Daughter Of Mafia Queen

Daughter Of Mafia Queen
Bab 74: SURATAN TAKDIR


__ADS_3

Empat puluh lima menit, kemudian.


Tayangan limited edition berakhir. Rose mengepalkan kedua tangannya. Tidak peduli dengan foto serta noted yang menjadi rusak. Perasaan yang dipaksa untuk menerima kenyataan pahit. Tanpa ampun menusuk hatinya. Sungguh, semua kebenaran itu patut disesali. Kenapa tidak disembunyikan saja untuk selamanya?


"Rose!"


Asfa memanggil putrinya, tapi Rose masih terdiam tak bergeming dari tempat duduknya dengan tangan semakin mengepal, membuat semua bukti yang ada menjadi rusak. Sungguh kebenaran itu, seperti air garam yang disiramkan ke luka sayatan yang masih segar. Siapa sangka, rasa penasarannya justru berakhir pada penyesalan yang luar biasa.


Tanpa mengatakan apapun Rose meninggalkan tempat itu, langkah kaki yang terus berlari meninggalkan ruang utama. Semua orang tidak terkejut dengan gadis itu, dan justru berniat untuk menyusul. Hanya saja, Asfa mengangkat tangannya dan menahan keluarga untuk bertindak. Saat ini yang dibutuhkan tidak lain dan tidak bukan. Hanyalah dirinya karena dia tahu benar sifat dari sang putri.


"Aku sendiri yang akan menemui Rose. Biarkan putri ku melampiaskan semua rasa sakit dan emosinya padaku karena saat ini menjadi tanggung jawab seorang ibu. Kak Varo, tolong antarkan semua ke kamar masing-masing. Aku akan pergi dulu."

__ADS_1


Permintaan Asfa, membuat semua orang saling pandang. Mereka tahu benar bagaimana sifat dan sikap kedua wanita itu, bahkan jika saling berhadapan. Kemungkinan hanya akan saling diam dan menunggu waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan isi hati. Namun, mereka juga percaya, jika dua wanita beda usia itu, mampu menyelesaikan masalah perbedaan yang selama ini tidak pernah nampak, tapi memang ada dan nyata.


Rose pergi menuju balkon. Di mana ada sebuah kolam renang yang pasti didesain oleh ibunya sendiri. Tanpa pikir panjang, gadis itu terjun langsung masuk ke dalam kolam renang dan disaat bersamaan Asfa sampai ditempat itu, lalu melihat apa yang dilakukan oleh putri kesayangannya.


Kali ini, dia tidak ingin mengganggu dan memilih untuk duduk di tepi kolam renang seraya menunggu. Sementara keluarga besar memilih untuk duduk di ruang makan. Bagaimana bisa mereka beristirahat, ketika melihat situasi benar-benar dalam keadaan tidak baik. Lihatlah Vans yang berjalan mondar-mandir seperti orang bingung.


Sebagai seorang ayah yang selama ini memberikan cinta tanpa pamrih. Dia bisa merasakan duka yang terpancar dari mata sang putri. Apalah arti janji membahagiakan, jika satu kebenaran menjadi bumerang. Namun, siapa yang bisa disalahkan? Tidak ada, karena semua yang terjadi sudah suratan takdir.


Rose menatap netra biru milik mommynya, mata yang sama, tapi dengan ketenangan dan ketegasan, sedangkan matanya diselimuti kelembutan. Kini ada sebuah fakta yang menyadarkan, jika sebagian kebiasaannya berasal dari sang ayah kandung. Ntah kenapa, pikiran itu terlintas begitu saja. Asfa menangkup wajah putrinya tanpa mengalihkan tatapan mata mereka.


"Singkirkan semua keraguan dan pertanyaan yang menjadikan hatimu tidak percaya identitas mu sendiri. Siapa kamu? Itu tergantung dengan kepercayaan mu, Rose. Bahkan, jika kamu bukan putri ku. Kamu akan memiliki identitas sebagai Rose. Dunia ini selalu memiliki rahasia, tapi rahasia hidup tak seorangpun bisa mengendalikan. Apalagi menghentikannya."

__ADS_1


Asfa melepaskan kedua tangannya dari wajah sang putri, lalu mendongak ke atas langit, "Seperti langit malam yang tidak selalu ditemani bintang dan bulan. Langit malam akan selalu gelap, sama seperti identitas kita. Aku atau kamu, darah ini hanya alasan dari keberadaan kita. Namun, jiwa dan hati menjadi identitas kita sendiri."


Rose menundukkan wajah seraya menghirup udara begitu dalam, gadis itu melampiaskan amarah akan rasa kecewa yang begitu besar dengan menenggelamkan diri ke dalam kolam renang. Kebiasaan yang sama seperti mommynya. Namun, rasa di hati tidak bisa membaik. Meski sudah melakukan yang dianggap benar dan tepat. Justru nasehat sang mommy menghadirkan pertanyaan lain.


Disini, Asfa dan Rose mencoba untuk saling memahami satu sama lain. Memulai hubungan dengan kepercayaan dan dukungan yang baru, tapi ditempat lain justru hanya ada kesendirian. Banyak yang bilang, selama ada uang di genggaman tangan. Maka, apapun bisa dibeli. Nyatanya tidak. Gadis dengan selang infus di tangan kiri harus menikmati rasa kesepian.


Setelah kembali sadar. Dia tidak menemukan teman, sahabat atau anggota keluarga yang mengkhawatirkan keadaannya. Ternyata, semua yang dia kenal, tidak memiliki kepedulian. Lalu, untuk apa dia hidup? Hampa yang dapat membangkitkan jiwa yang bergejolak. Ntah kenapa, amarah yang membara menjadi ambisinya.


"Jika orang tidak peduli denganku. Tidak seorangpun bisa bahagia diatas penderitaan yang aku rasakan. Lihat saja, siapapun yang tersenyum. Akan kupastikan hilang ditelan bumi."


Ini bukan sebuah janji, tapi ambisi. Dunia yang dipenuhi ketenangan mulai memanas dengan banyaknya niat penghancuran dari jiwa-jiwa yang merasa terabaikan. Malam berlalu tanpa menghentikan waktu. Tanpa sadar, kesibukan semua orang menjadi rutinitas yang berputar seperti roda waktu otomatis.

__ADS_1


__ADS_2