
Tangannya berusaha meraih lembaran putih dengan hati-hati agar raga menggemaskan tidak terusik. Tatapan mata fokus dengan menahan nafas. Hingga lembaran kertas berhasil didapatkan. Niat hati ingin membalikkan kertas itu, tapi suara langkah kaki terdengar mendekati kamar. Hitungan detik pintu dibuka.
"Sayang, tidurlah! Biar bunda yang jaga prince chubby." ucap seorang wanita.
Rose menganggukkan kepala, lalu beranjak dari tempat tidur prince chubby. Sementara Rania menggantikan posisi keponakannya untuk menjaga sang putra tercinta. Langkah Rose menuju kamarnya sendiri. Kamar yang bersebelahan, membuat gadis itu tak harus lelah berjalan. Setelah menutup pintu, ia menghampiri ranjang king size dengan mata setengah mengantuk.
"Huft, lelahnya hari ini, untung semua tugas sudah selesai aku kerjakan." gumamnya sambil langsung merebahkan tubuh, lalu menatap langit kamar di mana barisan galaxy tergambar sempurna diatas sana.
Sejenak melakukan relaxing dengan melepaskan semua beban pikiran dan tanggung jawabnya. Ketenangan yang harus didapatkan setelah melewati banyak hal. Namun, tiba-tiba saja rasa sesak menghantam hatinya. Ntah kenapa cairan bening mengalir begitu saja.
"Rose relakanlah semuanya. Biarkan sahabatmu damai di alam lain." monolog gadis itu seraya mengusap air matanya yang membasahi pipi.
Rasa lelah jiwa dan raga, membuat gadis itu perlahan terlelap menyambut alam mimpi. Mimpi yang membawanya ke dalam rasa takut yang selama ini terpendam. Kegelapan menyambut tuan putri dengan suara familiar meminta tolong penuh rintihan duka.
"Toolooong....,"
"Toolooong....,"
Suara rintihan itu benar-benar menyayat hati. Rose bukan takut kegelapan, tetapi ia tak bisa melakukan apapun. Langkah kakinya berjalan kesana-kemari, tetapi tetap tidak menemukan pemilik suara itu hingga jeritan memekakkan telinga ia dengar.
__ADS_1
"Nara! Kamu dimana? Aku sangat merindukanmu....,"
Gadis dengan mata yang terpejam terlelap dalam gurat wajah ketakutan. Tanpa ia sadari kini dirinya tengah terbuai mimpi yang menakutkan dengan jeritan memanggil nama sang sahabat. Sontak jeritan nya terdengar hingga ke kamar utama. Dimana kamar Asfa berada.
"Rose!" seru Asfa langsung bangkit, dan turun dari ranjang, lalu berlari menuju kamar putrinya.
Vans yang terlelap pun ikut terkejut, dan bergegas membuntuti Asfa. Keduanya membuka kamar Rose dengan begitu mudah. Kamar yang masih terang benderang. Tetapi gadis di atas tempat tidur tengah meracau tidak jelas.
"Rose, bangun sayang." Asfa merengkuh tubuh putrinya, "Ka, Rose demam tinggi!"
"Tunggu sebentar. Aku akan ambilkan peralatan medis mu." Balas Vans yang berlari keluar kembali ke kamar sebelah.
Tak ingin menunggu lama, Asfa melakukan pemeriksaan seadanya. Tangannya dengan cekatan memeriksa denyut nadi, denyut jantung dan juga deru nafas sang putri hingga Vans kembali membawa koper sedang yang langsung di buka di atas tempat tidur. Pria itu mengeluarkan stetoskop, termometer, dan juga pengukur tekanan darah.
"Calm down! Rose gadis yang kuat." Ucap Vans memberikan dukungan untuk istrinya.
Asfa mengangguk paham, lalu menerima peralatan medis yang diulurkan Vans. Ia tak pernah meminta orang lain untuk memeriksa kesehatan sang putri. Tentu saja kecuali kondisi emergency. Tangannya sendiri yang akan selalu menjadi pelindung dan pengobat lara putri tercintanya.
Setelah memeriksa menggunakan stetoskop, dan juga mengukur tekanan darah Rose. Vans mengambil termometer yang diselipkan ke mulut gadisnya. Angka yang tertera benar-benar mengejutkan. Kemudian termometer diserahkan ke Asfa.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bawa Rose ke rumah sakit?" Ucap Vans memberikan saran.
Tak ingin terburu-buru, Asfa memejamkan mata sesaat setelah melihat angka empat puluh lima di termometer.
"Aku akan lakukan pengobatan di rumah. Ka Vans bisa bantu bawa Rose ke ruangan perawatan? Aku akan siapkan semua peralatannya." pinta Asfa jelas, meskipun terdengar bergetar.
Vans menganggukkan kepala, "Pergilah ke bawah! Aku akan gendong Rose. Apa kamu ingin, aku bangunkan Varo?"
"Kita berdua cukup. Believe it."
Setelah meyakinkan Vans, Asfa mengecup kening Rose. Kemudian langkahnya meninggalkan kamar sang putri. Ia memilih berlari kecil menuruni anak tangga tanpa peduli dengan rasa lelah, bahkan rasa kantuk sudah pergi menghilang begitu saja. Kini yang ada di pikirannya hanyalah kesehatan Rose.
Ruangan perawatan yang khusus untuk keadaan emergency terletak di sisi kiri tangga. Dimana ruangan itu memerlukan tiga pemindai password. Pertama kode akses retina mata. Kedua kode akses sidik jari, dan yang terakhir scan pengenalan indentitas. Siapapun yang membuka pintu, maka daftar akan langsung terenkripsi di dalam komputer Asfa.
Wanita itu tak membuang waktu. Setelah semua password terisi, pintu terbuka otomatis. Langkahnya bergegas masuk, lalu dengan cekatan mengaktifkan semua peralatan canggih yang ada di ruangan itu. Cara kerjanya sangat gesit tanpa melakukan kecerobohan, sedangkan Vans juga tiba-tiba saja muncul dengan menggendong Rose. Posisi pintu yang sengaja tetap di buka, membuat pria itu tak perlu melakukan pemindahan password.
Kini tubuh Rose dibaringkan perlahan ke atas brankar dengan sangat hati-hati. Terutama saat meletakkan kepala gadis itu, Asfa menyambar jas putih yang tersampir di kursi kerjanya. Kemudian berdiri di depan papan virtual dengan ukuran tiga meter kali satu setengah meter. Layar yang membentang di dinding itu siap menampilkan apapun yang ingin ia lihat. Sementara Vans memasang tabung kaca untuk menutupi brankar Rose.
"Done." lapor Vans.
__ADS_1