
Suara jentikan tangan yang terdengar, membuat lamunan Rose yang sesaat buyar, "Kenapa, Mom?"
"Apa yang kamu pikirkan, Rose?" tanya balik Asfa dengan tatapan mata serius menelisik isi hati putrinya.
Rose menghela nafas, tatapan mata yang menunduk seraya memainkan kedua tangan, "Aku ….,"
"Apa putriku pernah dengar pepatah. Tak kenal, maka tak sayang?" Asfa bertanya hal termudah untuk memulai perbincangan antara ibu dan anak, benar saja itu tepat sasaran karena Rose menganggukkan kepala.
''Mommy akan perkenalkan kamu dengan dia yang menjadi bagian darahmu. Jangan berpikir sebagai seorang putri, anggaplah saat ini ada sebuah film yang mengisahkan kehidupan seseorang. Setuju? Jika Rose meletakkan gelas wine ke atas meja. Maka, aku menganggap sebagai persetujuan."
Penjelasan Asfa cukup simple meski terlalu panjang. Beginilah caranya ketika berhadapan dengan Rose. Pada kenyataannya, beberapa sifat putrinya lebih dominan seperti sifat Abhi. Maka untuk menghadapi setiap situasi yang berbeda harus lebih sabar dan lembut.
Rose meletakkan gelas wine, tapi beralih mengambil minuman soda. Gadis itu memang tidak meminum jenis alkohol. Hanya saja sangat suka minuman ringan bersoda. Sementara Asfa mengambil ponsel, lalu berselancar sesaat. Setelah menemukan film kilas kehidupan.
__ADS_1
Barulah film itu putar, dan diletakkan ke atas meja dengan posisi menghadap ke Rose, sedangkan dirinya memilih beranjak dari tempatnya. Kemudian berjalan seraya menatap langit yang cerah. Warna biru awan mengingatkan dia akan hari itu. Hari dimana suara sah terdengar menggema di telinganya.
"Abhishek Mahendra Bagaskara putra tunggal dari pewaris ABF Company. Pria bermata biru dengan jabatan CEO. Banyak wanita yang mengantri, tapi hidupnya hanya tentang pekerjaan. Pernikahan di antara kami terjadi karena takdir. Pria itu menerima seorang pelayan untuk menjadi istrinya."
"Pelayan dengan wajah polos dan rasa takut. Tatapan mata yang selalu menunduk. Tidak seorangpun akan mengenali siapa pelayan itu. Seluruh keluarga berpikir, mereka mendapatkan menantu sederhana. Abhi memang pandai dalam berbisnis, tapi terlalu naif dalam memahami hubungan."
"Ketika orang memberikan pasangan untuk saling mempercayai. Hubungan kami adalah taruhan tanpa ada kepercayaan. Mommy pikir, semua tindakan sudah menjadi tanggung jawab berdua. Ternyata aku salah. Kenyataan nya, dia tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan untuk keberadaan ku."
Asfa menghela nafas, rasa sesak di dada sudah lama menghilang. Namun, masih tersisa rasa sakit yang membelenggu. Apalagi ketika mengingat kondisi Rose di saat bayi, justru harus menjalani operasi yang menyakitkan. Semua duka yang dia rasakan, jauh teramat kecil.
Sesaat, Rose menjeda ucapannya. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke punggung Asfa, "Sekarang aku paham. Kenapa mommy selalu bersikap lembut denganku. Ketegasan, kedisiplinan yang mommy terapkan untuk semua orang. Justru, membuat Rose merasa dibedakan. Aku tahu, mommy memberikan yang terbaik."
"Mommy juga selalu menjadi pahlawan dan juga kekuatan keluarga. Terkadang ada pertanyaan yang mengusik pikiranku. Kenapa aku tidak bisa seperti mommy. Bukankah darah ini sama seperti milik mommy dan Papa ....,"
__ADS_1
Asfa melepaskan tangan Rose, lalu berbalik. Tatapan matanya tak lepas dari wajah putrinya, kedua tangan terangkat menangkup wajah Rose.
"Nak, darah ini mungkin memiliki darah berbeda. Apa itu salah? Tidak. Siapapun Rose. Bukan darah atau keluarga yang menentukan. Identitas dibentuk dengan personality masing-masing. Mommy tidak mengajarkanmu untuk pesimis."
"Uang bukan segalanya, meski kehidupan ini selalu membutuhkan uang. Tahta bukan kekuatan tertinggi karena masih ada cinta yang sejati. Jika hati dan pikiran ragu, siapa diri kita sendiri. Tidak seorangpun mampu mengenalimu."
"Rose, berarti mawar. Bunga indah dengan harum menggoda, tetapi memiliki duri yang mampu untuk melindungi dirinya sendiri. Itulah kamu. Jangan mencoba menjadi diriku. Apa putriku paham?" Asfa tak ingin ada pemikiran yang sempit, apalagi sang putri memiliki pikiran untuk menjadi seperti dirinya.
Bagaimanapun, keduanya dua orang berbeda. Asfa yang selalu menghabiskan waktu di jalanan dengan menikmati noda darah, sedangkan Rose tangannya saja masih bersih dengan keluarga yang selalu memberikan cinta kasih.
"Mommy, apakah Dia tahu tentang Rose?"
Pernyataan itu yang ditunggu selama beberapa jam terakhir. Asfa tersenyum, bibirnya masih terkunci. Bukannya menjawab, justru memberikan kecupan kening. Rasa hangat yang menyebar menyentuh kalbu. Kasih sayang seorang ibu begitu terasa, membuat Rose memejamkan mata menikmati kebahagiaan sederhana.
__ADS_1
Setelah melepaskan kecupan, Asfa merengkuh tubuh putrinya membiarkan kedua raga itu saling berpelukan, "Abhi, ayahmu masih menjalani perawatan. Mommy tidak akan menyembunyikan apapun, lagi. Saat ini, ayahmu tidak mengingat masa lalunya. Baik pertemuan, pernikahan dan perpisahan yang sudah merenggut banyak korban."
''Jika tidak ingat. Kenapa mommy mengatakan kebenaran itu padaku? Kenapa tidak menjadi rahasia seumur hidup saja." Protes Rose dan tanpa sadar mendorong tubuh Asfa karena gadis itu melakukan pemberontakan secara refleks, "Maaf, Mom ....,"