3

[Siapa gue? Apa kalian menyukai permainan puzzleku? Setiap tarikan nafas kalian, itu milikku. Temukan gue. Jika punya nyali.]


"Gila, beneran ini gak masuk akal." Riswan menjambak rambutnya sendiri, "Sekarang, mau apa? Gue rasa, siapapun orang yang neror kita ada disekitar sini."


Benar juga apa yang dikatakan Riswan. Sarah, Della celingukan melihat setiap kursi yang ditempati para pengunjung lain. Sayangnya orang yang mereka cari. Tidak ada lagi. Dia yang berjalan meninggalkan coffe sop melalui pintu belakang. Pencarian para remaja itu hanya berakhir sia-sia.


Langkah kakinya terhenti setelah berjalan cukup lama hingga mencapai halte terdekat. Penampilan yang sederhana, tetapi tas jinjingnya nampak mewah dan berkelas. Orang itu duduk, menunggu bus yang memiliki jadwal pukul 14.00 wib. Itu berarti sepuluh menit lagi.


Penantian singkat itu, membuatnya bersenandung senuah lagu dari utopia yang berjudul antara ada dan tiada. Hembusan angin menerpa melambaikan rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat. Beberapa kali tangan terangkat membenarkan letak kacamata yang terus saja melorot.


Sepuluh menit berlalu, dari belokan di ujung sana. Bus menampakkan diri, membuat orang itu bangun. Berjalan dua langkah, lalu melambaikan tangannya agar bus berhenti. Suara derit mesin yang direm perlahan terdengar begitu jelas.

__ADS_1


"Ayo, naik!" Tangan panjang berselimut sarung tangan terulur keluar dari pintu bus bertepatan dengan kendaraan itu yang berhenti.


Tatapan mata saling terpaut. Disambutnya uluran tangan yang selalu menjadi penguat setiap langkah kehidupannya. Langkahnya berpindah menaiki bus. Suara bus terdengar kembali berjalan, membuat kedua orang yang masih berdiri di pintu bus saling berpelukan hangat.


Perjalanan singkat, tetapi kehidupan selalu tentang perjalanan rumit. Keduanya duduk dikursi paling belakang. Tas jinjing berpindah tangan, tetapi ponsel yang digunakan untuk melakukan terror. Tiba-tiba saja dilemparkan keluar jendela. Tentu setelah melakukan pembersihan sidik jari.


"Sekarang, apa langkah selanjutnya?" tanya sang peneror begitu pelan, sedangkan yang ditanya menatap ke depan mengingat apa saja yang sudah dia lakukan hanya untuk mengungkapkan kebenaran. "....,"


"Jangan bahas disini. Kita akan ke tempat yang aman." jawabnya tanpa ingin membuat keributan, apalagi memancing perhatian orang lain.


Setelah bus melewati tiga halte. Dua penumpang terakhir meminta berhenti di dekat sebuah pemakaman umum yang berbatasan dengan daerah perumahan. Suara mesin kendaraan yang bersama klakson yang terdengar semakin menjauh, membuat dua orang itu berjalan memasuki gapura pemakaman umum.

__ADS_1


Deretan nisan yang nampak begitu tenang tak mengusik ketenangan, bahkan langkah kaki keduanya tegap dan pasti. Sebuah makam atas nama Nara menjadi tujuan, makam yang kini memiliki tanda yaitu sekuntum bunga mawar merah yang mekar.


"Assalamu'alaikum, saudari ku. Apa kabarmu? Kamu tahu, hatiku hancur setiap kali mengingat kepergianmu yang begitu cepat. Kenapa Allah mengambil orang yang kusayangi begitu cepat? Aku ....,"


Ia tak sanggup meneruskan mengungkapkan isi hati terdalamnya. Andai dulu menerima tawaran Nara untuk satu kampus. Mungkin hari ini, saudarinya masih hidup menceramahi setiap kenakalan yang dia lakukan. Penyesalan itu datang terlambat.


Bibirnya bergetar, tatapan mata berembun melepaskan hujan garam yang mengalir membasahi kedua pipinya. Digenggamnya tanah kering, berharap kerinduan akan tersalurkan. Rasa pilu yang menyayat tak seorangpun melihat itu.


"Kembalilah ke kota mu. Pertarungan ini, biarlah menjadi milikku. Aku tidak ingin, kamu terjebak bersama dendam. Jika mungkin, jangan pernah kembali ke kota ini."


Demi apa? Kembali ke kotanya dan membiarkan para pelenyap Nara bebas berkeliaran. Tidak. Bukan itu tujuannya, yang ia inginkan adalah melihat penderitaan yang sama dimata geng Cantika bersama para pelaku lainnya.

__ADS_1


"Rose! Aku tidak akan pernah kembali." tolaknya mentah-mentah menatap murka ke gadis pemilik netra biru, "Mereka harus merasakan hal sama, seperti yang Nara rasakan. Tidak ada kata kompromi."


Seringai yang tersungging bersama tatapan tak terkendali, membuat Rose mencengkeram bahu gadis yang memiliki wajah hampir mirip Nara. Ditatapnya mata beringas itu, "Aku menyelamatkanmu bukan untuk menjadikanmu sebagai nyawa taruhan. Sekali saja, Riswan sadar kamu tidak disana. Kamu tahu kelanjutannya."


__ADS_2