
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
"Boleh Mama masuk?"
''Masuk Mah, Ziell baru beres mandi." Jawab Ziell yang tengah mengoleskan wajahnya dengan crem malam di depan cermin.
Mama Ella pun masuk ke dalam kamar sang anak, duduk di sisi ranjang menatap putrinya dari balik cermin. "Mama pikir Sultan itu menyukaimu sayang."
Ziell menghentikan pergerakan nya lalu merilirik sang Ibu dari balik cermin, menoleh lalu berdiri dari duduknya untuk menghampiri sang Ibu. "Aku rasa juga seperti itu Mah, tapi aku kurang yakin kalau Kak Sultan belum menyatakan cinta sama aku Mah."
''Dia belum menyatakan Cinta?''
Ziell menggelengkan kepalanya, ''Belum Mah, tapi ...''
''Tapi apa?''
''Tapi kita udah ciuman.'' Ucap Ziell memperagakan gerakan lewat tangannya.
''Eeehh dadar Oon! Belum nyatain cinta tapi udah *******!'' Bentak Mama Ella mentoyor anaknya.
''He he heh.'' Ziell hanya terkekeh, lalu ia menutup rapat-rapat bibirnya dan enggan untuk bercerita yang lain ... takut jika sang Ibu murka jika mengetahui apa yang sudah dia lakukan dengan Sultan.
Mereka berdua asik mengobrol hingga lupa waktu, saking asiknya mereka bertiga ngobrol, mereka melupakan seseorang yang tengah terbaring di brangkar rumah sakit di temani seorang pria tampan yang bernama Guntur.
Guntur dengan telaten menunggu Papah Agam yang belum sadar sampai saat ini, dia sudah menelpon sang Ibu dan mengatakan semua merencanya ... dan geblek nya si Gokong malah mendukung rencana sang anak yang licik.
Guntur terus saja tersenyum dan sabar menunggu Papah Agam bangun, ia berpikir jika sang alam pun mendukung niatnya karna mempertemukan mereka dalam situasi seperti ini.
Guntur yakin ketika Ayah nya Ziell bangun, orang yang dia lihat pertama kali adalah dirinya. Dan dia akan menjadi pahlawan kesiangan karna menolong dirinya yang tengah terluka ... Ouhh sungguh sempurna rencana Tuhan untuknya. Guntur sudah tidak sabar menunggu Ayah Ziell terbangun.
"Emmm ...'' lirih pelan Papah Agam.
"Dia sadar?"
Guntur bangun dari tempat duduknya dan mengecek Papah Agam yang terluka. ''Pak, anda tidak apa-apa?'' tanya Guntur, lalu ia menekan bell di sisi ranjang memanggil Dokter yang menangani tadi.
''Ahk ... Aku di mana?'' Papah Agam merasa pusing di bagian kepalanya, penglihatannya pun tidak jelas dan terasa buram.
''Pak.'' panggil Guntur dengan nada lembut.
__ADS_1
Papah Agam menoleh ke arah suara yang memanggilnya, mempertajam penglihatan nya yang buram dan dengan perlahan bisa melihat seorang pria tampan di depannya.
''Ka-kamu siapa?''
''Jangan banyak gerak dulu, Pak.'' Bukannya menjawab, Guntur malah menahan agar Papah Agam tidak banyak gerak.
Papah Agam pun menurut, dan mencoba untuk mengingat kenapa bisa sampai disini ... Papah Agam pun memejamkan kedua matanya saat dokter masuk dan memeriksa keadaan nya.
Papah Agam ingat, jika tadi di jalan ingin pulang ada satu orang yang tergeletak di tengah jalan dengan motor rusak. Papah Agam mengira jika dia korban tabrak lari atau hal lain sebagainya, untuk itu Papah Agam turun dari mobil dan ingin membantunya.
Alih alih membantu, Papah Agam malah di sodorkan cerulit dekat lehernya dan ada beberapa orang yang datang dan ternyata komplotan para begal. ''Serahkan dompet dan harta bendamu!''
Papah Agam mengangkat kedua tangannya di udara, menyerahkan semua barang yang dia bawa termasuk hp, dompet, dan kunci mobil.
Alih alih pergi, para begal itu malah mengeroyok Papah Agam hingga pingsan dan di buang ke semak semak lalu pergi.
Papah Agam mencoba untuk meminta tolong namun suara nya seperti tercekat di tenggorokan hingga tidak berapa lama ada seseorang yang menemukannya.
β’β’β’β’β’
''Dok, Bagaimana keadaannya?"
''Tinggal menunggu pemulihan saja, karna tidak ada luka yang parah." Ujar sang Dokter lalu pergi dari ruangan.
Papah Agam membuka kedua matanya, melihat sosok pria muda yang menolongnya. ''Terima kasih sudah mau saya.''
Guntur tersenyum. ''Tidak apa-apa Pak, sesama manusia bukanya kita harus tolong menolong.''
Preett!
''Siapa nama mu, Nak?''
Guntur terdiam sejenak. '' Emmm ... nama saya Evan, Pak.''
''Kamu orang sini?''
Guntur menggelengkan kepalanya, lalu menceritakan bahwa sebulan yang lalu dia di usir oleh Ibunya dan harus mencari pekerjaan. Namun naas ia baru saja di pecat dari pekerjaan barunya dan terlunta lunta di jalan, membuat Papah Agam percaya dengan semua perkataan ironi Guntur dan merasa kasihan terhadapnya.
Papah Agam mengelus pundak Guntur, ''Tidak apa-apa, kamu bisa bekerja dengan saya. Saya butuh supir untuk mengantarkan saya kemana pun, karna supir saya baru berhenti dari pekerjaan nya.''
Guntur yang tadinya menunduk sedih, langsung mendongkakan kepalanya dengan mata berbinar penuh harap. ''Benarkah, Pak?''
__ADS_1
Papah Agam mengangguk dengan senyuman yang hangat, menyambut pria yang seharusnya dia hindari ... kini dia sendiri yang membawanya ke dalam rumah nya dengan tangan terbuka.
β’
β’
β’
Guntur benar-benar menjaga dan merawat Papah Agam dengan sangat baik, membuat Papah Agam sangat bersyukur telah di pertemukan dengan anak muda sebaik Evan alias si Guntur.
Dan tentu saja hidung Guntur berada di atas kepalanya, karna telah berhasil sedikit memenangkan hati Ayah dari wanita yang dia inginkan.
''Apa kamu sudah mengabari keluarga saya?''
''Sudah Pak, meraka akan langsung ke sini, katanya.''
''Sekali lagi terima kasih yaa Evan, kau pemuda yang sangat baik hati yang mau menolong dan mengurusku.''
Lubang hidung Guntur semakin kembang kempis, saat calon mertuanya memuji dirinya baik hati. Semakin besar saja kepala saja si Guntur mendalami kebohongan nya yang mana suatu hari mungkin akan terbongkar dengan sendirinya.
''Bapak terlalu berlebihan memuji saya, boleh nggak kalau saya keluar dulu sebentar untuk melakukan kewajiban saya sebagai orang Muslim.'' tutur Guntur, yang pandai sekali bersilat lidah. Padahal yang sebenarnya Guntur tidak pernah melakukan itu sejak berkuliah di luar negri.
Papah Agam tentu saja mengangguk dan memperbolehkan Guntur untuk pergi, karna mungkin sebentar lagi istrinya akan datang kesini.
Guntur pun keluar dari ruangan, menghirup udara segar lalu berjalan keluar rumah sakit.
Bukannya mau menunaikan kewajiban dia sebagai seorang Musilm ... ia malah membelok untuk makan malam karna dia sangat lapar.
(Namanya juga Guntur, yaa 'kan ...)
Di saat Guntur berbelok ke arah kanan untuk pergi makan, secara bersamaan datangnya Mama Ella bersama Ziell dari arah kiri yang tengah berjalan cepat dan sangat khawatir dengan keadaan sang Ayah.
Kedua wanita itu bergegas ke arah resepsionis dan bertanya dimana ruangan sang Suami berada.
''Ruangan Mawar blok D, Nyonya.''
''Baik, terima kasih Sus.''
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...