Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 62 : Ayo kita berjuang.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Di rumah sakit elit di daerah Bandung, tepatnya di mana Papah Agam di bawa secara mendadak. Guntur dan Mama Ella tengah menunggu dokter yang memeriksa Papah Agam.


Mama Ella sangat khawatir dengan keadaan sang suami, dan bertanya-tanya dalam hatinya ... kenapa Agam mendadak pingsan, padahal Suaminya itu sehat-sehat saja selama ini.


Begitu pun dengan Guntur yang merasa bersalah pada Papah Agam, karna Guntur berpikir jika Papah Agam pingsan karna dirinya.


Guntur menoleh lalu berlutut tepat di depan Mama Ella yang tengah duduk di kursi, ''Mah, maafkan aku." Ucap Guntur, untuk pertama kalinya dia berbicara tulus untuk meminta maaf. Membuat Mama Ella langsung menoleh ke arah Guntur.


''Kenapa harus minta maaf, Nak? ini semua bukan salah mu ... ini sudah kehendak Tuhan. Yang terpenting sekarang kita berdoa supaya Papah nggak kenapa kenapa." Ujar Mama Ella tersenyum dan mengelus pundak Guntur.


Guntur tersenyum, memegang kedua tangan Mama Ella untuk menguatkannya.


Ketika mereka sedang mengobrol, pintu ruangan ugd terbuka bersamaan dengan munculnya sang Dokter. Mama Ella dan Guntur langsung berdiri dan menghampiri Dokter tersebut.


''Dok, bagaimana keadaan suami saya?'' tanya Mama Ella.


Dokter itu tidak langsung menjawab, ia malah tertunduk sedih dan berkata. "Suami anda terkena serangan jantung, untung saja cepat di bawa kemari ... kalau tidak, entah apa yang terjadi."


''Hah, Astagfirullah Ya Tuhan.'' Mama Ella terkejut sampai menutup mulutnya.


Guntur pun bertanya. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Dok?"


''Beliau belum sadarkan diri, kalian boleh masuk dan menemani pasien, jika pasien sudah sadar cepat panggil saya.''


''Baik Dok, terima kasih."


Dokter itu mengangguk dan pergi, sedangkan Mama Ella dan Guntur langsung masuk kedalam untuk melihat keadaan Papah Agam.


''Ya Allah Pah ... kenapa sekarang kamu sakit-sakitan sih, " Ujar Mama Ella yang langsung memeluk suaminya yang masih belum sadarkan diri.


''Pah ... jika kamu sakit sakitan terus, si pisang tanduk made in Arabia mu juga ikutan sakit Pah! Letoy dong, kan nggak enak.'' Ujar si sengklek Cinderella, yang otaknya masih sengklek sebelah.


Namun celetukan Mama Ella membuat Guntur mengerutkan keningnya karna bingung apa yang di ucapkan oleh Mama Ella.


"Hah. Pisang tanduk made in Arabia ... jenis makanan apa itu?" Gumam Guntur dalam hati.


Guntur tidak tau saja prasejarah tentang si pisang tanduk made in Arabia, surotong, dan si kemed, apa lagi nyi iteung. Jika Guntur tau semua itu, apa mungkin adik kecilnya akan di beri nama Asep atau ... Tatang?


Xixixixi ...


β€’β€’β€’β€’β€’

__ADS_1


''Zi-Ziell." Lirih Papah Agam, membuat Guntur dan Mama Ella langsung fokus pada Papah Agam.


Mama Ella pun menyuruh Guntur untuk segera memanggil Dokter, sedangkan dia ingin mengajak Papah Agam berbicara.


''Pah, Alhamdulillah kamu udah sadar? mana yang sakit, Pah.''


''Zi-Ziell.'' Lirihnya lagi, memanggil anak kesayangan nya yang sudah kabur.


''Pah ... heyyy sadar Pah.''


Papah Agam perlahan membuka matanya, lalu melirik ke kiri di mana sang istri berada.


''D-di ma-mana Ziell?''


''Ziell ... Ziell dalam perjalanan pulang.'' Bohong Mama Ella.


Terlihat jika Papah Agam menghela nafasnya secara perlahan, saat tau sang anak sedang dalam perjalanan pulang. Papah Agam begitu shock jika putri satu-satunya yang dia sayangi sudah berani kabur dari rumah, hingga ia tidak bisa mengkontrol emosi yang ada di dalam hatinya.


Sementara Mama Ella langsung keluar saat dokter masuk dan ingin memeriksa lebih lanjut, lalu Mama Ella mengambil ponsel dalam tas dan menelpon seseorang.


β€’


β€’


β€’


β€’


β€’


Ziell tengah duduk di sofa dekat jendela, melihat Pemandangan indah kota Jakarta dari arahnya. Hatinya tiba-tiba saja tidak enak, bimbang, dan Ziell merasa tidak nyaman akan hal yang dia rasakan.


''Sayang'' panggil Sultan yang baru saja selesai menerima panggilan dari Mama Ella, mengabarkan jika Papah Agam masuk ke rumah sakit.


Ziell menoleh dan tersenyum saat Sultan memanggilnya, "Iya Kak.''


Sultan terdiam sejenak, memikirkan kata apa yang harus dia ucapkan dan penjelasan seperti apa agar Ziell tidak panik dan merasa bersalah atas apa yang menimpa Ayahnya.


Sultan melangkah lalu duduk di sisi Ziell, menatap wanita yang dia sayangi dengan dalam ... jari jemari Sultan terlentur membenarkan anak rambut Ziell yang ber-terbangan dan menyelipkan anak rambut itu kebelakang telinga.


''Apa yang sedang kamu pikirkan, hemm?''


Ziell tersenyum saat kedua mata mereka saling beradu pandang, di saat hatinya sedang gelisah, sentuhan dan perhatian Sultan menjadi obat baginya.


''Ziell tidak apa-apa, Kak.''

__ADS_1


Sultan membawa tubuh Ziell kedalam pelukannya, mengecup pucuk kepala Ziell dengan lembut hingga Ziell memejamkan kedua matanya ... menghirup wangi maskulin yang menjadi candu bagi indra penciuman nya.


Sungguh, Ziell benar-benar merasa nyaman berada di dalam pelukan Sultan.


''Apa kamu ingin mendengar sebuah cerita?''


Ziell membuka kedua matanya dan mendongkak. ''Cerita apa?''


Sultan tersenyum, mengecup sekilas bibir Ziell dan mengeratkan pelukannya.


''Di sebuah desa, ada anak kecil yang terlalu di sayang oleh kedua Orangtua nya. Anak kecil itu kian hari kian besar dan merasa terkekang karna kasih sayang kedua Orangtua nya yang terlalu berlebihan, hingga suatu hari anak kecil itu ingin bebas dan berniat untuk kabur.''


Ziell masih diam mendengarkan.


''Hingga niat itu dia lakukan dan kabur entah kemana, membuat kedua Orangtua nya khawatir dan merasa cemas karna anak kesayangan mereka kabur dari rumah.''


''Stop!'' Ziell menegakkan posisinya menjadi duduk dan menatap tajam sang kekasih, ''Itu bukan sebuah cerita! Tapi Kakak sedang membicarakan aku.'' Ziell menyilangkan kedua tangannya di dada.


Sultan terkekeh lalu mengacak rambut Ziell dengan gemas, ''Rupanya kamu peka.''


''Jadi ... apa yang mau Kakak sampaikan? Eee- jangan bilang Kakak menyuruhku untuk pulang! Aku nggak mau pulang.''


''Sayang ...''


''Nggak!'' Ziell membuang wajahnya ke arah lain.


''Heiii, jangan bersikap seperti itu ... Ayo kita pergi ke Bandung dan duduk bertiga dengan Papah mu,'' Ucap Sultan yang membuat Ziell membelalakan kedua matanya.


''Apa Kakak sudah gila! Aku nggak mau Papah mukulin Kakak lagi ... itu terlalu sakit.'' Ujar Ziell dengan nada sedih.


''Apa kamu percaya sama Kakak?''


''Tapi Kak.''


''Semua akan baik-baik saja jika di bicarakan dengan nada dingin. Kakak yakin jika Papah mu akan setuju jika Kakak bicara dan mencoba mendekati Papah mu.''


''Kakak yakin?''


Sultan menggenggam tangan Ziell, kedua mata mereka saling menatap terkunci dengan dalam. ''Ayo kita berjuang mendapatkan restu.''


''Kak.'' Ziell langsung memeluk Sultan, ia sangat terharu dengan cara berpikir Sultan yang sangat dewasa. Ia benar-benar beruntung bisa di cintai oleh seorang Sultan dengan kesederhanaan nya.


β€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2