
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Daerah Bandung, tepatnya di rumah Bilal. Ziell tengah berdiri melihat langit yang cerah di balkon kamarnya, berharap jika siang ini akan segera usai dan berganti menjadi esok hari.
Ia sudah tidak sabar memberi kejutan pada sang kekasih, jika hubungan mereka sudah mendapatkan restu dari sang Papah.
Ziell tersenyum dan membayangkan jika dirinya akan menikah dan menggunakan gaun pengantin, membina rumah tangga yang dia impikan sejak dulu ... Ziell benar-benar sudah tidak sabar menantikan keluarganya berkunjung ke rumah sang kekasih.
Ketika Ziell sedang berkhayal, netra matanya tidak sengaja melihat seorang gadis yang dia kenal mendorong sepeda ke dalam halaman rumahnya.
''Mulan.'' Teriak Ziell sambil melambaikan tangan dari balkon kamarnya, lalu berlari untuk menghampiri orang yang dia panggil.
Sementara Mulan tersenyum menunggu Ziell menghampirinya, karna seperti biasa jika hari Jum'at ia akan mengantarkan kue pesanan dari Mama Ella untuk di bagikan.
''Mulan ... sudah lama sekali kita tidak bertemu.''
''Eh, iya Non.'' Mulan tidak enak hati di peluk oleh Ziell, karna baginya dia tidak setara dengan Ziell walau mereka dulu teman bermain.
''Ihh kamu mah nggak berubah manggil aku, jangan panggil Non atuh. Panggil aja Ziell.''
''Hehe hehe ... saya nggak enak, Non''
Ziell mencibikan bibirnya namun Ziell tidak sengaja melihat luka di tangan Mulan yang lebam. ''Eh, kamu kenapa?'' tanya Ziell menarik tangan Mulan dan melihat luka Mulan.
''Ng-nggak apa-apa Non, tadi jatuh dari sepeda.''
Ziell menatap Mulan dengan intens, Ziell tau jika luka yang ada di tubuh Mulan bukan di sebabkan jatuh dari sepeda, melainkan di pukul oleh ayahnya.
''Luka ini di pukul sama Bapak mu 'kan?''
''Eh- ng-nggak kok, ini beneran jatuh Non.''
Ziell menarik paksa Mulan masuk kedalam rumah dan meminta art untuk mengambilkan obat.
''Non Zie, nggak usah iihh jadi ngerepotin.'' Mulan merasa tidak enak saat Ziell memaksa dirinya yang harus duduk di sofa mahal.
__ADS_1
''Sudah jangan berisik, ini kalau nggak segera di obati nanti bakal ada bekasnya.''
''Ada apa?'' tanya Mama Ella yang baru saja turun dari tangga, ''Ehh ada Mulan.''
''Ibu ...''
''Kenapa?''
''Ini Bu, cu--"
''Cuma di pukul oleh ayah nya Mah.'' jawab Ziell menyela Mulan berbicara, sambil mengobati luka Mulan.
Mama Ella menghela nafasnya, lalu duduk di sebrang sofa yang tidak jauh dari arah Ziell dan Mulan. ''Ibu kan pernah bilang, kalau kamu tersiksa di rumah mu karna kelakuan ayah mu ... kenapa nggak tinggal di sini saja, kamu bisa ngerjain apa kek gitu di sini.'' Ujar Mama Ella.
''Mau sih, Bu ... tapi kasian Mama sama Lisa di rumah.''
''Gini aja, kamu besok ikut sama aku ... dan kerja sama aku mau?''
''Kerja apa Non?''
''Ngekorin aku lah. Ehh bolehkah Mah?'' tanya Ziell pada sang Ibu.
Mulan nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. ''Baik Bu, makasih udah mau nampung Mulan kerja.''
''Dari dulu juga udah di tawarin kali, kamu nya aja yang nolak terus.'' Ujar Ziell yang baru selesai mengobati luka di tangan Mulan.
Ketiga wanita itu berbincang beberapa hal, dan Mulan pun kini bekerja sebagai asisten pribadi Ziell dan mulai besok Mulan pasti akan mengekori Ziell kemana pun.
β’
β’
β’
β’
β’
__ADS_1
β’
β’
Malam hari ... di sebuah gedung yang sunyi, tapi tidak dengan situasi di dalam gedung yang bising. Dimana di sana terdapat musik yang sangat bising, lampu berkedip, dengan banyak nya orang yang tengah berjoget di tengah podium.
Namun ada satu pria yang sedang termerung sedih. Siapa lagi jika bukan Guntur Arrashid Putra Adiwangsa, yang tengah melampiaskan kekesalanya karna semua rencana untuk mendapatkan Ziell sirna.
Guntur nampak bingung, apa yang harus di lakukan karna masalah ini bukan hanya menyangkut dirinya dan Ziell ... melainkan ada perasaan Om nya yang harus dia jaga, terlebih rasa bersalah karna tanpa sepengetahuan nya dulu ia sudah merebut Melody.
Jika saja dulu ia tidak ketahuan berhubungan dengan Melody, mungkin saja Om Sultan sudah menikah dan hidup bahagia.
''Sudah lah Bro! Cewe masih banyak, ngapain juga sedih hanya mikirin cewe yang udah nggak mau sama kita." Ujar Dave.
''Lo nggak pernah tau rasanya kehilangan orang yang Lo cintai, jujur gue berat dan nggak tau apa yang harus gue lakuin. Berjuang atau mengikhlaskan.''
''Sebenarnya Lu cinta nggak sih?'' tanya Dave, seakan dia tidak percaya jika seorang Guntur benar-benar jatuh cinta.
Guntur menoleh ke arah Dave dan mengangguk, "Gue cinta banget sama Ziell, dan sialnya cinta ini hadir si saat Ziell udah pergi dan gue baru tau jika Ziell adalah cinta masa kecil gue."
Dave hanya diam mendengarkan.
''Gue nyesel udah nyakitin dia, andai gue bisa balikin waktu ... gue mau ubah sikap gue yang udah nyakitin dia, dan sekarang karna perbuatan bodoh gue, gue harus kehilangan cinta masa kecil gue.''
Dave menepuk bahu Guntur. "Ada pepatah mengatakan, jika janur kuning belum melengkung. Itu tandanya kita masih bisa mendapatkan si calon pengantin wanita."
Dave menoleh dan menyunggingkan bibirnya.
''Lantas jika aku berjuang, bagaimana perasaan Om ku? dia juga mencintai Ziell bahkan jika di perhatikan Om Sultan sangat dalam mencintai Ziell. Huufft ... kenapa di antara aku dan Om ku harus mencintai orang yang sama."
''Kenapa Lu harus perduli dengan Om, Lu? pikirin aja perasaan Lu sendiri ... belum tentu juga Om Lu mikirin perasaan Lu.''
Guntur terdiam ... apa benar dia harus egois?
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE ...