
Rose mengangguk paham, lalu memeluk Bunda Rania. Kegiatan masih berlanjut, sedangkan Prita di luar mulai mengurus pendaftaran yang harus ia lakukan saat itu juga. Gadis itu bersemangat dengan jalan kehidupan yang memberikan sinar harapan baru.
Hari ini berlalu begitu cepat hingga tanpa sadar waktu telah berganti malam. Acara dari pemilihan para peserta kompetisi perebutan saham akhirnya berakhir. Tepat pukul 08.00 malam dan Rose langsung melepaskan topeng begitu ia memasuki ruangan khusus untuk keluarganya. Sementara itu, Bunda Rania dan Justin memilih untuk menyiapkan makan malam bersama di dapur.
Rose mengambil ponsel yang selama satu hari penuh hampir tidak ia sentuh. Berhubung hari ini ia meliburkan diri karena mengambil cuti dadakan dari kampus. Maka untuk mengantisipasi deadline kehidupan. Dia memeriksa tugas dari para dosen. Mungkin saja, hari ini ada tugas dadakan yang tidak ia tahu. Meskipun setelah diperiksa, tidak ada tugas apapun.
"Selama aku kuliah di Regal Academy. Para dosen memberi tugas yang bisa dihitung dengan jari. Kenapa bisa seperti itu? Sementara aku yang melakukan kuliah secara online saja. Selalu mendapatkan tugas yang menumpuk, rasanya aneh. Belum lagi, banyak kasus bully," Rose mengeluh dengan sedikit mengecilkan suara di kalimat terakhirnya, kemudian melemparkan ponsel ke atas ranjang.
Tindakan gadis itu tertangkap basah oleh Ayah Varo, membuat pria itu langsung berjalan menghampiri gadis kecilnya, "Rose, kamu kenapa? Wajah cantik putri ku jelek kalau di tekuk seperti itu."
"Rose lagi kecewa, Yah. Bagaimana tidak kesal. Apa ayah tahu, universitas Regal Academy yang mommy dirikan terlihat begitu santai untuk memberikan pendidikan pada para mahasiswa. Bukan maksudku untuk menggurui, ya, tapi ayah bisa periksa kok di ponsel Rose. Semua agenda tugas dari para dosen benar-benar hanya hitungan jari. Jujur saja. Setelah dipikirkan, bukankah ini terlalu begitu sedikit tugas?"
Penjelasan sang putri membuat Varo mengambil ponsel gadis itu, lalu memeriksa setiap agenda dari kuliah yang selama ini dijalankan oleh Rose. Benar saja, terlihat tidak ada keseimbangan dari proses belajar mengajar di kampus Regal Academy. Sontak saja, terlihat perubahan ekspresi wajah pria itu. Wajah tenang yang menandakan dalam mood baik-baik saja. Berubah menjadi tegang dengan menaikkan satu alis terlihat seperti tengah berpikir keras.
"Kamu bener, Rose. Ini sudah berlebihan dan tidak bisa ditoleransi lagi. Bukankah sekarang sudah memasuki semester kedua. Kenapa masih begitu sedikit tugas. Seharusnya kalian mempersiapkan untuk ujian. Jejak para dosen terlihat dari sebanyak apa tugas yang mereka berikan. Tugas dimaksudkan untuk membuat kalian pintar dan memahami apa yang telah kalian pelajari. Jadi, istem pelajarannya mana yang mereka ambil untuk diterapkan?"
Pertanyaan balik dari sang ayah, membuat Rose menggedik kan bahu. Gadis itu, tidak paham bagaimana para dosen melakukan pekerjaan mereka. Satu hal yang pasti karena ia juga sudah lulus dari beberapa universitas dengan sistem belajar di balik layar. Maka, dia tahu bagaimana kinerja dosen di luar sana yang mengajar di universitas lain. Selain itu, dia tidak perlu untuk pergi karena memang sebenarnya dia pun sudah lulus kuliah.
__ADS_1
Akan tetapi, tujuan ia kuliah bukan untuk belajar. Melainkan untuk mencari teman yang setia dan tidak memandang harta dari keluarganya. Jika berbicara jujur. Dirinya pun, sudah bisa menjadi dosen di dalam kampus itu. Maka dari itu, apapun tugas dari para dosen tidak pernah diambil pusing. Hanya saja, selama ini ia ingin terlihat seperti para mahasiswa yang lain. Di mana memiliki kekurangan dan kelebihan.
Kehidupan yang dijalani Rose, membuat gadis itu diwajibkan untuk memiliki pelatihan-pelatihan khusus di dalam mansion. Pepatah yang mengatakan buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Itu memang benar adanya karena itu juga terjadi pada sang mommy di saat masih remaja. Dimana Asfa juga menyelesaikan kuliah di usia belia dan itu juga menjadi jejak yang sama untuk dirinya.
Varo mengembalikan ponsel putrinya kembali ke tempat semula, lalu mengambil ponselnya sendiri dari dalam satu celana, kemudian ia mendial nomor sang adik. Tidak perlu menunggu dering terlalu lama karena panggilannya langsung terjawab, "Queen, kita harus bertemu. Apa kamu sudah di mansion?"
Perbincangan itu, sama sekali tidak di dengar Rose. Ntah apa jawaban dari seberang yang membuat wajah Varo semakin dingin. Sebagai anak, ia tahu kapan waktu bersikap agresif dan kapan bersikap tenang. Lagi pula, saat ini masih ada yang harus diurus dan niat hati bisa saja berubah haluan. Tidak ingin mengubah arah tujuannya, maka lebih baik untuk sementara waktu bersikap seperti gadis manis.
Kebersamaan ayah dan putri masih berlanjut dengan yang lainnya. Dimana keempat anggota keluarga Phoenix menikmati makan malam bersama. Akan tetapi, Rania menyadari tingkah sang suami terlihat aneh. Ada sesuatu yang tengah dipikirkan pria itu, tapi apa? Sebagai istri, ia tahu benar perubahan ekspresi Varo. Pasti ada yang tidak beres. Di saat yang sama, Justin menerima sebuah pesan.
"Aku permisi, Rose kamu pulang bareng Ayah dan Bunda, ya. Uncle harus melakukan pekerjaan penting," Justin mengelap bibir, lalu bangun seraya mendorong kursi ke belakang.
"Bunda tenang aja. Aku tidak akan keluar untuk menguping perbincangan ayah dan uncle," Rose kembali menyendok nasi, lalu memakannya dengan santai membuat Rania tersenyum kikuk, "Bunda, bagaimana rasanya dibohongi keluarga sendiri? Apa itu sakit di hati, atau sakit di kepala? Sejak kemarin, Rose memikirkan kedua pertanyaan itu."
Rania masih berusaha untuk menikmati makanannya dalam diam seraya mendengarkan ucapan Rose. Apapun tujuan keponakannya. Hal itu bisa menjurus ke rahasia yang bukan menjadi hak nya untuk mengatakan sebuah kebenaran. Bukan tidak tahu, tapi ia tidak bisa mengambil hak dari Asfa. Sang adik ipar yang sangat dia hormati dan cintai. Kini, hanya bisa menutup mulut dengan telinga terbuka lebar.
"Akhirnya, jawaban selalu tentang diam. Bunda sama seperti yang lain. Tidak akan berkata jujur. Kenapa? Apa karena mommy berkuasa, atau karena takut dengan hukuman mommy?" tanya Rose dengan rasa kecewa yang menyergap hatinya, jujur saja usaha mencari kebenaran tentang masa lalu sang mommy. Ternyata seperti mencari ilham di dalam dunia maksiat.
__ADS_1
Bisa kalian bayangkan? Dimana banyak para pendosa dan kita mencari satu jalan yang membawa pencerahan. Sungguh rasanya seperti jatuh ke dalam sumur yang gelap. Tidak ada tali, apalagi tangga. Sulit sekali, bahkan setelah berusaha meretas perusahaan cabang. Tetap saja tidak menemukan satu clue yang mampu menuju kebenaran.
"Bunda tidak bisa menjelaskan apapun karena sebanyak apapun pertanyaan yang mengusik hati dan pikiranmu. Queen sendiri yang berhak memberikan jawaban. Ini bukan tentang rasa takut, tapi ini tentang kepercayaan di antara kita sebagai keluarga. Mommy mu bukan hanya seorang ratu. Dia juga segalanya bagiku. Jika Rose tanya, siapa orang yang paling aku cintai."
Rania meletakkan sendok makan kembali ke atas piring, lalu meraih gelas yang berisi jus jeruk, kemudian meneguk beberapa kali. Sejenak menjeda ucapannya agar Rose bisa memahami sudut pandang dari dirinya, "Queen adalah orang yang paling ku cintai. Dia idolaku, guruku, temanku, sekaligus saudaraku. Benar, meski begitu. Aku tetap akan memberikan saran yang baik untuk putri tersayang ku."
Rose menyimak dengan seksama. Penjelasan Rania tidak sekalipun menyulut emosinya. Ia tahu benar, setiap anggota keluarga memperlakukan mommy nya seperti apa. Jangankan bunda, satpam yang berjaga di depan rumah saja. Di jamin tidak akan berkhianat meski nyawa taruhannya. Hidup seorang Queen dipenuhi pelangi dengan hujan darah. Keluarga yang memberikan cinta dan musuh yang siap mengambil cahaya.
"Dua hari lagi adalah ulang tahunmu yang ke delapan belas. Tanyakan apapun yang mengusik hati dan pikiranmu. Bunda percaya, mommy mu sudah siap untuk memberikan hak mu sebagai seorang putri.
...****************...
...----------------...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
__ADS_1
...----------------...