
Di Antara Kita•
...🍒🍒🍒...
Malam Hari•
''Cieee udah cantik, mau kemana nie yeee.'' Nia masuk kedalam kamar Ziell lalu merangkul Ziell dari arah belakang.
''Mau makan malam sama Kak Sultan.'' Jawab Ziell.
Nia mengangguk lalu duduk di sisi ranjang menatap Ziell dan berkata, "Zie, kamu udah ngasih tau Om Agam kalau kamu udah punya pacar?''
Ziell menghentikan pergerakannya, lalu menatap Nia dari pantulan cermin dan menggeleng. ''Belum Ni, aku masih takut kalau Papah ngelarang aku."
''Trus sekarang kamu mau jalan sama siapa?''
''Kak Sultan.''
''Siapa! Bukannya pacar kamu namanya Evan yaa? kok jadi Sultan?'' Nia sedikit bingung.
Ziell tersenyum lalu memakai kecamatanya. ''Evan emang pacarku, kalau Kak Sultan itu seperti Kakak bagiku. Sama seperti Kak Vano ... dia itu baik tau.''
''Kamu yakin?'' tanya Nia memincingkan kedua matanya, yang langsung di angguki oleh Ziell.
Nia menghela nafasnya, "Jangan sampai Kakak ketemu gede mu itu memiliki perasaan yang lebih sama Kamu Zie, kamu mungkin anggap dia Kakak. Tapi ... kita nggak tau hati seseorang itu kaya gimana, siapa tau dia punya perasaan yang lebih sama kamu.''
Ziell terdiam. ''Ahh nggak mungkin ahh, lagian umur aku sama ka Sultan jaaa ... uuh banget.''
Nia menggidikkan bahunya. ''Jangan sampai kamu salah pilih deh.'' Ujar Nia langsung pergi dari kamar Ziell, ia juga baru ingat jika dia ada janji dengan Dave untuk menemui keluarganya dan berpura-pura menjadi pacar Dave.
Kalau dia sampai membatalkan janji itu, ia pasti di ancam akan di jebloskan kedalam penjara oleh Dave.
Sedangkan Ziell termerung menatap dirinya di cermin. "Masa sih?'' tanya nya pada dirinya sendiri, hingga tak begitu lama ponselnya berdering lalu Ziell menjawab telpon dari Sultan.
[Rosalinda ....]
•
•
•
•
Mobil Sultan berhenti di salah satu restoran mewah di Jakarta, mereka berdua turun dan berjalan dengan santai kedalam restoran.
''Selamat malam, Tuan. Selamat datang di restoran kami.'' Sapa salah satu pelayan dengan ramah.
''Atas nama Sultan.''
Pelayan itu tersenyum, "Aah ... Tuan Sultan, mari saya antar ke meja yang sudah anda pesan.''
Sultan mengangguk, lalu menggenggam tangan Ziell agar tidak jauh darinya. ''Silahkan Tuan meja anda.'' Sang pelayan mempersilahakan untuk duduk.
Sultan menarik kursi untuk Ziell, namun sayang nya ... si tidak peka malah lebih dulu duduk di kursi, yang mana membuat Sultan melongo di melihat kelakuan Ziell.
''Hah, kenapa Kak? Kakak tidak mau duduk.''
__ADS_1
Sultan berdehem dan membenarkan Jas nya lalu duduk berhadapan dengan Ziell. Untung saja dia memesan tempat Vip, coba kalau dia di bawah ... sudah pasti dia menjadi bahan tertawaan para pengunjung.
Ziell melihat kanan kiri lalu menatap penampilan Sultan yang rapih, lalu melihat penampilan dirinya yang biasa saja. ''Kak, kenapa Kakak nggak bilang kalau mau makan di restoran ini.''
''Memangnya kenapa?''
''Pakaian ku biasa aja, apa Kakak nggak malu bawa aku kesini?''
Sultan terdiam. ''Malu sih, cuma mau gimana lagi? sudahlah, kita di sini untuk makan bukan? Kau pun terlihat cantik.''
Sultan memuji Ziell, hingga Ziell salah tingkah untuk pertama kalinya, lalu Ziell mengambil daftar makanan dan memilih makanan yang ingin dia makan.
Sedangkan Sultan menyunggingkan bibirnya melihat Ziell yang salah tingkah. ''Menggemaskan.'' Ucap Sultan dalam hati.
Makan malam yang romantis serta perhatian khusus untuk Ziell. Sultan berikan malam ini ... Ziell seperti wanita yang di ratukan oleh seseorang, namun Ziell belum peka bahwa Sultan memiliki rasa padanya.
''Kau sudah kenyang?''
Ziell mengangguk lalu mereka pergi dari restoran. Awalnya Sultan ingin sekali memberikan kalung yang dia beli, tapi sepertinya belum tepat waktu.
Setelah berada di parkiran mobil, ternyata hujan deras mengguyur kota Jakarta yang awalnya cerah, untung saja Ziell dan Sultan sudah berada di dalam mobil.
''Rosalinda kau mau kemana lagi?''
''Aku mau pulang aja Kak, besok aku kerja.''
''Hem ... baiklah, tapi aku punya sesuatu untuk mu.''
''Apa itu?''
Sultan memperlihatkan kalung berlian yang berbentuk Bumi, dan memberikannya pada Ziell. ''Ini untuk mu.''
''In-ini untuk Ziell, Kak?''
Sultan mengangguk lalu memakaikan kalung itu pada Ziell, ketika Sultan memakaikan kalung itu di leher Ziell. jantung Ziell berdetak kencang ketika jarak mereka hanya satu cm saja.
Membuat Ziell bisa merasakan harum tubuh Sultan yang maskulin, hingga tanpa sadar Ziell memejamkan kedua matanya untuk menghirup aroma tubuh Sultan yang membuat ia ketagihan.
''Cantik.'' bisik Sultan setelah selesai memakaikan kalung itu, membuat Ziell membuka mata dan merinding disko karna hembusan nafas yang hangat menerpa daun telinganya.
''Benarkah?'' tanya Ziell menatap Sultan dengan mimik muka yang sangat menggemaskan.
Pletak!
''Awww.'' Ziell meringis saat keningnya di sentil.
''Kalungnya yang cantik, kamu itu ke ge'eran sekali.'' Ucap Sultan menahan senyum di wajahnya.
''Ish ... udah aahh jalan, makasih kalungnya cantik.'' cetus Ziell membuang muka ke arah jendela karna malu.
Sultan terkekeh lalu menyalakan mobilnya. Mobil berwarna silver keluaran terbaru itu melesat pergi dari restoran, hingga mata Ziell tak sengaja minat seseorang yang pernah menolongnya waktu itu.
''Kak. Kak. Kak. Berhenti Kak, itu ada temen ku.'' Ziell menyuruh Sultan untuk menepi tepat di depan Lany.
''Heii, Lany!'' Teriak Ziell membuka kaca mobil di sebelahnya, membuat wanita cantik berambut pirang itu menoleh.
''Ziell.''
__ADS_1
''Kamu kenapa main hujan-hujanan Lan? Nanti kamu sakit.''
''Aku nggak hujan-hujanan Zie, aku dari situ.'' tunjuk Lany yang lemas, ke arah minimarket.
Ziell terdiam memikirkan penampilan Lany, sepertinya Lany sedang tidak baik-baik saja. Membuat Ziell berinisiatif untuk mengantarkan Lany ke apartement nya.
''Kak, anterin Lany pulang yaaa.'' Bisik Ziell sambil mencolek bahu tangan Sultan.
''Cek, merepotkan!''
''Isshh ... si Kakak! Nggak boleh kaya gitu ... dia itu satu apartement sama Kakak tapi beda lantai aja, boleh yaa ...''
''Aku tau.'' Cetus Sultan yang sebenarnya tidak mau ada yang mengganggu masa berduan dengan Ziell, namun ia tidak bisa menolak permintaan wanita yang dia suka.
Ziell mengkerut bingung. ''Kakak tau jika Lany satu apartement sama Kakak? Kalau begitu ayooo antarkan Lany Kak! Kakak! jawab aku.''
''Iya iyaaa ... terserah kamu Rosalinda!'' jawab Sultan pasrah, karna dia tidak mau berdebat terlalu panjang.
Akhirnya setelah berdebat, Lany masuk kedalam mobil dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah hujan yang semakin deras mengguyur kota.
•
•
•
Setelah sampai di apartement•
''Kan ... kalian cuma beda satu lantai.'' celetuk Ziell saat mereka sudah sampai di unit apartement milik Lany dan suaminya.
''Apa kau tidak bisa diam Rosalinda! Kau mengoceh saja sedari tadi! Aku kenal baik dengan pemilik apartement ini, ini milik Alandra Elvaro.'' Ketus Sultan duduk di kursi sebelum di persilahkan oleh si pemilik rumah.
Sultan duduk dengan nyaman, memasukkan kedua tangannya di saku celana. Kakinya menopang di kaki satunya lagi dan melihat kanan kiri melihat ruangan yang cukup mewah, lalu menatap Lany dari atas sampai bawah.
''Jadi, kamu cewe yang sama Andra tadi pagi 'kan?''
Lany mengangguk lalu mempersilahkan Ziell untuk duduk, sementara dirinya akan mengganti pakaian karna basah.
Setelah kepergian Lany, Ziell duduk di samping Sultan.
''Kak, mewah banget yaa apartement nya.'' Ucap Ziell penuh kagum. Ia melupa'kan sesuatu, bahwa dirinya juga dari keluarga konglomerat dan terpandang. Mungkin, saking asiknya Ziell menyamar jadi gadis biasa, hingga ia melupakan siapa nenek moyang nya.
''Apa kamu ingin apartement seperti ini?'' tanya Sultan.
Ziell dengan polos mengangguk dan membenarkan kecamatanya. ''Mau'lah Kak, siapa yang nggak mau tinggal di apartement semewah ini.''
Sultan yang awalnya bersender, langsung menegakkan duduknya dan menatap Ziell dengan senyuman. ''Kakak bisa lho ngasih apartement seperti ini.''
''Yang benerrrr ...''
''Asalkan ada satu syarat.'' Sultan tersenyum devil.
''Syarat? apa itu syarat nya?'' Ziell antusias.
''Menjadi segar Bebyku.'' Bisik Sultan, tersenyum penuh makna sambil menaik turunkan kedua alisya.
•
__ADS_1
...🍒🍒🍒...
...LIKE.KOMEN.VOTE...