Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 49 : Pria menyebalkan.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Ceklek.


Mama Ella membuka ruangan di mana Papah Agam di rawat, ''Ya Allah, Pah.'' Mama Ella langsung berhambur memeluk Papah Agam yang terbaring lemah dan menangis.


Begitu pun dengan Ziell yang melihat Papah nya baik-baik saja, ia bisa menarik nafasnya dan merasa lega karna sang Papah yang dia sayangi tidak terluka terlalu parah.


Mama Ella yang tengah asik mengobrol dengan sang anak, mendapatkan kabar dari seseorang jika Papahnya di rawat di rumah sakit Advent. Mama Ella pun langsung pergi karna merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya.


''Jangan menangis.'' Ucap Papah Agam mengelus punggung istrinya, ia merasa senang karna dia masih bisa memeluk keluarganya.


Papah Agam berpikir jika bukan karna Evan yang menolongnya ... mungkin nasibnya tidak tau seperti apa, bahkan bisa saja terjadi kalau ia tidak akan pernah berkumpul lagi dengan keluarganya.


''Wan Abud! Kau baik-baik saja?''


Papah Agam terkekeh mendengar panggilan istrinya. ''Aku baik-baik saja, apa kau mengkhawatirkan diriku?''


''Tentu saja aku mengkhawatirkan dirimu, kau itu suamiku.'' Mama Ella cemberut, mengusap airmatanya.


Papah Agam melihat putrinya yang masih berdiri, lalu ia merentangkan tangannya untuk memeluk putri kesayangan nya. ''Kau sudah pulang, Nak.''


''Aku merindukan mu, Pah.''


''Papah Juga merindukan mu, Nak.'' Papah Agam mengecup pucuk kepala Ziell.


Mereka bertiga pun mengobrol dan Papah Agam menceritakan apa yang terjadi padanya, lalu Papah Agam menceritakan pertolongan seorang pemuda pada istri dan anaknya.


Bahkan Papah Agam terbilang sangat menyukai kesopanan dan cara Evan berbicara dan memperlakukan dirinya seperti Ayah nya sendiri.


''Papah seperti berhutang nyawa padanya, Mah.'' tutur Papah Agam, ''Jika bukan karna dia, mungkin Papah sudah mati kehabisan darah.''


''Heeeh, jangan berbicara seperti itu ... aku tidak mau kehilangan mu.''

__ADS_1


''Papah ...'' Ziell memeluk Papahnya.


''Lantas kemana pemuda yang menolong mu?'' tanya Mama Ella.


''Dia tadi pamit untuk beribadah sebentar, mungkin sebentar lagi dia datang.''


''Ouhh rajin sekali dia.'' Puji Mama Ella.


Hingga tak berapa lama ... pintu terbuka bersamaan dengan datangnya seorang pemuda yang membuat Ziell membelalakan kedua matanya.


''Asalamualaikum.'' ucap Guntur, masuk dan melihat Ziell dengan tampilan cantik tanpa berkecamata.


Sedangkan Ziell membeku dan menatap pria yang paling dia benci di seumur hidupnya, bahkan kedua tangan Ziell mengepal seakan ingin menghajar pria yang tengah tersenyum sambil menenteng kantung plastik di tangan nya.


Papah Agam tersenyum dan mengenalkan istri dan anaknya pada Guntur. Mama Ella dengan senang hati dan tangan terbuka menerima Guntur dan mengucapkan terima kasih karna sudah menolong suaminya, namun tidak dengan Ziell. Ia enggan mendengar pujian atau mengucapan terima kasih karna sudah menolong Papah nya.


''Sayang ... jangan seperti itu, kenalin ini Evan yang sudah menolong Papah.''


Ziell hanya menatap sekilas Guntur dengan enggan, namun Guntur pura pura tidak kenal Ziell dan mengulurkan tangan nya untuk berkenalan dengan Ziell.


''Sayang.'' panggil Papah Agam lagi, karna Ziell tidak merespon.


Dengan berat hati ... Ziell membalas uluran tangan Guntur dengan malas, dan langsung menarik tangannya saat bersentuhan dengan Guntur yang masih dia kira Evan.


''Apa kita bisa berbicara di luar?'' Ziell menatap Guntur dengan tajam, seolah dia tengah meminta Guntur untuk meng'iyakan permintaan nya.


Guntur menoleh pada Papah Agam, lalu menatap Ziell dan mengangguk. Ziell dengan segera keluar dari ruangan dan menunggu Guntur di taman rumah sakit.


''Benar-Benar pria menyebalkan! Apa maksud dia mendekati keluarga ku.'' Gerutu Ziell dalam hati, lalu mendudukan bokongnya di kursi.


''Ziell.'' Panggil Guntur dari arah belakang.


''Ngapain kamu di kota ini, Hah! dan kenapa kamu bisa menolong ayahku dan mengira dia berhutang nyawa padamu!''


Guntur pura-pura terkejut. ''Apa maksud mu? aku tidak sengaja melihat Ayah mu tergeletak penuh darah di bagian kepalanya dan membawa dia ke rumah sakit. Ini kah balasan atas terimakasih mu padaku? Aku tau aku pernah salah padamu dan melukai hatimu, And I'm sorry for that."

__ADS_1


''Aku tidak alam memaafkan mu!''


''Aku nggak peduli kamu mau memaafkan aku atau tidak, tapi jangan ragukan ketulusan ku saat menolong Ayah mu. Jangan berprasangka buruk terhadapku, Ziell.''


''Everything that comes out of your mouth is a lie, and I won't believe your words anymore." (Semua yang keluar dari mulut mu adalah kebohongan, dan aku tidak akan percaya lagi dengan kata katamu.)


Ziell ingin pergi meninggalkan Guntur, namun tangan Ziell di cekal dan di tarik hingga menubruk dada bidangnya.


''Tunggu.''


''Apa sih!'' Ziell mendorong dada bidang Guntur.


Guntur hanya tersenyum dengan penolakan yang di lakukan Ziell, semakin Ziell menolaknya... semakin Guntur tertarik untuk mendapatkan Ziell versi sekarang.


Guntur merogoh sakunya dan mengeluarkan manik gelang kaki yang terlepas waktu tubrukan dulu, membuat Ziell membelalakan kedua matanya. "Dari mana kamu dapatkan ini?" Ziell mencoba untuk mengambil manik gelang yang terlepas di kakinya.


"Eith. Jawab dulu pertanyaanku, siapa pria yang bersama mu waktu itu? aku sudah tau jika kamu orang yang sama menubrukku di depan toilet, iya 'kan?''


''Bukan urusan mu! Kembalikan padaku.''


''Tidak, sebelum kamu menjawab pertanyaanku.''


Ziell mengepalkan kedua tangannya dengan geram, menunduk untuk mengambil gelang di kakinya dan melemparkan gelang kaki itu ke arah Guntur.


''Simpanlah jika kau mau! Dasar brengseek.'' Ucap Ziell pergi dengan jengkel.


sementara Guntur menyunggingkan senyum aneh di wajahnya. Entah rencana apa yang sedang dia susun, yang jelas itu tidak akan baik-baik saja untuk Ziell.


β€’


β€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


...LIKE.KOMEN.VOTE...

__ADS_1


__ADS_2