Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 28 : Tumben Membela.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Hari ini di Restoran sangat ramai pengunjung ... hingga para pelayan dan koki restoran sangat sibuk, termasuk Ziell yang tengah mengantarkan makanan dan minuman untuk pengunjung.


Namun tanpa Ziell sadari, jika ada seorang bapak-bapak yang sedari tadi memperhatikan Ziell dengan detail dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Entah apa yang ada di pikiran bapak-bapak itu, yang jelas hanya dirinya dan Tuhan 'lah yang mengetahuinya.


''Silahkan Pak, di minum.'' Ziell menyodorkan minuman yang di pesan oleh bapak-bapak mesum itu.


Ziell sedikit risih dengan cara orang ini memandangnya, namun Ziell tidak mau ambil pusing dan kembali bekerja secara profesional karna Tuan Dave memiliki tampramen seperti Roller coaster.


Kadang baik, kadang jahat, kadang lembut, kadang kasar. Membuat semua pelayan di sini bingung dengan isi otak dari pemilik restoran ini.


''Ziell, antar minuman ini ke meja nomer 19.''


Ziell memgangguk, lalu mengantarkan pesanan meja nomer 19. Namun belum juga Ziell melangkah, bapak-bapak mesum itu menghadang Ziell dengan senyum mengembang di wajahnya.


''Nama mu Ziell bukan?''


''A-ada apa Pak?''


''Kamu itu cantik, dan lebih cocok jadi model di bandingkan menjadi pelayan di restoran ini. Ummm bagaimana jika kamu ikut ke agensi saya untuk jadi model?''


''Terima kasih Pak, tapi saya tidak berminat jadi model.''


''Uuhh ... sangat di sayangkan sekali kamu menolak tawaran saya, karna saya bisa menjadikan mu bintang terkenal yang bersinar.''


Ziell memutar matanya dengan malas. ''Tidak terima kasih Pak.'' Tolak Ziell untuk ke dua kalinya, lalu pergi meninggalkan bapak-bapak mesum itu.


Namun sangat di sayangkan, jika bapak-bapak mesum itu belum menyerah hingga membuntuti Ziell yang sedang bekerja dan mengiming-imingin Ziell dengan uang dan ketenaran.


Membuat semua pengunjung memperhatikan mereka berdua, termasuk Guntur yang tidak suka dengan paksaan bapak-bapak mesum itu.


Guntur berdiri dari meja kasir nya dan menghampiri pria mesum itu, dan menepuk pundaknya. ''Excuse me, apa ada masalah?'' tanya Guntur, membuat bapak-bapak mesum itu langsung menoleh.


''Jangan ikut campur! Kau hanya seorang pelayan dan kembali saja dengan pekerjaan mu, dasar tak berguna!'' Bentak bapak-bapak mesum itu, membuat Guntur merasa terhina di rendahkan di depan semua orang.


''Coba sekali lagi katakan? saya tidak mendengarnya.'' Ucap Guntur dengan nada tinggi, yang mana membuat semua orang memperhatikan mereka yang akan berdebat.


''Jangan ikut campur! Kau hanya seorang pelayan dan kembali saja dengan pekerjaan mu, dasar tidak berguna!'' bapak-bapak mesum itu mengulang perkataan nya.


Bugh!!

__ADS_1


Guntur langsung memberikan bogem mentah pada pria yang sudah berani menghina dirinya, hingga sang empu terhiyung jatuh menubruk meja pengunjung.


Semua pengunjung terkejut, termasuk Ziell membelalakan kedua matanya tak percaya. ''Evan, apa yang kau lakukan?'' tanya Ziell yang takut, jika Guntur akan di jebloskan ke dalam penjara karna memukuli seseorang.


Guntur menepis tangan Ziell yang akan melerainya, lalu menatap tajam pada pria mesum yang tengah memegangi pipinya yang sakit.


''Bapak kalau ngomong di jaga! Saya tidak akan segan merobek mulut busuk bau tanah seperti anda yang tidak tau diri menggoda seorang gadis di depan umum!'' Bentak Guntur.


Bapak-bapak mesum itu berdiri, menatap tajam Guntur yang sudah berani memululnya. ''Saya bisa laporkan kamu ke polisi!''


''Sana lapor, dasar tua bangka brengsek! Saya punya cctv bahwa anda terlebih dahulu menggoda pelayan di Restoran ini.''


Tak lama Dave datang melerai perdebatan yang panjang, hingga bapak-bapak mesum itu kalah talak dan merasa kalah di sudutkan oleh Dave dan Guntur sudah secara bersamaan.


Bapak-bapak mesum itu mengepalkan kedua tangannya, lalu pergi dengan kesal. ''Awas kalian yaa.'' Ancamnya pada Guntur dan Dave.


''Saya nggak takut!'' teriak Guntur.


Dave menenangkan Guntur, dan meminta maaf pada para pengunjung atas insiden yang tidak enak untuk di saksikan, hingga semua orang kembali pada posisi masing masing.


''Evan.'' Panggil Ziell, saat mereka berdua sudah berada di belakang.


''Kenapa?'' tanya Guntur, tak sengaja menatap bola mata di balik kecamata bulat milik Ziell. Yang mana membuat hatinya bergetar kembali, dengan perasaan yang tiba-tiba hadir untuk kedua kalinya.


Guntur pun mengalihkan pandangan nya ke arah lain, ia tidak mau memiliki perasaan yang lebih pada gadis bermata empat yang bukan tipe gadis idaman nya.


Guntur terdiam sesaat lalu mengangguk, ''Baiklah nanti malam aku jemput ke Kos-kosan mu.''


Ziell tersenyum senang, melingkarkan tangan nya ke tangan Guntur, lalu kepalanya bersender di bahu lengan Guntur dengan hangat.


Dalam hati Ziell, ia sangat beruntung bertemu dengan kekasih sebaik Evan.


''Woy ... kerja! jangan pacaran aja.'' Dave sedikit membentak, hingga Ziell langsung menunduk malu.


β€’


β€’


β€’


β€’


Malam hariβ€’


Guntur datang dengan pespa butut berwarna putih, lalu menunggu Ziell di depan gerbang Kos-kosan. Guntur mengirimkan pesan jika dia sudah berada di depan pada Ziell.

__ADS_1


Lima menit menunggu ... akhirnya Guntur melihat Ziell yang keluar dari kamarnya, memperhatikan penampilan sang kekasih dari atas sampai bawah lalu memejamkan kedua matanya bersamaan dengan helaan nafas panjang.


''Tuhan ... gue udah bosan pura-pura baek.'' Gumam Guntur dalam hati, namun bibir tersenyum saat Ziell berada di depan nya.


''Maaf Yank, udah lama nunggunya?''


''Nggak kok, yuuu berangkat.'' Ajak Guntur menyalakan mesin motornya.


Tanpa mereka sadari ... jika Nia melihat mereka berdua dari jendela sambil memakan popcorn di tangan nya. ''Yaaa ampun, kalau Om Agam tau anak kesayangan nya punya pacar ... apa nggak keluar tuh tanduk Saibaba?'' Gumam Nia masih memperhatikan Ziell dan Guntur dari dalam kamar nya.


''Cepu nggak yaa? kalau aku cepu ... kasian si Ziell. Kalau nggak cepu ... kok rasanya gatal pengen ngaduin tuh anak. Aahhkk, pura-pura nggak tau aja kali yaa ... lagian si Ziell juga udah besar dan tau mana yang baik untuk dirinya sendiri." Ucap Nia menutup gordeng jendelanya, lalu menonton drakor kesukaan nya.


Baru saja Nia duduk santai, ponselnya berbunyi dan tertera nama Mr. nyebelin. Nia menjawab sambungan telpon dari Dave.


[Hallo]


[Ke apartemen ku sekarang!]


[Tapi ini sudah mal--.]


Nia tidak bisa melanjutkan perkataan nya saat sambungan telpon tertutup dengan sepihak, membuat Nia berteriak prustasi dengan tingkah se-enak jidatnya karna Dave selalu menyuruh dirinya.


Nia pun dengan malas beranjak dari duduknya dan pergi menggunakan motor yang dia pinjam untuk pergi ke apartemen Dave.


β€’


β€’


β€’


Sedangkan dui sisi lain, di waktu yang bersamaan. Sultan baru saja turun dari pesawat, kali ini dia tidak menaiki pesawat pribadi milik keluarga besar Arrashid, karna pesawat itu sedang di pakai oleh sang Kakak tertuanya yang bernama Affan untuk perjalanan bisnis ke luar negara.


Sultan berjalan mendorong koper miliknya, dengan satu tangan di masuk'kan kedalam saku yang ternyata tengah memegangi Kalung yang akan dia berikan pada Ziell.


Bruugh!!


Seseorang menubruknya, ''Apa kau tidak memiliki mata!'' Bentak Sultan dengan nada dingin.


''Maafkan saya Pa-- Sultan ...'' Ucap seseorang dengan nada lirih.


Namun Sultan menatapnya dengan nada dingin dan tidak suka, lalu melangkah pergi meninggalkan orang itu yang terdiam mematung.


''Su-Sultan. Tunggu ... Sultan!'' panggilnya.


β€’

__ADS_1


...πŸ’πŸ’πŸ’...


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2