
"Kita lihat, siapa saja yang akan menjadi orang baik dan siapa saja yang akan memilih menjadi orang jahat. Satu, persatu. Semua akan mendapatkan akibatnya. Ku harap semua berjalan sesuai rencana."
Keesokan harinya.
Suara derit besi bergesekan menandakan gerbang perlahan terbuka untuk membiarkan para mahasiswa masuk menjemput ilmu demi masa depan. Suara deru motor bersahutan suara para muda mudi yang mulai berdatangan. Kampus dengan suasana pagi yang mendung, membuat beberapa mahasiswa bermalas-malasan menunggu jam pelajaran dimulai.
Sementara di dalam sana, Rose sudah duduk dengan tatapan mata tertuju keluar jendela. Kali ini, gadis bermata biru memilih untuk duduk di bangku lain. Perbincangan semalam bersama seluruh keluarga, membuat gadis itu tidak sabar untuk segera menyelesaikan urusannya bersama geng Cantika.
Namun, tiba-tiba terdengar suara kehebohan dari luar kelas. Apalagi para mahasiswa berlarian menuju satu arah, sontak saja itu mengalihkan perhatiannya. Ntah apa yang terjadi, tetapi ada rasa was-was yang merasuk hatinya. Seketika hembusan angin membuat perasaannya tidak nyaman.
Rose berjalan meninggalkan kelas, langkahnya mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Langkah demi langkah semakin menjauhi kelas. Ternyata semua mahasiswa sudah berkumpul di satu tempat, tapi tempat itu ....,
"Misi," ucap Rose seraya menyingkirkan beberapa mahasiswa yang menghalangi jalannya, akan tetapi ketika langkahnya mencapai sebab yang membuat semua mahasiswa berkumpul.
Seketika tubuhnya terdiam membeku. Wajah itu dengan suara tawa yang khas. Tidak ada yang salah, tapi rekaman CCTV yang ditayangkan secara langsung. Sungguh menyayat hati. Bagaimana mengatakan, jika rasa rindu itu membara bersama api amarah. Tanpa sadar, lelehan cairan bening menghiasi kedua pipi Rose.
Di depan sana, sebuah tayangan di saat Nara masih hidup. Dimana itu adalah malam pesta, tawa Nara yang hadir karena salah mengambil minuman. Rose ingat benar, bagaimana sahabatnya itu tertawa dengan ceria. Meski merasakan pahitnya alkohol dalam satu teguk.
Tayangan terus berputar, hingga di saat para mahasiswa mulai pulang meninggalkan pesta. Nara beranjak dari tempatnya, lalu pergi ke kamar mandi. Tayangan itu menunjukkan ada tangan yang menyekap sahabat nya dari belakang, di saat semakin menuju tragedi. Tiba-tiba saja, layar dua puluh empat inc itu padam menjadi gelap.
__ADS_1
Tidak ada hanya sampai disitu karena tiba-tiba saja terdengar dering ponsel seluruh mahasiswa secara bersamaan. Akan tetapi saat ini, Rose tidak membawa ponselnya. Gadis itu bisa melihat pesan dari salah satu mahasiswa yang ada di sebelahnya. Satu pesan yang menjadi terror seluruh mahasiswa.
Melihat rasa takut dengan bisikan-bisikan yang dipenuhi kebingungan. Rose memilih untuk meninggalkan tempat itu, langkahnya berlari kecil untuk kembali ke dalam kelas. Tidak seorangpun memperhatikan dirinya, tetapi ketika masuk ke dalam kelas.
Gadis itu lebih terkejut karena seluruh isi tas nya berhamburan di lantai. Namun, ponsel yang dia butuhkan masih utuh dan tergeletak di atas meja dengan layar yang terus menyala. Tak ayal, Rose segera memeriksa. Sebuah pesan dengan tulisan sama seperti pesan di ponsel para mahasiswa, tetapi itu bukan ponselnya.
"Ponsel ini, bukankah punya Nara? Bagaimana mungkin. Lalu, dimana ponselku? Semua buku ada di lantai, tapi tas dan ponselku lenyap." Rose mencoba untuk tenang dengan memejamkan mata hingga satu nama terlintas dalam kepalanya.
"Jika benar, ini ulah geng Cantika. Pasti ada sesuatu di dalam ponsel Nara. Satu pertanyaan ku, kenapa mereka mengambil tas dan ponselku? Bahkan, tidak seorangpun bisa mengotak-atik ponsel seorang Rose. Daripada aku berpikir tidak jelas, lebih baik ke ruang komputer. Di sana aku bisa melacak keberadaan ponselku."
Gadis itu kembali berlari meninggalkan kelas, membuat beberapa mahasiswa yang sudah membubarkan diri, justru menatap Rose aneh dan tidak paham apapun. Namun, tentu sang calon senat mengabaikan karena ada yang lebih penting daripada memperdulikan tatapan mata para mahasiswa.
Ruang komputer yang terletak di gedung sebelah dan bersebelahan dengan area kantin. Tanpa gadis itu sadari, ada yang melihat dirinya tengah berlari memasuki ruangan komputer. Tatapan mata dengan senyuman tipis, tetapi tidak ada aura permusuhan.
Kesibukan Rose, membuat gadis itu sesaat melupakan kewaspadaan, hingga tanpa sadar seseorang ikut masuk dan mengunci pintu ruangan komputer. Suara langkah kaki terdengar cukup jelas. Meski begitu, bukan berarti gadis bermata biru mendongak untuk melihat siapa yang datang.
Gadis itu memejamkan mata, memusatkan diri untuk mengenali siapa yang datang dengan langkah kaki semakin mendekat. Suara itu, tidak setegas langkah pria. Aroma parfum bunga sakura dengan mint. Hembusan angin yang menyebarkan aroma perpaduan memberikan Rose petunjuk.
Di saat, suara langkah kaki berhenti tepat di depan Rose dan pasti hanya berjarak dua meter kurang lebih. Tetap saja, gadis bermata biru itu, justru menikmati pejaman matanya, "Aromamu sangat manis, tapi apa tujuanmu."
__ADS_1
" ....,"
"Sebelum menjawab apapun. Kembalikan ponselku! Untuk apa, kamu memiliki barang yang tidak bisa kamu buka? Bukankah itu percuma." Rose mengulurkan tangan kanannya tepat di depan orang yang kini tersenyum, dan mengambil benda pipih dari sakunya untuk dikembalikan ke pemilik yang sah.
"Sekarang, bisa buka mata mu? Aku tidak suka, mata biru dengan ketenangan seketika berselimut kabut kecemasan. Rose Qiara Salsabila.''
Perlahan Rose membuka kelopak matanya, netra biru jernih dengan ketenangan memancarkan kelembutan. Kini netra coklat dengan kejernihan menyambutnya dengan senyuman tipis menghiasi wajah manis pemilik rambut sebahu yang membiarkan kacamata hitam bertengger di atas kepala.
"Kamu bukan Nara. Siapa kamu?" tanya Rose seketika terhenyak akan wajah yang bisa dikatakan memiliki garis wajah mirip sahabatnya.
Gadis itu mengulurkan tangan kanannya, "Perkenalkan, Aku Naira. Adik Nara, tapi beda ayah. Maaf, Ka Rose. Hanya saja, aku tidak tahu caranya untuk bertemu denganmu dan hari ini, akhirnya kita bertemu."
"Nara tidak pernah cerita, jika memiliki adik." ujar Rose merasa harus berhati-hati, membuat Naira terkekeh pelan.
Gadis bermata coklat itu mengambil ponselnya, lalu menunjukkan beberapa foto kebersamaan di antara dirinya dan Nara sang kakak. Bukan hanya foto, tapi sebuah surat yang sama. Seperti surat yang pernah ditemukan Rose dari loker sahabatnya.
Nai memasukkan kembali ponselnya, "Aku memang tidak kuliah di sini karena kami terpisah. Papa ku menyekolahkan kami beda fakultas, tapi setiap sebulan sekali. Keluarga akan mengadakan pertemuan. Terkadang Aku yang kekota ini dan terkadang Nara yang ke kota ku. Bukankah kamu heran, kenapa Nara memiliki dua pakaian yang sama? Semua itu, karena kami menyukai barang yang sama."
Naira berusaha menjelaskan semuanya tanpa meninggalkan satu kebenaran dari hidupnya. Rose mencoba memahami dan tidak menarik kesimpulan secepat kilat. Sorot mata tanpa keraguan dengan emosi yang sangat dalam di antara persaudaraan. Sekilas, semua kisah seperti aliran air yang memberikan kesegaran.
__ADS_1
"Apa mau mu?" tanya Rose to the point setelah Naira selesai bercerita, membuat gadis bermata coklat tersenyum penuh arti.
Nai kembali mengambil sesuatu dari saku jaketnya, tapi bukan ponsel. Melainkan sebuah kertas berwarna merah muda, lalu disodorkan ke Rose, "Pesan cinta dari Riswan untuk Nara. Aku ingin membalasnya, jauh lebih sakit dari yang saudariku rasakan. Apa kamu bisa membantuku?"