
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Mengapa kau hadir kembali di saat hati ini sudah mulai melupakan mu, kenapa kau hadir si saat aku sudah tidak membutuhkan mu. Kau hadir di waktu yang tidak tepat, di mana hati ini sudah di miliki oleh orang lain, di mana hati ini sudah menuliskan satu nama wanita yang membuat hati ini nyaman dengan keberadaan nya.
Why? kenapa kamu kembali di saat aku sudah tidak ingin melihat mu lagi ...
Begitulah sekiranya rintihan hati Sultan saat tidak sengaja berpapasan dengan masa lalunya, dulu memang Sultan ingin sekali bertemu Melody dan bertanya kenapa semua ini bisa terjadi.
Tapi setelah di pikir-pikir tidak ada guna nya mengenang masalalu yang membuat hatinya kecewa. Dan di saat Sultan bertemu dengan Ziell, di saat itu dirinya melupakan Melody untuk selamanya.
β’
Sultan masuk kedalam mobil dan menutup pintu dengan kasar. ''Cepat jalankan mobilnya!''
''Ba-baik Tuan.'' Sang supir tergagap ketika mendengar suara bariton yang dingin, mengingatkan dirinya pada tahun ketika Tuan nya gagal menikah.
''Kita pulang ke apartemen, apa ke Mansion Tuan?'' tanya sang Supir walau sedikit takut.
''Bawa aku ke apartemen. Cepat!''
Sang supir mengangguk lalu menyalakan mesin mobilnya, namun tiba-tiba kaca mobil di gedor dari arah samping oleh seorang wanita berkulit eksotis dengan wajah yang cantik berpadu manis.
Dhuk. Dhuk Dhuk.
"Tolong buka ... Sultan! Kita harus bicara.'' Teriak wanita itu dengan pipi yang sudah basah karna air mata menetes tiada henti, sejak pertemuan tak sengaja tadi.
Melody ingin mencoba untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ... namun sepertinya Sultan enggan untuk bertemu apa lagi mengobrol dengan masalalu nya.
''Tuan.''
''JALAN!'' Bentak Sultan pada sang Supir.
Sang Supir menginjak pedal jas, namun tak di sangka jika wanita itu menghadang di depan sana dan merentangkan kedua tangannya tanpa takut tubuhnya di tabrakan oleh mobil, membuat Pak supir mengerem secara mendadak.
__ADS_1
''Dia sudah gila!'' Sultan keluar dari dalam mobil, dengan tatapan mata tajam penuh amarah.''Apa kau sudah gila! Jika kau ingin mati jangan melibatkan aku!'' Bentak Sultan dengan nada dingin.
''Kita perlu bicara Sultan, ini menyangkut hubungan kita.'' Melody berdiri tak jauh dari hadapan Sultan.
Sultan terdiam memandang Melody, amarah yang sempat membuncah kini perlahan hilang dan terkendali. Sultan melangkah dengan perlahan hingga jarak mereka hanya menyisakan lima inci saja.
Tangan Sultan terlentur mengelus rambut wanita yang dulu pernah ia cintai dengan sepenuh hati, melihat air mata yang jatuh dari mata cantiknya.
''Sultan, aku tau kau masih menc-- aahkk.'' Melody mengiris sakit, ketika kerah bajunya di cengkram dengan kasar oleh Sultan.
''Dengarkan ini baik-baik M-e-l-o-d-y, jangan pernah menemuiku untuk menjelaskan hubungan antara kita! Karna hubungan kita sudah berakhir!'' Bisik Sultan dengan nada dingin dan menekan.
''Jangan pernah lagi mengira jika aku masih mencintaimu! Jangan pernah mengira jika aku masih mengharapkan mu dalam hidupku!''
Bruugh!!
''Aahhk!'' Melody meringis menahan sakit, karna Sultan mendorong tubuhnya hingga bokongnya jatuh mencium aspal.
Setelah mengatakan itu, Sultan mengeluarkan sapu tangan di dalam sakunya, lalu membersihkan tangannya seperti membersihkan kotoran yang membandel.
''Menjijikkan!'' Sultan membuang sapu tangan itu kesembarang arah.
''Tidak penting lagi bagiku untuk tau.'' cetus Sultan lalu melangkah pergi ke arah mobilnya.
Melody berdiri dan berteriak. ''KAKAK MU YANG MENGANCAM AKU UNTUK PERGI DARI KEHIDUPAN MU!'' Teriak Melody, yang mana membuat Sultan menghentikan langkahnya.
''Aku terpaksa meninggalkan mu, karna aku tidak punya pilihan lain selain pergi dari kehidupan mu. Kau tau jika aku mencintai mu Sultan.'' Ucap Melody dengan nada lirih, ''Tapi Kakak mu yang terlalu posesif padamu, membuat ku tercekik dan tidak bisa bergerak leluasa.'' ucap Melody lagi.
Sultan menoleh pada mantan kekasihnya, menatapnya dengan tatapan tajam hingga Melody ketakutan.
''Jangan pernah menyalahkan Kakak ku atas apa yang kau lakukan! Jika dia berkata bahwa kau wanita tidak baik, maka itulah kenyataan nya.'' Jawaban Sultan membuat Melody terdiam mematung, ia tak menyangka jika Sultan begitu patuh dan percaya pada Kakak nya, yang jelas-jelas dia adalah biang kerok atas batalnya pernikahan ia dan Sultan.
''Lambat laun, kau pasti akan tau kebenaran nya.'' Teriak Melody dalam hati, memandangi mobil yang kian menjauh dari pandangan nya.
β’
__ADS_1
β’
β’
β’
β’
Sedangkan di waktu yang bersamaan, di Apartemen Dave.
''Yaaa ... seperti itu, ahh enak sekali.'' Desah suara Dave memenuhi kamarnya dan terdengar sangat puas akan apa yang tengah di lakukan Nia pada tubuhnya.
''Aku lelah.'' Rengek Nia, dengan raut muka cemberut karna sedari tadi harus memijat tubuh Dave tiada henti.
''Masa bodo, itu sih derita Lo. Jangan berhenti sebelum aku tertidur.'' Ujar Dave.
''Haisss ... kamu ini minta aku jadi pacar pura-pura 'kan? kenapa kamu jadi memanfaatin aku gini sih!'' Gerutu Nia sedikit mengencangkan tenaganya hingga Dave mengiris.
''Hei! Kamu mau bunuh aku yaa.''
''Siapa yang mau bunuh kamu? Rugi banget aku bunuh orang seperti mu yang nggak guna.'' bentak Nia beranjak dari sofa.
''Kamu mau kemana?''
''Pulanglah!'' bentak Nia yang sudah tidak bisa menterorir kelakuan Dave padanya.
''Aahh, baiklah sana pulang! Jangan lupa besok malam aku jemput dan bawa itu.'' Tunjuk Dave dengan ekor matanya.
Tanpa banyak kata, Nia mengambil paperbag dengan cetus lalu melangkah keluar dari apartemen Dave dan menutup pintu dengan kencang.
Braaak!
''Astaga, galak banget.'' Ucap Dave mengelus dadanya, lalu menggidikan bahunya tak perduli. Ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan akan pergi ke club, di mana tempat yang bisa membuat Dave tenang.
Sedangkan Nia di sepanjang jalan nya menggerutu tidak jelas, segala sumpah serapah dia lontarkan pada Dave. Salah satu pria yang masuk dalam daftar orang yang dia benci.
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...