
Di Antara Kita•
...🍒🍒🍒...
Guntur masuk kedalam lift dengan lesu, membawa kopernya dan berjalan keluar dari Apartemen milik Dave. Ia bingung harus kemana dia pergi, uang di sakunya tinggal 75rb di tambah dua ribu dari si Jafar membuat Guntur kebingungan.
Ia mengambil ponsel dari sakunya, menghubungi sang Om yang dia percaya masih memiliki hati nurani karna Guntur tau jika Om Sultan menyayangi dirinya.
Cukup lama menunggu ... namun tak ada jawaban dari Sultan yang mana membuat Guntur berdecak sebal dan ingin sekali membanting ponselnya namun ia tidak punya keberanian kali ini.
Karna hanya ponsel ini lah satu satunya barang berharga yang dia punya saat ini, dia tidak punya barang berharga lagi yang dia simpan.
Guntur duduk di emperan toko, memikirkan nasibnya yang naas bin memprihatinkan. Dulu ia memiliki segalanya ... apa yang dia mau pasti dia beli dan selalu berkata.
"Waaah ... murah bangeee ... eett!" namun selogan itu sekarang seperti mengejek dirinya, karna sekarang hidupnya jauh dari kata layak.
''Siapa yang harus aku hubungi?'' Decak Guntur penuh dengan keputus'asaan.
Guntur mengacak rambutnya prustasi dan bingung harus melakukan apa ... untung saja dia sudah makan waktu ngapel dengan Ziell tadi sore, jadi dia tidak terlalu lapar sekarang ini.
''Heh! Minggirr kamu, ini tempat aku.'' Usir seorang ibu-ibu pemilik toko.
''Apa sih Bu, orang numpang duduk aja.''
''Pergi. Pergi. Pergi. Dasar gembel.''
Guntur tidak bisa menahan emosinya, namun kali ini ia tahan sebisa mungkin dan lekas pergi membawa kopernya. Ia tidak mau membuat gaduh dengan siapapun kali ini, karna dia tidak memiliki apapun untuk melawan.
Saat ini yang ada di pikiran Guntur hanya satu. Ia sangat menyesal mempunyai Ibu seperti si Jafar yang suka menyiksa anaknya sendiri.
"Jafaaaaarrr! Kau benar-benar Ibu durjana." Teriak Guntur.
Ketika Guntur sedang berteriak di pinggir jalan dengan putus asa, ponselnya berdering yang mana membuat ia sumringah dan bahagia saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
[Hallo Om ...]
[Apa kabar mu, Nak.]
[Memprihatinkan, menyedihkan, mengenaskan.] Keluh Guntur mengadu.
[Kamu di mana? biar Om jemput.]
[Aku di emperan toko xxx dekat Mall xxxx di Jalan Slipi]
[Baik, jangan kemana mana.]
[Oke, Om.]
Guntur melompat dengan semangat, saat Om nya masih perduli dengan nasibnya. "Yes! Tuh kan, aku yakin jika Om ku itu tidak sama seperti si jafarun bin Koridun itu.'' Ujar Guntur yang bersemangat kembali.
•
Sedangkan Sultan setelah mengakhiri sambungan telpon nya, ia bergegas keluar dari kamar untuk melihat keponakan tersayang nya yang di siksa oleh ibu kandungnya sendiri.
Namun saat ia baru menuruni anak tangga, seseorang memanggilnya. "Om." Panggil seseorang dari arah belakang, ''Om mau kemana?'' tanya Gemini, keponakan perempuan nya.
Sultan tersenyum. ''Om, memiliki urusan sebentar."
''Apa Mini boleh ikut?'' tanya Gemini dengan mimik muka menggemaskan, ia begitu penasaran saat Om nya akan pergi dengan tergesa gesa.
Sultan tersenyum, ''Tentu sa ... ja tidak!''
''Hum ... umm.'' Gemini cemberut.
''Lain kali saja ya, sayang.'' Sultan mengelus rambut Gemini dengan lembut, lalu pergi dengan terburu buru. Ia tidak mau jika keponakan gembel nya itu menunggu dirinya terlalu lama, bisa bisa dia malam ini tidur di jalan.
__ADS_1
•
•
Beberapa saat kemudian•
Sultan dan Guntur sudah berada di dalam mobil, Guntur tak henti hentinya mengeluh masalah sang Ibu yang mengusirnya untuk ke dua kalinya.
Anak durjana seperti si Guntur ini terus menjelekan nama sang Ibu pada Om nya, namun Sultan hanya ber'oh ria saja karna dia tidak bisa memihak pada salah satunya.
''Om ... Kakak mu itu Ibu kandungku apa bukan sih? kok dia tega banget sama anaknya, orang mah liat anak ganteng, pintar, di kagumi kaum hawa, bukan nya bangga! Malah jorokkin aku kedalam kemiskinan yang hakiki.''
Guntur tidak henti hentinya mengeluh. Sultan hanya tersenyum lagi, namun dalam hati ia merasa kasihan tapi tidak bisa melakukan apapun. Sultan hanya bisa menasehati sang keponakan agar bisa lebih bersabar dan dewasa menghadapi situasi.
''Dia melakukan itu semua demi kebaikkan mu, percayalah.''
''Kebaikkan apa? yang ada aku malah di ejek oleh semua mantanku, termasuk gebetan baru ku.''
''Suatu saat kamu akan mengerti, kenapa Mom bisa melakukan itu sama kamu ... jadi bersabarlah dan tetap berusaha, yang terpenting kamu harus berpikir dewasa.''
Sultan selalu bijak dan penuh kelembutan menasehati Guntur, bagaimana pun ia tau kelakuan sang keponakan yang bisa terbilang anak gaul, tapi Sultan tetap sayang terhadap Guntur.
Bagaimana tidak sayang ... ia lah yang pertama kali menuntun tangan Guntur ketika kecil, ia lah yang selalu ada di saat Guntur menangis dan bermain bersama hingga Sultan jauh lebih sayang Guntur ketibang Gemini dan Gabriel.
"Kita sudah sampai.'' Ucap Sultan, membuat Guntur mengerutkan keningnya heran.
''Kita di mana Om?''
''Kos-kosan salah satu Scurity di kantor kita, jika kamu tinggal di pemukiman padat penduduk, Om yakin jika Mom Kaleea tidak akan mengusir mu untuk yang ke tiga kalinya.''
Sultan turun, lalu menelpon Bambang untuk menghampirinya. Sedangkan Guntur menghela nafasnya dengan berat, ia pasrah kali ini di bandingkan harus tidur diluar.
Guntur turun membawa kopernya, dan bertemu Bambang yang sudah menunggu dirinya dengan sang Om di depan sana.
''Baik Pak.'' Jawab Bambang dengan sopan dan hormat pada Sultan.
''Gun, Om pulang ya ... ini Uang jajan buat kamu.'' Sultan memberikan
''Nggak ada kartu Om?''
''Nggak bisaa, nanti Ibu mu tau kalau Om bantu kamu. Om nggak mau sampai dia nikahin Om sama si Yolanda.''
''Hehehe.'' Guntur terkekeh, rupanya sang Om pun sudah di ancam oleh Ibunya, pantas saja Om nya sangat berhati hati.
"Ya sudah, makasih yaa Om."
Sultan pun berpamitan pada Guntur dan Bambang, ia masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan dua orang yang tengah menatap kepergian nya.
Bambang melangkah terlebih dahulu, setelah melihat sang Bos sudah pergi dari hadapan nya namun Guntur menghentikan langkahnya.
''Heh, Lu Bambang! Bawain koper Gue!'' Guntur masih tidak sadar diri.
Bambang menoleh dan mengerutkan keningnya. ''Siapa Lu? Sekarang derajat kita sama, kalau bukan karna Bos Sultan baik sama gue, iihh ... gue mah ogah nampung anak songong kaya Lu.''
Bambang akhirnya bisa balas dendam pada Guntur, yang selama ini suka semena mena terhadapnya. Ia tidak akan pernah melupakan penghinaan Guntur yang kerap dia lontarkan padanya.
''Kalau Lu nggak mau masuk, terserah! Tidur aja sama gembel di sebelah sana.'' Bambang pergi meninggalkan Guntur dengan hati yang puas.
''Tu-tunggu!'' Guntur menyeret kopernya mengikuti Bambang, ia tidak punya pilihan lain selain menurut untuk saat ini.
•
Hati Guntur sudah tidak enak ketika melihat bangunan yang di namakan rumah, ia semakin tak enak hati, ketika Bambang menaiki tangga ke lantai dua ... dimana tangga itu begitu kecil dan terbuat dari papan.
"Apa ini nggak bakalan jatuh?" tanya Guntur pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dan saat Guntur sampai di depan kamarnya, benar saja dugaan nya, Guntur terkejut saat melihat kediaman barunya yang bisa di bilang untuk gembel.
''Bambang, kamu yakin suruh aku tidur di sini?''
''Kenapa emangnya?''
''Ini bukan tempat tinggal manusia, tapi lebih tepatnya sarang merpati!''
Bambang tidak menggubris, ia langsung tidur di kasurnya karna besok dia harus bekerja. Sadangkan Guntur masih berdiri di ambang pintu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa tidur di sini, dindingnya saja terbuat dari triplek, lalu lantai nya saja papan dan bisa roboh kapan saja.
Guntur yakin jika malam ini ia tidak akan tenang. Guntur memejamkan kedua matanya dan mengumpat dalam hati, merutuki kekejaman sang Ibu yang sudah membuat hidupnya miskin.
''Jafar. Jafar. Jafar ... lihat saja nanti, aku akan balas dendam padamu.'' Gumam Guntur dalam hati, meremas jarinya.
Sedangkan Mom Kaleea yang merasakan panas di telinganya secara tiba-tiba merasa heran, ''Siapa yang sedang mengumpat ku?"
•
•
•
•
Di sisi lain, tepatnya di kota Bandung•
Kediaman Papah Agam dan mama Ella sangat sepi, sudah dua minggu tidak ada bayangan sang putri atau sang putra yang berseliweran di kediaman ini, membuat Papah Agam galau.
''Mah, bukankah lebih baik kita memiliki bayi lagi.''
Uhuuk ... Uhuuk ...
Mama Ella tersedak cemilan yang tengah dia makan, ''Ih ... nggak ada ahhh, udah tua masa punya bayi lagi.''
''Nggak apa apa atuh sayang, rumah kan jadi rame."
''Suruh aja Adam pulang, biarin dia cari istri dan buat cucu yang ba ... nyak untuk kita.'' Ucap Mama Ella dengan mata berbinar.
''Emang si Adam mau?''
''Kalau nggak mau, kita paksa aja dia nikah.''
''Cih, anak laki-laki mu tak jauh beda dengan dirimu. biang rusuh, biang jail, kelakukan sebelas dua belas somplak nya kaya kamu.''
''Apa!''
''Dih, jadi sewot ... Bener kan yang aku bilang? lihatlah Rapunzell, dia itu pendiam baik dan kelakukan nya nggak absurd kaya kamu.''
''Lanjut aja lanjut! Nggak aku kasih jatah baru nyaho kamu.''
Agam langsung menegakkan tubuhnya, ''Eh ... jangan seperti itu dong Mah, mana tahan pisang tanduk made in Arabia milikku jika tidak memiliki jatah.''
''Bodo ahmad."
"Bodo amat, Mah. Bodo amat! Bukan Bodo ahmad."
"Udah aaah minggir!''
''Mah, jangan marah Mah ... aku minta maaf, nyuhun di hapunten Luur.''
"Idiih. Stres!"
...🍒🍒🍒...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1