
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
''Dave, berhenti di depan.'' pinta Guntur.
''Ngapain?'' tanya Dave, menoleh ke arah Guntur.
''Gue pengen kenciing, nggak tahan.''
''Jorok banget si Lu, tahan napa sebentar lagi nyampe.''
''Ya elah, tinggal berhenti doang juga.''
Mau tak mau Dave menepikan mobilnya, lalu Guntur berlari ke arah kebun teh mencari tempat yang aman untuk dia kenciing. Namun ketika Guntur sudah menurunkan seleting celananya, ia mendengar seseorang minta tolong dengan lirih dari arah semak semak tak jauh dari arahnya.
''To-tolong ...''
Guntur yang penasaran langsung memeriksa ke arah suara, dan terkejut saat netra matanya melihat seseorang terkapar lemah. ''Ya Tuhan, Pak.''
Guntur langsung berlari dan menolong orang itu, ''Anda tidak apa-apa, Pak?''
''Sa-saya ... aahkk.'' Orang itu pingsan.
''Aduuh, pake pingsan segala. Dave ... Dave ...'' Teriak Guntur, memanggil sahabatnya.
Saat Dave, mendengar Guntur berteriak memanggil namanya, ia langsung keluar dari dalam mobil. ''Apaan sih, teriak-teriak Lu! Butuh di cebokin?'' gerutu Dave dengan tidak ikhlas.
''Bantuin gue, Dave! Ada orang pingsan.''
Saat Dave melihat, ia langsung memarahi Guntur karna menolong orang yang tidak dia kenal, namun Guntur bersikeras membawa seseorang yang sedang terluka parah untuk membawanya ke rumah sakit.
Dave dan Guntur pun membawa orang itu ke rumah sakit terdekat, ia mengkesampingkan niatnya untuk berjumpa ke rumah Ziell.
β’
β’
Setibanya di rumah sakit, Guntur cepat-cepat menyuruh para Suster untuk menangani orang yang dia tolong. Sedangkan dirinya dengan cepat pergi ke arah registrasi, agar cepat di tindak lanjuti.
Sedangkan Dave, sejak tadi memperhatikan tingkah sahabatnya yang tiba-tiba saja menjadi baik dan dermawan karna mau membantu orang yang tidak dia kenal.
Hingga Dave menyangka jika Guntur di masuki roh halus penunggu kebun teh, karna Guntur kenciing di mana saja.
__ADS_1
''Ngapain sih Lu repot-repot?'' tanya Dave, saat Guntur duduk di sampingnya.
''Maksud Lu?''
''Yaa ... tumben-tumben nya Lu baik sama orang! Tanpa pamrih lagi.''
Guntur menoleh san tersenyum, ''Kata siapa? Ha ha ha hah, Lu kaya baru kenal gue aja, Nyet.''
Kini giliran Dave yang bingung.
''Lu tau 'kan, jika sahabat lu ini memang baik kalau lagi ada maunya ...''
''Turus?''
''Yang kita tolong itu, Om Agam. Ayah nya Rapunzell.''
''What!'' Dave membelalakan kedua matanya tak percaya, karna mereka tidak perlu repot datang ke rumah karna orang yang di cari sudah datang dengan sendirinya.
''Jadi gini Dave, gue punya ide.''
Guntur membisikan sesuatu pada Dave, sedangkan Dave hanya pendengar dan mengangguk saja saat Guntur membicarakan rencananya.
''Ya udah, gue pulang yaa ... selamat berjuang.'' Dave pamit, setelah mengetahui rencana brilian sahabatnya. Ia tidak perlu khawatir tentang sahabatnya yang akan berusaha mengambil hati calon mertuanya.
Dave mengangguk dan berjalan dengan lunglai, ia mengambil ponsel dari sakunya saat ponselnya berbunyi. Di lihatnya ternyata sang Ibu yang mengirim pesan jika dia harus membawa Nia ke rumah.
Dave mendeesah, rupanya langkah yang dia ambil memperkenalkan Nia pada ibunya salah. Dave takut jika sang Ibu tau kebenaran nya kalau Nia bukanlah pacarnya, melainkan wanita yang dia manfaatkan kepolosan nya karna sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja.
"Kenapa runyam gini sih.'' Gumam Dave masuk ledalam mobil dan pergi dari parkiran rumah sakit.
β’
β’
Sedangkan di sisi lainβ’
''Tante, kalau gitu saya pamit yaa ...'' Pamit Sultan pada Mama Ella.
''Kenapa nggak nginep aja, Nak?''
''Nggak enak Tan, saya menginap di hotel saja ... kebetulan besok saya harus melihat cabang kantor saya yang ada di kota ini.''
Sultan pun menyalami dan berpamitan dengan sopan pada Mama Ella, lalu keluar dari rumah di antar oleh Ziell hingga ke depan mobil.
__ADS_1
Entah mengapa Mama Ella sangat menyukai Sultan, dan berpikir lebih kalau Sultan adalah jodoh Ziell di masa depan. ''Aahh calon mantu idaman." Gumam Mama Ella dalam hati, ia sudah tidak sabar untuk memberitahukan perihal ini dengan sang suami.
β’
''Hati hati yaa Kak, makasih juga mau anterin Ziell.''
''Hanya itu, hanya ucapan terima kasih saja? tidak adakah yang lain selain kata terima kasih?''
''Memangnya Kakak mau ucapan apa selain terima kasih?''
''Cium ke gitu ... sebagai ucapan terima kasih.'' Ucap Sultan menatap Ziell dengan nakal, hingga membuat Ziell salting dengan tatapan itu.
Plaak!
Ziell memukul bahu Sultan, ''Dasar mesum! Halalin dulu baru minta cium.''
''Halalin?'' Sultan terdiam, lalu tersenyum dengan nakal. ''Itu berarti kamu melamarku? meminta aku untuk menikahi mu?''
Ziell membelalakan kedua matanya. ''Heis! Dari mana ada cewe ngelamar cowo. Udah ahhh sana pulang.'' Ziell jadi malu karna perkataan nya sendiri, dan mendorong dada bidang Sultan untuk segera pulang.
''Aku nggak mau pulang! Aku mau masuk dan halalin kamu.'' Sultan pura pura ingin masuk kembali kedalam, namun dengan buru buru Ziell menarik tangan Sultan.
''Kakak ... iiih.''
''Apa iiihhh ...''
''Kakak, aku serius ini.''
''Ya udah Kakak pulang, tapi sebelum Kakak pulang coba tutup mata mu.''
''Buat apa?''
''Tutup aja dulu.'' pinta Sultan.
Ziell pun menuruti perkataan Sultan dan menutup matanya. Sultan tersenyum lalu melihat kanan kiri dan mengecup bibir Ziell dengan kilat dan lari terbirit birit masuk kedalam mobil.
''Kakak ... dasar mesum!''
β’
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1