
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
"Dok, bagaimana keadaan keponakan saya?" tanya Sultan pada sang dokter saat sudah memeriksa Guntur yang tiba-tiba saja pingsan.
Sultan membawa Guntur ke rumah sakit di mana Papah Agam di rawat, karna hanya rumah sakit ini yang paling dekat dari lokasi saat mereka beradu mulut tadi.
''Pasien tidak apa-apa, dia hanya telat asupan makanan dan kemungkinan ada suatu dorongan yang membuat dia shock hingga imun nya drop. But it's all fine, tidak perlu khawatir.''
''Ahhh ... Terima kasih banyak, Dok.''
Dokter itu mengangguk lalu pergi, sedangkan Mom Kaleea dan Sultan langsung masuk melihat keadaan Guntur yang sudah sadar dari pingsan nya.
''Guntur.''
"Nak."
Panggil keduanya secara bersamaan namun tidak ada jawaban dari sang empu, membuat Mom Kaleea semakin bersalah pada sang anak. Lalu Mom Kaleea menyuruh Sultan untuk meninggalkan mereka sebentar karna Mom Kaleea akan menjelaskan suatu hal pada Guntur agar kesalahan pahaman ini cepat selesai.
Sultan pun mengangguk dan pergi keluar ruangan, mencari udara segar untuk paru-parunya yang sesak dan tercekik. Sedangkan Mom Kaleea duduk di sisi ranjang Guntur yang masih enggan untuk menatap sang Ibu.
''Maafkan Mommy yang selama ini tidak peka terhadap perasaan mu ... Maafkan Mom juga yang sudah mengabaikan dirimu selama ini, Mom kini tau jika Mom salah padamu.''
Guntur menghela nafasnya, lalu memejamkan kedua matanya.
''Mom, jika di antara aku dan Om Sultan berada di jalan, dan Mom melihat akan ada mobil yang menabrak kami ... kira-kira Mom akan menyelamatkan siapa? aku atau Om Sultan."
Mom Kaleea terdiam lalu berkata, ''Tidak keduanya.''
Guntur langsung menoleh pada Ibunya yang sedang tersenyum menatapnya dengan hangat seperti dulu.
''Kenapa?'' tanya Guntur.
''Karna Mom lebih memilih menyelamatkan kalian berdua, dan membiarkan Mom yang tertabrak mobil di bandingkan kalian yang masih ingin menjalani hidup panjang.'' Ujar Mom Kaleea, lalu menggenggam tangan Guntur dan mengelusnya.
''Mom tidak bisa memilih di antara kalian, karna kalian orang yang Mom sayangi .."
Guntur menghela nafasnya, dan membuang muka ke arah lain.
''Ummm ... apa kamu mau sebuah jawaban dari pertanyaan mu yang dulu?'' tanya Mom Kaleea pada Guntur yang masih marah padanya.
''Pertanyaan apa.'' Cetus Guntur.
''Pertanyaan di mana kamu pernah bertanya pada Mom, mengapa Om Sultan gagal menikah.''
__ADS_1
Guntur menoleh dan menatap ibunya.
''Itu karna Mom. Mommy sengaja membatalkan pernikahan Om mu tepat dua hari sebelum hari H di karnakan suatu alasan.''
''Alasan?'' tanya Guntur penasaran.
''Alasan karna dia berselingkuh di belakang Om mu, dan Mom sendiri yang memergoki Melody tengah berciuman di dalam lift." Ujar Mom Kaleea menatap Guntur yang sedang mengerutkan keningnya.
''Dan ... apa kamu tau apa yang lebih menyakitkan?''
''Apa?''
Mom Kaleea tersenyum lalu ngambil ponsel di dalam tasnya dan membuka galery, ''Ini ... apa kamu mengenalnya?''
Guntur mengambil ponsel sang ibu, lalu melihat layar ponsel dan melihat gadis Cantik yang Guntur kenal.
''Ini kan Lyvia.''
''Yaa ... Lyvia as Melody, calon istri Om mu yang berselingkuh dengan mu.''
Jederrr!!
Guntur shock kedua kalinya untuk hari ini, mengapa banyak sekali kejutan yang membuat jantungnya copot dari tempatnya.
''Mom, kau sedang bercanda!''
''Mom ... ak-aku tidak tau jika Lyvia adalah calon istrinya Om Sultan.''
''See ... bayangkan jika Om mu tau, betapa sakitnya hati dia saat tau kebenaran nya jika keponakan yang dia sayangi telah mengkhianati dirinya.''
Guntur terdiam...
"Mom tidak akan melarangmu untuk menjauhi Ziell, tapi berjuanglah secara sehat. Jika Ziell bisa kamu dapatkan dengan niat yang tulus, percayalah jika semua akan baik-baik saja.''
''Tapi jika Ziell sudah memilih hati lain untuk berlabuh, Mom mohon padamu untuk mundur secara perlahan dan mengikhlaskan semuanya.''
Guntur tak bergeming ... ia terdiam seribu bahasa saat mendengarkan ucapan dari sang ibu yang panjang di kali lebar sama dengan luas.
Guntur merutuki kebodohan nya mengapa ia baru mengetahuinya sekarang...
β’
β’
β’
__ADS_1
β’
Sedangkan Sulan tengah duduk bersama Ziell di taman tak jauh dari ruangan Papah Agam. Mereka tengah membicarakan hubungan mereka yang rumit dan membingungkan.
Sultan tidak menyangka jika semua ini akan terjadi dan serunyam ini ... siapa yang harus dia pilih? perasaannya atau perasaan keponakan yang dia sayangi?
''Kak, apa Kakak akan menyerah begitu saja?'' tanya Ziell dengan raut muka sedih dengan mata yang berkaca-kaca, menggenggam pergelangan tangan Sultan.
Sultan menoleh dan tersenyum hangat, ''Ziell ... Bukan'kah kita sudah berjanji akan berjuang bersama?"
Ziell tersenyum dan menunduk, meneteskan air matanya ... ia tidak sanggup jika kehilangan orang yang benar-benar mencintainya, terlebih dia juga sudah sangat mencintai Sultan.
''Heiii, kenapa menangis? jangan menangis dan membuang air mata mu yang berharga.'' Sultan menghapus air mata yang jatuh tanpa bisa di komando.
Hiks ... Hisk...
''Ziell takut jika Kakak pergi dan meninggalkan Ziell sendirian.'' Ucap Ziell langsung menenggelamkan kepalanya di bahu Sultan dan menangis.
Tanpa mereka berdua sadari jika Papah Agam dan Mama Ella melihat interaksi kedua insan yang masih harus berjuang mendapatkan restu Papah Agam.
''Lihat, apa kau tega memisahkan dua orang yang saling mencintai?'' tanya Mama Ella, saat sang suami hanya diam menatap lurus kedepan melihat anaknya.
''Putrimu sudah menentukan pilihannya, lihat bagaimana dia takut kehilangan orang yang dia cintai ... dan aku yakin jika pilihannya tidak akan salah.''
''Cih! Dari mana kau tau jika pilihan nya tidak salah?'' tanya Papah Agam yang masih enggan merestui Sultan.
''Aku bisa tau dengan hanya melihat wajah Sultan yang tulus saat memandang putri kita. Mata Sultan penuh kelembutan saat menatap Ziell, gestur tubuhnya selalu ingin menjaga dan melindungi Ziell. Pah, apa lagi yang kurang dari seorang Sultan?''
''Umur dia jauh lebih tua di bandingkan Ziell!''
Tuingg!!!
Mama Ella mentoyor kelapa Papah Agam, ''Heii ... dasar Wan Abud tidak sadar diri! Apa kamu sudah hilang ingatan? jika umur mu jauh lebih tua dariku.''
''Tap-''
''Cobalah untuk memberikan Sultan kesempatan, kenali dia dan cobalah untuk berbicara dari hati ke hati ... Mama yakin jika Papah pasti akan menyukai cara berpikir Sultan yang dewasa.''
Papah Agam menghela nafasnya dengan berat. Ia tau jika ini tidak akan mudah, tapi ia juga tidak ingin egois untuk kebahagiaan putrinya.
Papah Agam pun akan mencoba untuk mengenali pria yang di cintai putrinya itu, bahkan mungkin mencoba untuk berdamai dan mau menerima Sultan menjadi menantunya kelak.
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...